
"Karena saya seorang gadis, maka saya bisa membantu Anda Yang Mulia!" ucap Se Se datar. Dia lelah bertengkar dengan pemuda itu.
"Maksudnya, Nona ingin menjadi umpan?" tanya Yu.
"Ya, aku akan menjadi umpan untuk memancing orang-orang itu." jawab Se Se dengan yakin.
"Tapi itu terlalu berbahaya Nona Flo, Anda tidak harus melakukan hal itu. Saya akan mencari gadis lain untuk menjadi umpannya." bujuk Yu.
Yu menatap Raja Wei dengan harapan Raja Wei akan membantunya membujuk Nona Flo. Namun Raja Wei hanya diam, dia tidak berkata apapun.
Se Se melihat Raja Wei yang tidak berkomentar, dia berkata "Yang Mulia, saya akan menjadi umpannya!"
"Terserah!" jawab Raja Wei tanpa melihat gadis itu.
Yu mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi melihat sikap majikannya.
Se Se dan Yu mengganti pakaian yang sederhana untuk menyamar sebagai rakyat biasa. Pakaian itu di pinjam dari pelayan kediaman Zhou. Raja Wei tidak ikut karena dia tidak bisa melepas topengnya di hadapan Se Se.
"Aku akan menunggu pengawal lain di sini." ucap Raja Wei.
Se Se dan Yu pergi ke sebuah restoran yang di anggap mencurigakan. Banyak kasus gadis hilang saat pergi ke tempat itu. Mereka duduk terpisah seolah tidak saling mengenal.
Yu memesan teh hangat dan beberapa hidangan, Se Se memesan arak untuk menarik perhatian ikan yang akan dipancingnya.
Pelayan memberi tanda pada seorang pria yang berdiri di kasir dengan mengedipkan matanya, seolah memberi tau bahwa ada target baru.
"Nona, silakan ikut saya ke dalam. Arak yang anda pesan hari ini hanya tersedia untuk tamu di ruangan pribadi." ucap pelayan pria.
"Baik, tolong tunjukkan jalannya." jawab Se Se.
Yu merasa khawatir melihat Nona itu mengikuti pelayan, dia yakin pelayan itu berniat jahat.
"Apa yang harus ku lakukan? Jika aku mengikutinya, maka kami akan ketahuan." batin Yu.
Se Se seperti bisa membaca pikiran Yu, dia menatap Yu dan menggeleng dengan pelan. Memberi tanda pada Yu untuk tidak mengikutinya.
Yu menuruti perintah Se se, dia berpura-pura menikmati makanannya dan memperhatikan wajah pelayan yang membawa gadis itu.
Se Se di bawa ke sebuah ruangan yang berisi banyak guci. Guci-guci itu sangat besar, bahkan manusia bisa masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Se Se mengerutkan dahinya dan bertanya dalam batin, "Apa isi guci-guci ini?"
Pelayan membuka sebuah pintu yang ada di balik tirai pembatas dan mempersilahkan Se Se masuk.
Kali ini dia melihat ruangan mewah yang berisi barang antik. Di sebelah kanan ruangan itu tersusun rapi buku-buku yang entah apa isinya.
Di sebelah kiri terdapat sebuah lemari dengan banyak ruangan tanpa penutup. Ruangan di lemari itu dihiasi oleh barang-barang antik yang terlihat mahal.
Ada meja dan beberapa kursi di ujung ruangan, seperti meja untuk menyambut tamu.
"Nona, silakan tunggu di sini!" ucap pelayan itu dan kemudian meninggalkan Se Se sendirian.
Se Se duduk di sebuah kursi yang berada paling ujung, dia menunggu pelayan itu sambil memperhatikan isi ruangan.
"Bau apa ini? Seperti bau dupa, tapi tidak ada dupa yang terlihat di sini!" batin Se Se.
Dia memperhatikan barang antik yang tersusun rapi di lemari, namun tidak menemukan asal dari bau dupa.
"Apakah ada ruangan lain di sini?" tanyanya dalam batin.
Se Se memperhatikan rak buku yang ada di samping dinding. Dia mendekati rak itu, tercium bau dupa yang lebih kuat dari sana.
Menyadari ada suara langkah kaki, Se Se kembali duduk di kursi. Pelayan mengantarkan arak yang dia pesan.
