The Princess Story

The Princess Story
Kenangan yang terhapus


__ADS_3

Huo Feng menatap marah ke arah Se Se, "Bukankah kau yang meminta untuk di ajari cara menggunakan kekuatan suci! Kenapa kau malah memukulku!" keluhnya dengan suara jeritan.


"Aku memintamu untuk mengajariku, kenapa kau malah menciumku! Dasar burung mesum, ku pukul kau sampai mati!" bentak Se Se dengan suara yang tak kalah kerasnya.


Pukulan bertubi-tubi di layangkan ke arah Huo Feng, manusia burung itu langsung berteriak dan berkata, "Hentikan, sakit! Hey, Majikan! ini cara kami bangsa phoenix untuk mengajarkan sesuatu."


Se Se berhenti memukul Huo Feng, dia menatap wajah yang seakan tak bersalah milik manusia burung itu. "Apa yang kau katakan? Cara kalian mengajari sesuatu itu dengan ciuman?" tanya Se Se memastikan.


Huo Feng mengangguk dengan cepat, dia lalu melanjutkan ucapannya. "Kami hanya perlu bersentuhan paruh untuk saling mengajarkan sesuatu. Aku lupa jika Majikan tidak punya paruh."


"Awas saja jika kau berani berbohong! Akan kuhancurkan paruhmu itu!" ancam Se Se dengan wajah kesal.


Huo Feng menunduk, dia lalu berpikir cara untuk mengajarkan Se Se tanpa bersentuhan paruh.


"Majikan, aku tau cara lain untuk mengajari anda memakai kekuatan suci!" ucap Huo Feng.


"Cara apa?" tanya Se Se.


Huo Feng tersenyum, dia lalu menjawab, "Bersetubuh!"


"Bughhhh!"


Kepala manusia burung itu langsung mendapat benjolan besar karena ucapannya yang tidak sopan.


Se Se berjalan ke tepi ranjang, dia memegang telapak tangan Raja Wei. "Jika benar kekuatan suci bisa menyembuhkan Xuan dan aku memiliki kekuatan suci itu. Aku mohon dengan setulus hati, tolong sembuhkan Xuan dan buat dia sehat kembali. Cepatlah sadar dan kembalikan senyum di wajahnya. Aku mohon!" ucap Se Se.


Huo Feng masih berdiri di samping dia melihat secara langsung cahaya tujuh warna yang perlahan keluar dari tubuh Se Se. Karena penasaran, Huo Feng mendekat dan menyentuh cahaya itu. Begitu jarinya menyentuh cahaya itu, tubuh Huo Feng ikut mengeluarkan cahaya.


"Kenapa bisa begini?" pikir Huo Feng.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, cahaya tujuh warna mulai memudar. Huo Feng menatap Raja Wei dan Se Se secara bergantian. Raja Wei menggerakkan jari dan kelopak matanya, dia terbangun dengan wajah kebingungan.


"Xuan!" Se Se langsung memeluk Raja Wei yang masih berbaring di atas ranjang. Namun tangan Se Se segera di tepis oleh Raja Wei, dengan wajah kesal dia membentak sambil menatap Se Se. "Siapa kau? Beraninya kau menyentuh tubuhku!"


"Xuan!"


Se Se sangat terkejut melihat perubahan sikap Raja Wei yang menjadi kasar dan kata-kata yang terdengar menyakitkan. Dia menatap mata Raja Wei yang terlihat dingin. "Kenapa dia bersikap dingin terhadapku?" batin Se Se.


Begitu pula dengan Huo Feng, dia tertegun melihat Raja Wei membentak majikannya. Pria yang sangat takut melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain, kini malah mendorong tubuh kecil wanita yang selama ini dia cintai dengan sepenuh hati.


"Apa yang salah dengan otaknya?" batin Huo Feng.


"Siapa kalian? Kenapa kalian berada di kamarku?" tanya Raja Wei.


Dia terlihat bingung, tatapannya mengarah ke sekeliling kamar. Ruangan yang tidak asing sekaligus juga asing baginya yang telah melupakan kenangan selama 10 tahun masa hidupnya.


"Entahlah, mungkin ini efek samping dari racun pengendali ingatan." jawab Huo Feng.


