The Princess Story

The Princess Story
Episode 235


__ADS_3

Gerbang utama kediaman Huang terbuka lebar menanti datangnya para tamu undangan. Satu persatu tamu mulai berdatangan dengan membawa bingkisan hadiah yang di angkut oleh pelayan masing masing.


Kepala pelayan memeriksa semua persiapan pesta, mulai dari dekorasi hingga menu makanan yang akan di sajikan kepada para tamu.


Perdana Menteri Huang masih sibuk memeriksa laporan yang bertumpuk di atas meja kerja. Dengan serius dia membaca satu persatu laporan yang dia terima dari ajudannya.


Beliau memang sosok yang sangat mementingkan pekerjaan, Bahkan di hari ulang tahunnya ia masih sempat memikirkan pekerjaan yang mungkin untuk sebagian orang akan dikesampingan dulu.


Ye Yuan menemui kepala pelayan untuk memastikan semua keperluan pesta telah di siapkan dengan sempurna tanpa ada kesalahan. Setelah ia yakin semuanya aman dan terkendali, Ye Yuan menuju ke ruang kerja ayahnya.


"Tuan Perdana Menteri Yang Terhormat, sudah saatnya anda menjamu para tamu undangan." goda Ye Yuan yang baru saja masuk ke ruang kerja Perdana Menteri Huang.


"Ternyata sudah waktunya ya? Sepertinya aku terlalu serius bekerja hingga lupa waktu." ucap Perdana Menteri yang mulai membereskan dokumen dokumen.


"Mari pergi bersama!" ajak Ye Yuan setelah Perdana Menteri Huang selesai menata meja kembali rapi.


"Apakah adikmu sudah datang?" tanya Perdana Menteri Huang sambil berjalan ke ruang pesta.


"Belum, saya belum melihat Se Se, mungkin dia sedikit terlambat." jawab Ye Yuan.


"Ayah sangat merindukannya." gumam Perdana Menteri Huang.


"Ayah... saya juga sangat merindukan meimei." ucap Ye Yuan setelah berpikir sejenak.


"Entah bagaimana kabarnya sekarang, rasanya sudah lama sekali kami tidak bertemu."


Ruangan yang dipenuhi oleh para tamu undangan mendadak hening ketika Perdana Menteri tiba di sana. Tanpa banyak basa basi, pesta di mulai begitu saja oleh tuan rumah.


Hidangan disajikan dalam keadaan hangat di atas meja, penari dan penyanyi bergiliran menampilkan bakat mereka. Sementara itu tamu yang paling di tunggu masih belum kelihatan di sana.


"Ye Yuan, apakah kamu yakin Se Se akan datang?" tanya Perdana Menteri dengan raut wajah yang terlihat kecewa.


"Ya, meimei sudah mengirimkan surat balasan jika ia akan datang ke acara ini." jawab Ye Yuan.


Perasaan Ye Yuan mendadak menjadi cemas, tidak biasanya Se Se datang telat tanpa pemberitahuan sebelumnya.


"Aku harap ini hanya perasaanku saja." gumam Ye Yuan.


Perdana Menteri Huang dan Ye Yuan terus menunggu kehadiran gadis kecil mereka, namun gadis itu masih belum kelihatan meskipun acara sudah selesai.


Karena merasa cemas dan gelisah, tanpa pikir panjang Ye Yuan mengambil seekor kuda dari kandang. Dengan cepat ia lajukan kudanya menuju kediaman Raja Wei.


Setelah tiba di kediaman adiknya, Ye Yuan mendapat informasi bahwa Se Se berangkat ke pesta dengan kereta kuda bersama dua pengawal dan satu kusir.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Raja Wei?" tanya Ye Yuan dengan wajah cemas.


"Saat akan berangkat, ada panggilan dari istana agar Yang Mulia segera menemui Putra Mahkota. Jadi Permaisuri berangkat tanpa di temani oleh Yang Mulia." jawab salah satu pengawal yang bertugas di pintu gerbang.


Mendengar berita itu, rasa cemas Ye Yuan semakin menjadi-jadi. "Mungkinkah terjadi sesuatu saat di perjalanan?" gumam Ye Yuan.


Sementara Ye Yuan sibuk dengan pikirannya yang kalut, terdengar suara langkah kuda mendekati arahnya. Kuda itu berhenti tepat di depannya.