"Terima Kasih." jawab Se Se.
Pelayan keluar dari ruangan, Se Se kembali mendekati rak buku dan mencoba menggeser rak itu.
Berbagai cara dia coba untuk menggeser rak buku itu namun tidak berhasil. Dia memikirkan cara aneh yang biasanya ada di drama-drama televisi, yaitu menemukan benda yang terhubung sebagai kunci pintu masuk ruang rahasia.
Dia mulai mencoba mengangkat guci yang pertama. Guci itu terlihat normal, tidak ada yang aneh karena guci bisa di angkat dengan mudah. Kemudian melanjutkan ke guci yang kedua, masi tetap bisa di angkat.
Se Se mengangkat semua benda antik itu namun tidak ada yang aneh pada benda-benda itu.
"Apa mungkin terhubung di buku?" ucapnya dalam batin.
Dia mulai menarik buku-buku dari rak. Mulai dari atas hingga ke bawah.
"SWOSHHH...!" rak buku itu bergeser, terlihat seperti pintu yang terbuka saat Se Se menarik buku terakhir di bagian ujung rak.
__ADS_1
"Wow, ternyata hal tidak masuk akal memang ada di dunia ini!" batin Se Se.
Dia masuk ke dalam ruangan gelap itu. Ruangan itu seperti lorong yang menuju ke tempat lain. Se Se menelusuri lorong hingga terlihat cahaya di ujung lorong.
"Akhh!!"
Se Se mengeluarkan rasa kagetnya, dia berteriak kecil sambil menutup bibirnya dengan tangan.
Gadis itu melangkah mundur karena terkejut dan kelihatan panik saat melihat pemandangan di depannya.
Beberapa gadis terikat di sana dengan kondisi mengenaskan. Gadis-gadis itu terikat di kayu salib yang berjejeran dan saling berbaris satu sama lain.
Wajah mereka penuh luka sayatan dan ada beberapa di antara mereka yang memiliki luka bakar di dahi dengan tulisan budak.
Tubuh mereka penuh luka cambuk dengan kondisi setengah telanjang. Pakaian mereka seperti kain tipis yang hanya menutupi bagian luar kulit, bahkan bekas cambuk dan luka bakar di tubuh mereka masih terlihat jelas dari balik kain itu.
Kain yang awalnya berwarna putih itu sudah terlihat berwarna merah karena darah yang mengalir dari luka cambukan menjadi pewarna alami dikain.
Se Se menatap mereka dengan penuh rasa iba yang tidak dapat dilukiskan. Matanya mulai berkaca-kaca saat memikirkan apa yang sudah dialami oleh gadis-gadis muda itu.
Dia mengeluarkan belatinya, ingin segera melepaskan ikatan mereka, namun tangannya terhenti saat akan memotong tali yang mengikat pergelangan tangan gadis di depannya.
"Aku tidak akan sanggup membawa mereka semua keluar dari sini. Mereka semua akan mati jika aku bertindak gegabah. Bahkan aku akan berada dalam bahaya jika tertangkap di tempat ini. Aku harus memikirkan rencana lain!" batin Se Se.
Dia akan keluar dari tempat itu, namun saat mendengar seorang gadis bergumam, dia berbalik dan mencari asal suara.
"Zhou Han Lu... aku akan mengutukmu!" gumam gadis itu berulang, dengan suara yang lemah.
"Zhou Han Lu? Keluarga Zhou?" batin Se Se.
Se Se menatap gadis itu dengan wajah tak percaya, seakan mendengar hal yang mustahil. Gadis itu menyebut nama dari keturunan Jenderal Zhou.
Se Se berjalan keluar dan menutup kembali pintu rahasia itu. Gadis itu duduk dan berpura-pura menikmati minumannya, meskipun pikirannya sedang melayang entah kemana.
Seorang pelayan masuk dengan membawa beberapa manisan.
"Manisan ini di siapkan khusus untuk Nona, silakan dinikmati!" ucap pelayan itu sambil meletakkan beberapa piring manisan ke atas meja.
Pelayan itu berada di samping Se Se yang sedang duduk melamun.
__ADS_1
"Brukk!"
^^^BERSAMBUNG...^^^