
Tuan Huang menampar wajah Nyonya Xin, dia sudah tidak tahan mendengar mereka terus menyebut putrinya dengan kata jalang.
"Mulai sekarang kamu,' Xin Hun Jie' bukan lagi istriku! Aku akan menceraikanmu hari ini juga!" ucap Tuan Huang.
"Pelayan, ambilkan kertas dan alat tulis kemari!" ucap Ye Yuan.
Ye Yuan ingin segera melihat ayahnya menceraikan Xin Hun Jie, dia tahu wanita licik itu akan merayu ayahnya lagi jika tidak cerai sekarang.
Perdana Menteri Huang menulis surat cerai untuk Nyonya Xin. Nyonya Xin berlutut dan meminta suaminya untuk membatalkan surat perceraiannya.
"Ayah, jangan ceraikan ibu. Kami harus tinggal di mana jika ayah menceraikan ibu?" mohon Lin Wan dengan bersujud di kaki ayahnya.
"Aku akan mengirim kalian ke vihara di gunung Li'an. Kalian tidak boleh kembali ke kota ini. Hiduplah dengan banyak berdoa di sana agar dosa kalian diampuni!" ucap Tuan Huang.
Perdana Menteri dan Ye Yuan meninggalkan ruangan itu. Tersisa 3 wanita yang sedang berlutut sambil menangis histeris merenungi masa depan mereka.
********
Raja Wei mengantar Se Se pulang dengan kereta kuda. Gadis itu terlihat tidak bersemangat, rasa sedih dan kecewa terbaca jelas di wajahnya.
Raja Wei mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak tangan gadis itu, dia berkata dengan suara lembut, "Ceritakanlah apa yang sudah terjadi padamu di masa lalu. Jangan dipendam terlalu lama, itu akan menjadi penyakit di hatimu."
"Maafkan saya Yang Mulia, saya belum siap menceritakannya." jawab Se Se tanpa melihat wajah Raja Wei.
"Ceritakanlah saat kamu sudah siap!" ucap Raja Wei.
Mereka sampai di kediaman Huang, Ye Yuan kebetulan melihat kereta itu di depan pintu, dia keluar dan menyambut kepulangan adiknya.
Ling Er sudah melaporkan semua kejadian yang menimpa Se Se. Dia bersyukur ada Raja Wei yang menyelamatkan adiknya.
Se Se turun dari kereta dibantu oleh Ye Yuan. Raja Wei masih duduk di dalam kereta.
"Terima Kasih Yang Mulia sudah mengantar saya pulang." ucap Se Se dengan pandangan kosong.
Dia berbalik dan masuk ke dalam kediaman, Ye Yuan ber-Terima Kasih pada Raja Wei dan mengajaknya masuk untuk minum teh. Namun Raja Wei menolaknya, dia masih ada urusan lain.
ISTANA MATAHARI
Istana Putra Mahkota sedang diramaikan oleh banyaknya tabib yang mondar-mandir, mereka sibuk mencari obat penawar untuk Putra Mahkota yang keracunan.
Pelayan yang melayani Han Ze Xing ditanyai satu persatu, racun itu dicampurkan di dalam teh yang terletak di kamarnya.
Raja Wei baru saja mendengar kabar itu, dia segera berangkat ke istana untuk menjenguk keponakannya.
__ADS_1
"Siapa yang bertugas melayani Putra Mahkota hari ini?" tanya Raja Wei.
"Su Lin dan Yu'er Yang Mulia." jawab kasim Li.
"Bawa mereka ke sini!" perintah Raja Wei.
Pengawal membawa dua wanita pelayan ke depan Raja Wei, kedua pelayan itu berlutut dan gemetaran karena takut dengan Raja Wei.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian menaruh racun di teh Putra Mahkota?" ucap Raja Wei.
"Hamba tidak tahu Yang Mulia, bukan hamba yang melakukannya." jawab Su Lin.
"Hamba tidak tahu, hamba tidak pernah menaruh racun apapun." jawab Yu'er.
"Apa ada orang lain yang masuk ke kamar atau menyentuh teh Putra Mahkota?" tanya Raja Wei.
Kedua pelayan itu saling memandang, mereka seperti mengingat sesuatu.
"Yang Mulia, pagi ini hanya Selir Fei yang datang mengunjungi Putra Mahkota. Beliau membawa sup sarang walet untuk Putra Mahkota." jelas Yu'er.