"Apa yang membawa anda ke tempat ini?" tanya Raja Wei yang baru saja melompat turun dari kudanya.


Ye Yuan segera menatap Raja Wei, rasa cemas dan ketakutan terlihat di wajah Ye Yuan. Tangan yang sedang menarik tali kekang kuda sudah mulai terlihat gemetaran.


"Kakak, ada apa denganmu?" tanya Raja Wei lagi setelah melihat reaksi Ye Yuan yang dinilai bermasalah di matanya.


"Se Se...!" ucap Ye Yuan terpenggal.


Bola mata Raja Wei membesar begitu mendengar nama Se Se keluar dari mulutnya. Tanpa sadar ia memegang kedua bahu Ye Yuan kemudian bertanya dengan nada gelisah.


"Ada apa dengan Se Se?"


"Gadis kecil ku... Dia tidak menghadiri acara pesta ulang tahun ayah." ucap Ye Yuan terbata bata dengan pandangan mata yang kebingungan.


Raja Wei memundurkan langkahnya ke belakang, "A...Apa maksud anda? Se Se belum tiba di kediaman Huang?"


Mungkinkah dia mengalami musibah?


Mungkinkah dia bertemu dengan bandit jalanan?


Mungkinkah dia di culik oleh seseorang?


Mungkinkah...


Mungkinkah...


Raja Wei menggoncang kuat kedua bahu Ye Yuan, pria itu segera tersadar kembali melihat kenyataan yang kini harus dia hadapi.


"Tenanglah Kak! Kita harus mencari Se Se secepat mungkin!" ucap Raja Wei.


"Ya, aku akan mencarinya sekarang!" jawab Ye Yuan.


Raja Wei membagi anggota Pasukan Elang menjadi tiga grup. Masing masing grup akan mencari Se Se di lokasi yang berbeda.


"Segera laporkan dengan cepat jika kalian menemukan petunjuk sekecil apapun!" perintah Raja Wei.

__ADS_1


Yu berdiri diam menatap atasannya yang sedang memberi perintah. Dalam hati dia bertanya, "Apakah mungkin terjadi sesuatu pada Permaisuri di saat dua pasukan Elang yang paling kuat mengawalnya?"


"Yu, kamu akan memimpin kelompok dua!" perintah Raja Wei.


"Saya menolak!" jawab Yu tegas.


Raja Wei menatap Yu.


"Saya akan berada di sisi Yang Mulia apapun yang terjadi!" ucap Yu.


Tatapan Yu terlihat yakin dengan keputusannya, ia tidak akan menuruti perintah Raja Wei untuk berpisah dengannya dalam pencarian.


Raja Wei menghela napas, ia kemudian berkata, "Yu, ini bukanlah permainan dimana kamu diperbolehkan untuk memilih, jangan keras kepala dan ikuti saja apa yang sudah aku perintahkan!"


"Saya tau ini bukan permainan, oleh sebab itu saya akan selalu menjadi pelindung bagi anda Yang Mulia." jawab Yu dengan wajah serius.


"Yu!" bentak Raja Wei yang mulai kesal.


"Maafkan saya Yang Mulia, saya sudah berjanji kepada Permaisuri untuk selalu berada di samping Yang Mulia. Permaisuri telah menyadarkan saya saat kejadian terakhir kali. Jadi, saya tidak akan membiarkan Yang Mulia berjuang sendirian tanpa saya di samping anda!" jelas Yu tanpa rasa takut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gelap, di mana ini? Apa aku sudah mati lagi?


"Tik...!"


"Tik...!"


"Tik...!"


Suara tetesan air?


Bukankah aku sedang dalam perjalanan ke rumah ayah? Benar, tadi kereta kuda di hadang oleh pembunuh.


Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, tapi melihat serangan mereka yang selalu berpusat pada tempatku berada, sepertinya akulah yang menjadi target mereka.


Lalu... Siapa sebenarnya orang yang ingin membunuhku?


Kenapa dia ingin membunuhku?


Terlalu gelap, aku tidak bisa melihat apapun yang ada di sini. Kepalaku sakit, tangan kananku juga terasa sakit. Aku bahkan tidak punya tenaga yang tersisa untuk menggerakkan jari. Apa aku akan mati di sini?


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2