"Yu!" Raja Wei memanggil nama pengawal setianya dengan suara tinggi. Namun setelah menunggu beberapa waktu, tetap tidak ada jawaban dari Yu. Raja Wei merasa heran karena biasanya Yu akan segera masuk ke dalam kamar apabila dia memanggil namanya.


"Ke mana perginya Yu? Apakah dua orang ini sudah mencelakainya?" benak Raja Wei.


Dia menatap sinis mata Se Se dan Huo Feng secara bergantian, "Siapa kalian? Di mana pengawalku yang berjaga di depan kamar? Apakah kalian telah membunuhnya?" tanya Raja Wei dengan aura membunuh yang kuat.


"Apa yang sih kau katakan? Manusia bodoh!" hardik Huo Feng yang mulai kesal melihat sikap kasar Raja Wei.


Raja Wei memperhatikan wajah Se Se, dia melihat genangan air mata yang masih melekat di sudut matanya. "Wanita ini... Dia baru saja menangis? Tapi kenapa? Melihat air matanya, hatiku terasa aneh. Aku ingin menghapus air mata itu, aku juga ingin memeluknya. Apa yang terjadi padaku?" pikir Raja Wei.


"Ayo pergi dari sini!" ajak Huo Feng sambil menarik lengan Se Se.

__ADS_1


Melihat Huo Feng memegang tangan istrinya, Raja Wei segera berdiri dan berlari ke arah mereka. Dengan cepat dia menarik tangan Se Se yang sebelahnya lagi. Membuat tubuh Se Se terhempas ke arah Raja Wei dan berakhir di dalam pelukannya.


"Xu... Xuan!" ucapnya dengan pelan meskipun terkejut dengan sikap Raja Wei.


"Kau pergi saja sendiri, dan wanita ini... Mulai sekarang, dia milikku!" ucap Raja Wei sambil menyunggingkan senyuman yang terlihat mengerikan.


"Majikan!" panggil Huo Feng sambil melirik ke arah Se Se.


"Pergilah, Feng! Aku akan tetap di sini!" sahutnya sambil tersenyum.


"Aku merasa senang, dia masih begitu posesif meskipun sudah melupakan siapa aku." batin Se Se.


Huo Feng menuruti kata-kata Se Se, dia pergi dari ruangan itu tanpa bertanya apapun. Setelah kepergian Huo Feng, Raja Wei melepaskan pelukannya. Dia lalu menatap Se Se yang juga sedang menatapnya dengan wajah khawatir.


"Aku tidak mengingat siapa wanita ini. Tapi entah mengapa, aku merasa tidak boleh kehilangan dirinya, tidak boleh membiarkan dia pergi dari hidupku. Sebenarnya apa penyebab perasaan aneh ini?" benak Raja Wei.


"Xuan..." panggilnya pelan karena takut Raja Wei akan mengamuk lagi.


Raja Wei sedikit tertegun mendengar suara yang memanggilnya. Seakan ada sesuatu dalam hatinya yang terasa hangat. Dia sangat menyukai panggilan itu, ingin rasanya dia memerintahkan wanita di hadapannya ini untuk memanggilnya lagi dan lagi.


Karena tidak mendapat respon dari Raja Wei, Se Se kembali memanggil. "Xuan...!" kali ini wajahnya dia dekatkan, hampir saja bibir mereka bersentuhan.


Meski ingatannya terkubur, tubuh dan hati Raja Wei sangat mengingat aroma dan sentuhan dari istrinya. Tanpa sadar dia melingkarkan lengan ke belakang kepala Se Se, dia lalu mendorong pelan hingga bibir mereka menyatu.


Sesuatu bergerak-gerak menerobos ke dalam mulutnya. Se Se hanya pasrah menerima ciuman kasar dari suaminya yang telah melupakan kenangan tentang mereka berdua. Ciuman itu menjadi semakin liar dan semakin panas. Entah sejak kapan pakaian Se Se sudah di lucuti semua, tubuhnya yang putih mulus kini terlihat jelas di depan mata Raja Wei.


"Apa yang dia lakukan kepadaku saat aku tertidur tadi? Kenapa aku sangat bergairah melihat wajah dan tubuhnya? Aku bahkan sulit mengendalikan keinginanku untuk menyentuhnya!" tanya Raja Wei dalam pikiran.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2