"Baiklah, kalian akan dipindahkan ke tempat lain untuk sementara waktu. Jangan keluar dari tempat itu atau nyawa kalian akan melayang." ucap Raja Wei.
"Hamba mengerti Yang Mulia." ucap kedua pelayan.
Raja Wei masuk ke kamar Han Ze Xing untuk melihat kondisinya, wajahnya sangat pucat, kaki dan tangannya dingin seperti mayat.
"Uhukkk uhukkk....!"
Han Ze Xing tiba-tiba muntah darah, darah yang hitam dalam jumlah banyak. Raja Wei panik melihat kondisinya. Kaisar dan Pangeran 4 juga panik melihat Putra Mahkota muntah darah.
Sementara Ibu Suri dan Selir Fei diam-diam tersenyum, senang dengan kondisi Han Ze Xing yang tidak tertolong.
"Seandainya ada Nona berambut putih itu, Xing pasti bisa diselamatkan." ucap Kaisar sambil menghela napas.
"Benar, jika ada gadis itu, dia pasti punya penawar untuk Ze Xing." batin Raja Wei.
"Yang Mulia!" jerit seorang tabib.
Kaisar, Raja Wei dan semua yang ada di kamar itu menoleh ke arah Han Ze Xing. Pemuda itu kejang-kejang dan tak lama kemudian berhenti bernapas.
"Yang Mulia, Putra Mahkota sudah meninggal." ucap Kepala Tabib.
Semua pelayan dan tabib berlutut memberi penghormatan kepada Han Ze Xing. Kaisar dan Raja Wei terlihat sangat terpukul, air mata mengalir di wajah mereka.
__ADS_1
"Minggir!" ucap seorang gadis dari depan pintu kamar Han Ze Xing.
"Putri Huang, anda tidak boleh masuk ke sini tanpa izin." ucap pengawal.
"Brakkk!"
Gadis itu mendorong pengawal hingga pintu terbuka, pengawal terjatuh dan membanting pintu di belakangnya. Semua orang menatap ke arah gadis itu.
"Putri Huang!" gumam Pangeran 4.
Se Se berlari ke tempat tidur, dia memeriksa kondisi Putra Mahkota. Beberapa orang berusaha menghentikannya.
"Brukkk! Brakkk!
"Keluar! Aku akan menyelamatkan nyawa Putra Mahkota!" bentak Se Se sambil melempar dua pengawal yang menggenggam tangannya.
Raja Wei tersadar dari kesedihannya, dia menarik kedua pengawal itu dan memerintahkan semua orang keluar.
"Bagaimana bisa anda percaya pada gadis kecil sepertinya, Raja Wei?" ucap Selir Fei.
"Putra Mahkota sudah meninggal, bagaimana mungkin bisa selamat?" ucap Ibu Suri.
"KELUAR!" bentak Se Se dengan suara keras.
Raja Wei menarik pedangnya, dia berkata sambil mengancam, "Keluar sekarang, atau leher kalian akan terpisah dari tubuh!"
"Berani sekali anda mengarahkan pedang pada kami!" ucap Ibu Suri.
"Prangg!!"
Se Se melemparkan sebuah mangkuk yang berisi obat ke dinding kamar.
"Akhhhh...."
Selir Fei kesakitan karena pecahan mangkuk itu mengenai lengannya.
"KELUAR SEKARANG JUGA!" bentak Se Se dengan suara yang makin mengeras.
Gadis itu tahu apa yang dipikirkan oleh Selir Fei dan Ibu Suri. Mereka akan membunuh Han Ze Xing bagaimana pun caranya. Mereka sengaja menghalanginya mengobati pemuda itu.
Kaisar menuruti perintah Raja Wei karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia terlalu sedih dengan kematian Han Ze Xing.
Melihat tindakan Se Se yang terlalu berani, dia menganggap bahwa gadis itu pasti punya cara untuk menyelamatkan putranya. Toh Han Ze Xing sudah dinyatakan meninggal, tidak ada salahnya membiarkan gadis itu mencoba hal yang dia yakini bisa menyelamatkan nyawa Han Ze Xing.
__ADS_1
"Semuanya, keluarlah!" perintah Kaisar.
^^^BERSAMBUNG...^^^