
Yu membelalakkan matanya saat mengikuti arah pandangan tuannya. Gadis itu berambut putih, kondisinya sangat mengerikan. Wajah gadis itu penuh luka bakar dan darah yang mulai mengering mewarnai tubuhnya.
Raja Wei segera melepaskan ikatan dari tangan gadis itu, dia menutup tubuh gadis itu dengan jubah luarnya dan membawanya keluar dari sana.
Raja Wei mengirimkan sinyal dari kembang api di tangannya. Tidak berapa lama kemudian, pasukan datang dan menangkap semua pengawal yang ada di bangunan itu.
Beberapa pasukan melepaskan ikatan gadis-gadis yang ditahan di sana dan membawa mereka ke tempat pengobatan.
Raja Wei akan membawa gadis itu ke kediaman Zhao. Namun gadis itu menghembuskan napas terakhirnya di dalam gendongan Raja Wei sebelum mereka sampai ke sana.
Raja Wei dan Yu merasa sangat terpukul dengan kematian gadis itu. Gadis yang selalu membantu mereka dan menyelamatkan nyawa banyak orang.
Raja Wei menangis histeris dan menjerit dengan nada pilu. Air mata terlihat mengalir di wajah tampan pemuda itu.
"Maafkan aku! Maafkan semua kesalahanku, aku mohon bangunlah, bukalah mata Anda. Aku berjanji akan mengabulkan semua yang Nona inginkan. Aku akan membiarkan Nona memanggilku bodoh,stupid, atau apapun yang Anda suka. Aku mohon bangunlah!" ucap Raja Wei pada mayat gadis yang ada di pelukannya.
Yu menemani Raja Wei di sampingnya dengan mata yang juga berair.
"Gluduk! Gluduk...!"
Petir menyambar di langit dan suara gemuruh memecah keheningan di tempat itu. Air hujan menyamarkan air mata di wajah kedua pemuda tampan itu.
Mereka membawa mayat gadis itu ke sebuah gunung dan menguburnya di sana. Terlihat wajah sembab kedua pemuda itu. Mereka berlutut memberi penghormatan terakhir yang biasanya dilakukan untuk menghargai orang meninggal.
Raja Wei merasa tidak rela kehilangan gadis itu. Hatinya tercabik-cabik oleh perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Dia mulai meneteskan kembali air matanya, dia menjerit dan menangis dengan keras untuk mengeluarkan amarah di hatinya.
Amarah untuk dirinya sendiri. Amarah untuk dirinya yang terlalu arogan dan angkuh. Amarah untuk dirinya yang belum pernah bersikap baik pada gadis penyelamatnya itu. Dia menyesali semua hal buruk yang pernah dia lakukan pada gadis itu.
Hari mulai gelap, Raja Wei yang menangis seharian terlihat lelah dan tidak bersemangat. Mereka kembali ke kediaman Zhou. Raja Wei menerima laporan dari salah satu pasukannya.
"Yang Mulia, kami sudah menginterogasi pengawal-pengawal di tempat itu. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa pemilik tempat itu bermarga .... " ucapan pengawal terputus. Dia tidak berani menyebut marga itu.
"Katakan!" perintah Raja Wei dengan nada dinginnya.
"Mereka mengatakan bahwa pemiliknya bermarga Zhao." jawab pengawal.
Raja Wei dan Yu terkejut mendengar jawaban dari pengawalnya. Keluarga Zhao yang terkenal dengan sifat setia dan dermawan, sangat sulit dipercaya jika keluarga itu adalah dalang dari kejadian ini.
__ADS_1
"Yu, pergi selidiki hal ini!" perintah Raja Wei.
"Baik, Yang Mulia." jawab Yu.
"Tunggu!" ucap Raja Wei saat Yu akan keluar.
"Lakukan saja besok, istirahatlah malam ini." ucap Raja Wei yang tau bahwa Yu belum tidur dari semalam. Sama seperti dirinya.
"Baik, Yang Mulia." jawab Yu dengan wajah cool nya yang dipelajari dari tuannya.
"Malam ini, akan menjadi malam yang panjang." batin Raja Wei.
Raja Wei merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dia kembali teringat wajah gadis itu. Hati Raja Wei terasa sakit saat membayangkan wajah cantik gadis itu menjadi hancur karena luka bakar yang diterimanya.
