
Dalam perjalanan kembali ke kediaman, Se Se menyadari ada seseorang yang mengikutinya. Di depannya ada sebuah lorong kecil, dia masuk ke lorong itu dan berdiri disamping tembok menunggu Yu mengikutinya masuk.
"Brakkk!!!"
Se Se memukulnya dengan tongkat yang dia ambil dari ruang dimensi. Pria itu terjatuh, Se Se terkejut saat mengetahui bahwa orang yang mengikutinya adalah pengawal Raja Wei.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Se Se pada Yu yang baru berdiri.
"Maaf Nona, saya hanya mengikuti perintah!" jawab Yu sambil menundukkan kepalanya.
"Pergilah, jangan mengikutiku!" perintah Se Se.
Yu memberi hormat dan kemudian berbalik berjalan pergi.
"Tunggu!" ucap Se Se.
Dia mengambil sesuatu dari dalam lengan bajunya dan memberikan benda itu kepada Yu.
"Pakai obat ini jika tubuhmu memar akibat pukulan tadi!" ucap Se Se sambil menyerahkan sebotol obat kepada Yu.
Yu hanya berdiri melihat obat yang ada ditangan Se Se. Dia merasa ragu untuk menerimanya.
"Cepat ambil!" ucap Se Se kesal menunggu Yu yang tidak menerima pemberiannya.
Yu mengambilnya botol obat itu sambil menundukkan kepalanya.
"Terima kasih Nona!" ucap Yu.
Se Se melanjutkan perjalanannya. Saat melangkah keluar dari lorong, dia berbalik menatap tempat Yu berdiri tadi dan dengan nada tinggi dia berkata, "Jangan berpikir untuk mengikutiku!"
Yu tersenyum setelah bayangan gadis itu hilang. Dia berkata dalam hati, "Terima kasih Nona Florence."
Yu merasa terharu dengan sikap Nona itu. Belum pernah ada orang yang perduli padanya. Selama ini, dia hanya mengandalkan diri sendiri. Bila terluka, dia akan membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya tanpa diobati.
KEDIAMAN HUANG
Se Se baru saja masuk ke kamarnya. Dia mengeluarkan dan mengumpulkan obat Aspirin di sebuah kotak kayu.
"Untung saja obat di ruang dimensiku selalu terisi ulang secara cepat." batinnya.
Hari menjelang malam, dia teringat isi surat yang memintanya untuk pergi ke jembatan.
__ADS_1
"Akhhh... hampir saja aku melupakan hal itu!" gumamnya.
Se Se memutar kembali cincin nya dan mengambil sebuah kain cadar untuk menutupi wajahnya. Wajah cantiknya akan mengundang perhatian banyak orang. Akan sangat repot untuk mengusir pandangan mereka. Jadi Se Se memilih untuk menyembunyikan wajah itu.
Sesampainya dijembatan, dia melihat seorang pria yang tidak asing baginya.
"Ou Yang Chien", gumamnya dengan suara kecil.
Ou Yang Chien menatap ke gadis itu, dia tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya memberi salam.
Se Se berjalan mendekati pria itu dan bertanya padanya, "Apakah Tuan yang mengirimkan surat kepada saya tadi siang?"
"Benar Nona Florence. Saya yang sudah mengirimkan surat itu!" jawab Ou Yang Chien.
"Apa tujuan anda?" tanya Se Se menatapnya dengan pandangan dingin.
"Saya hanya ingin mengenal Nona Florence yang terkenal dengan ilmu pengobatannya." jawab Ou Yang Chien sambil tersenyum.
"Apa maksud surat dari anda? Anda mengetahui identitas saya?" tanya Se Se tanpa basa basi lagi.
Ou Yang Chien mendekat ke arahnya dan berbisik, "Saya tau bahwa Nona memiliki identitas lain. Nona Huang Se Se atau perlukah saya memanggil Nona dengan sebutan Putri Huang?"
"DEG!"
"Apa anda sekarang ingin mengancamku?" tanya Se Se yang meninggikan suaranya.
"Tenanglah Nona Florence, saya akan menyimpan rahasia anda." jawab Ou Yang Chien memundurkan langkahnya dan menatap Se Se.
"Katakan, apa syaratnya?" tanya Se Se dengan penuh kecurigaan.
"Bertunangan dengan ku." ujar Ou Yang Chien berwajah serius.
"Apa anda sedang bercanda?" tanya Se Se yang terlihat mulai kesal.
Ou Yang Chien menatap mata Se Se, dia mencondongkan tubuhnya kedepan. Wajahnya tepat di depan wajah gadis itu.
"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" ucapnya tegas dengan nada dan wajah yang serius tanpa senyuman.
"Akhhh... kenapa aku selalu bertemu dengan pria gila?" tanya Se Se dalam hatinya.
Se Se memegang dan memijit pelan keningnya. Beberapa detik kemudian dia menurunkan tangannya dan melayangkan pandangannya ke Ou Yang Chien. Dia bertanya, "Apa alasannya?"
__ADS_1
Ou Yang Chien menyembunyikan wajah seriusnya dengan senyuman tipis. Dia menegakkan kembali tubuhnya dan menjawab, "Karena aku memerlukan status bertunangan untuk mengusir gadis-gadis menjijikkan yang berkeliling di sekitarku."
"Anda bisa mencari gadis lain jika hanya memerlukan status!" ucap Se Se yang semakin curiga dengan pria itu. "Katakan, apa alasan anda sebenarnya?"
"Sepertinya Nona salah paham tentang sesuatu disini! Saya bukan kemari untuk bernegosisasi dengan nona, tapi sedang mengajukan syarat agar rahasia nona tetap terjaga!" ucap pria yang mulai menunjukkan sifat dominannya.
Wajah Se Se berubah merah padam. Amarahnya mulai terusik mendengar ancaman dari Ou Yang Chien. Dia mengepalkan tangannya. "Identitas siapa yang harus saya gunakan untuk bertunangan dengan anda?"
"Tentu saja dengan identitas asli anda, Putri Huang!" jawab Ou Yang Chien tersenyum puas.
"Kapan kita harus bertunangan?" tanya Se Se dengan wajah datarnya.
"Dalam minggu ini, saya akan berkunjung ke kediaman Huang." jawab Ou Yang Chien tersenyum palsu.
Se Se menatap pria itu dengan wajah masamnya yang memerah. "Pria ini benar-benar tidak waras?" pikirnya dalam hati.
Dia kemudian pergi meninggalkan pria itu. Ou Yang Chien memudarkan senyumannya. Wajah dinginnya seperti memancarkan dendam yang membara dihati pemuda itu.
Sampai di kediaman, Se Se merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur. Dia merasa sangat tertekan dan tidak tau harus berbuat apa.
"Apa sebaiknya aku kabur saja dari sini?" pikirnya dalam hati.
Tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus.
zZzZz...
Seorang pemuda bertopeng masuk ke kamarnya dengan langkah perlahan-lahan. Pemuda itu mendekati tempat tidur dan menyibakkan kain tirainya. Dia tersenyum melihat gadis kecil itu tertidur lelap tanpa menyadari kehadirannya.
Pemuda itu membenarkan posisi selimut Se Se. Dia membelai lembut wajah gadis itu dan mengecup keningnya. Tanpa sengaja matanya melihat sebuah kotak kayu di samping tempat tidur.
"Apa isi di dalam kotak kayu ini?" tanya pemuda itu dalam hati.
Dia berjalan mendekati kotak kayu itu dan membukanya. Dia mengerutkan alisnya kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat tidur.
Banyak pertanyaan yang muncul dihatinya."Dari mana asal obat sebanyak ini? Untuk apa dia mengumpulkan obat ini? Obat apa ini sebenarnya?"
Pemuda itu menutup kembali kotak didepannya dan berjalan ke tempat tidur. Dia menatap wajah Se Se yang terlelap. Wajahnya terlihat sedih dan terlihat genangan air di ujung matanya.
"Apa yang terjadi dalam mimpinya? Mengapa dia terlihat sangat sedih dan menderita? Dia bahkan menangis dalam tidurnya. Andai aku bisa membantu meringankan penderitaanmu, aku akan dengan senang hati melakukannya!"
Pemuda itu menghapus air mata di wajah Se Se, dia membelai rambutnya yang halus dan menyibaknya ke samping.
__ADS_1
Dia mengecup bibir gadis itu dan pergi dari sana setelah membisikkan kata-kata ke telinganya. "Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sisimu!"
Sementara itu, sang gadis masih berada di alam mimpinya. Dia bermimpi buruk tentang masa lalunya yang tidak terlupakan. Masa lalu yang selalu menghantuinya sampai saat ini.