"Berapa banyak penderitaan yang dia alami di sana? Berapa besar rasa sakit yang dia hadapi dalam waktu satu malam saja? Berapa kali pukulan cambuk di rasakan oleh tubuhnya yang kurus itu? Berapa banyak rasa sakit dari lukanya hingga mengeluarkan darah sebanyak itu? Seberapa sakit rasanya penderitaan yang dia terima hingga mengambil nyawanya?"
Pertanyaan-pertanyaan dalam batin Raja Wei membuat air mengalir dari kedua ujung matanya.
"Aku akan menemukan pelakunya, aku akan membalas semua penderitaan itu kepada orang yang telah menyiksamu!" batin Raja Wei.
Pemuda itu tertidur lelap setelah lelah menangis seharian. Dalam mimpinya, dia melihat Nona Flo yang di cambuk oleh seorang pemuda. Gadis itu menangis meminta pertolongan.
"Hentikan!" bentak Raja Wei terbangun dari tidurnya.
Yu masuk ke kamar Raja Wei dengan wajah panik karena mendengar teriakan tuannya.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" ucap Yu.
"Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk." jawab Raja Wei sambil membangkitkan tubuhnya dari tempat tidur.
"Yang Mulia..." Yu memanggil dengan pelan seolah ada hal yang sulit disampaikan.
Raja Wei menatapnya kemudian berkata, "Apa yang kamu temukan?"
Yu memberikan sebuah buku kepada Raja Wei dan berkata, "Buku ini saya temukan dari kamar Tuan muda pertama, Zhou Han Ming."
Raja Wei menerima buku itu dan membaca isinya, buku itu mencatat nama-nama gadis dan identitas lengkap mereka. Bahkan makanan kesukaan juga tercatat di situ.
__ADS_1
Raja Wei mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti kenapa orang ini membuat catatan seperti ini. Dia kemudian berkata, "Ikuti pergerakan Zhou Han Min dan laporkan semua yang dia lakukan.
"Baik Yang Mulia." jawab Yu.
"Raja Wei membuka topengnya dan mengganti pakaiannya. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah kain yang juga hitam. Raja Wei menyelidiki kediaman Zhou dan memeriksa keluarga nya secara diam-diam.
Raja Wei masuk ke sebuah kamar yang paling dekat dengan kamarnya. Kamar itu seperti milik seorang pemuda.
"Mungkin ini kamar seorang Tuan muda di kediaman Zhou." batin Raja Wei.
Raja Wei turun dari atap kamar. Dia dikejutkan oleh pemandangan di depannya. Seorang pemuda terikat di samping tempat tidur dalam kondisi mengerikan.
Wajah pemuda itu penuh bekas sayatan pisau, tubuhnya tidak tertutup kain apapun. Dada dan perutnya penuh luka cambuk. Paha dan kakinya banyak bekas luka bakar, terlihat seperti luka dari besi panas yang menempel ke kulit.
Yang paling mengerikan adalah jari-jari pemuda itu tidak ada lagi yang utuh. Jari-jari itu seperti telah tergilas benda berat yang menghancurkan tulang dan kulitnya secara merata.
Daerah terlarang pria itu bahkan sudah hilang entah kemana. Hanya terlihat bekas sayatan dan darah yang mengalir dari sana.
"Siapa orang melakukan hal kejam ini?" batin Raja Wei.
"PRANGGG!!"
"AGHHHHH...!!! TUAN MUDA!!!"
"Pembunuh! Ada pembunuh...!!"
Seorang pelayan membuka pintu, dia menjatuhkan kendi air ditanggannya dan langsung menjerit histeris saat melihat Tuan Muda nya dalam kondisi mengerikan dan seorang pria berpakaian hitam di kamar itu.
Beberapa pengawal berlari ke kamar itu, namun Raja Wei sudah menghilang dari sana. Raja Wei kembali ke kamarnya dan melepaskan bajunya. Dia mengganti pakaiannya dan menyembunyikan baju hitam itu.
"Tok Tok Tok!
Seorang pengawal kediaman Zhou mengetuk pintu dan berkata, "Maaf menganggu istirahat Anda Yang Mulia. Ada seorang pembunuh yang masuk ke sini, kami akan menggeledah ruangan ini untuk memastikan keamanan Yang Mulia!"
"DEG!"
Jantung Raja Wei berdetak cemas.
__ADS_1
"Aku akan dituduh pembunuh jika mereka menemukan baju hitam itu." batin Raja Wei.
^^^BERSAMBUNG...^^^