The Princess Story

The Princess Story
Episode 272


__ADS_3

Ti Er semakin kesal terhadap kedua penjaga itu, dia sudah kelelahan sepanjang malam hanya untuk mengejar ketinggalannya, namun dia malah diperlakukan seperti penjahat di pintu gerbang.


Karena kedua penjaga tidak juga membuka pintu untuknya, Ti Er berencana menerobos pintu itu. Ti Er mengambil ancang-ancang untuk menyerang Rong Chu dan Ye Han, dia mengeluarkan pedangnya yang terselip di pinggang.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Ye Han.


"Tentu saja memukul bokong orang-orang bodoh seperti kalian!" jawab Ti Er sebelum memulai perkelahian.


Ye Han dan Rong Chu ikut menarik pedang mereka, Ti Er dengan gesit melumpuhkan kedua pria itu dalam satu gerakan. Setelah puas memukuli bokong kedua penjaga itu dengan pedangnya, Ti Er membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan keadaan kedua penjaga yang masih merintih kesakitan.


Tak di sangka, perbuatan Ti Er ternyata dilaporkan oleh Rong Chu. Ti Er menjadi buronan di tempat itu, lukisan wajahnya terpampang di dinding kota dan di depan pintu perbatasan.


Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, Ye Yuan melihat gambar Ti Er yang tertempel di dinding, dia tertawa melihat pria yang menjadi Pasukan Elang ternyata bisa melakukan kehebohan.


Ye Yuan melaporkan kepada Yang Fei Xi jika Ti Er adalah salah satu bawahannya, Yang Fei Xi pun akhirnya menyuruh penjaga untuk menurunkan gambar Ti Er.


Pada malam hari setelah gambar Ti Er di turunkan, pria itu muncul lagi di depan gerbang pintu perbatasan.


"Hey, kau pria yang waktu itu kan?" tanya Rong Chu dengan wajah kesal.


Rong Chu sangat marah karena pada saat itu Ti Er memukul bokongnya dengan pedang. Gara-gara itu, Rong Chu tidak bisa duduk berhari-hari karena rasa sakit di bokongnya. Begitu pula dengan Ye Han, dia kesulitan untuk duduk dan berbaring karena pukulan dari Ti Er.


"Kau ini kan prajurit yang datang untuk membantu kami, kenapa kau malah membuat kami menderita?" ucap Ye Han dengan wajah kesal.


"Itu salah kalian sendiri, siapa suruh kalian terlalu lemah!" ucap Ti Er dengan wajah tersenyum.


"Brengsek ini benar-benar ya!" ucap Rong Chu yang semakin kesal.


Kedua penjaga itu kembali berkelahi dengan Ti Er, namun kali ini mereka lah yang mulai menarik pedangnya.


"Jika kali ini kau kalah lagi, kau akan menderita selama sebulan!" ancam Ti Er terhadap Ye Han.

__ADS_1


Ye Han terkejut mendengar ancaman dari Ti Er, dia membayangkan rasa sakit di bokongnya selama dua hari saja sudah sangat menyiksa dirinya, tidak terbayang olehnya bagaimana rasa sakit selama sebulan penuh. Ye Han perlahan menurunkan pedangnya, dia kemudian berkata, "Kali ini aku akan berbesar hati untuk memaafkanmu!"


Reaksi Rong Chu yang mendengar kata-kata Ti Er tidak jauh berbeda dengan Ye Han, dia menyarungkan kembali pedangnya dan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kelihatannya kalian sudah kalah duluan ya sebelum berperang!" ledek Ti Er dengan senyuman cerah khas miliknya.


"Dasar brengsek busuk!" bisik Ye Han.


"Dasar bocah bajingan!" bisik Rong Chu.


Ti Er yang mendengar makian kedua pria itu hanya tersenyum dan tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini racun di tubuh Zhun Tian semakin mengganas, pria itu kesakitan sepanjang malam hingga pagi hari. Se Se yang tidak mengetahui keadaan pria itu masih bersantai dengan anak-anaknya di taman bunga.


Zhun Tian menahan rasa sakitnya, dia berjalan ke arah taman bunga untuk menemui Se Se. Setibanya di sana, Zhun Tian merasa penglihatannya semakin lama semakin kabur. Pria itu akhirnya roboh ke tanah saat dia sudah melihat wajah Se Se dengan pandangannya yang tidak begitu jelas.


Se Se bergegas mendatangi Ling Er setelah mendengar teriakan gadis itu. "Ling Er ada apa?" tanya Se Se.


"Yang Mulia, ada mayat di sini!" jawab Ling Er.


Se Se melihat tubuh Zhun Tian di bawah, dia segera mendekat kemudian memeriksa kondisi pria itu.


"Tolong bantu aku untuk membawanya kembali ke kamar!" pinta Se Se.


"Yang Mulia, pria ini terlalu berat!" keluh Ling Er saat mengangkat tubuh Zhun Tian.


"Jangan mengeluh, keluarkan saja semua tenagamu!" ucap Se Se.


Setelah membaringkan tubuh Zhun Tian di dalam kamar, Se Se meminta Ling Er untuk keluar.

__ADS_1


"Aku tidak boleh keluar, tidak boleh membiarkan pria ini berduaan saja bersama Permaisuri." benak Ling Er.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Se Se.


Ling Er diam membisu namun dia juga masih tetap berdiri di sana tanpa melangkahkan kakinya.


Se Se merasa heran melihat gadis itu, gadis yang biasanya patuh kini bahkan tidak mau menjawab pertanyaannya. Se Se melihat ke arah Ling Er kemudian bertanya lagi, "Ling Er, kamu mendengar ku?"


"Ling Er masih diam membisu, dia mengarahkan pandangan matanya ke arah lain karena terlalu takut untuk menatap mata permaisurinya.


"Ling Er!" panggil Se Se dengan suara yang agak keras.


Wanita itu masih tetap saja diam tak menanggapi majikannya, Se Se nampaknya tau apa yang dipikirkan oleh pelayan nya itu. Akhirnya dia membiarkan saja Ling Er berdiri di sana.


Pakaian Zhun Tian dilucuti semua oleh Se Se, Ling Er yang melihat itu segera berkata dengan panik, "Yang Mulia, bagaimana bisa anda melakukan hal memalukan ini?"


Kali ini giliran Se Se yang tidak menjawab, dia mengambil satu set jarum akupuntur yang dia simpan di dalam laci kamar Zhun Tian, jarum-jarum itu kini bersarang di kulit tubuh pria itu. Setelah beberapa saat, Zhun Tian membuka matanya.


"Bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang sakit?" tanya Se Se dengan wajah yang saling berdekatan. Wajah Zhun Tian seketika memerah dan memanas, dia merasa gugup melihat wajah wanita itu berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Kenapa wajahmu merah sekali? Kamu demam?" tanya Se Se sambil menyentuh kening Zhun Tian.


Wajah Zhun Tian semakin memerah karena sentuhan Se Se, dengan terbata-bata dia berkata, "A... Aku ti... tidak apa-apa!"


"Kau benar-benar tidak apa-apa setelah memuntahkan darah sebanyak itu?" tanya Se Se yang masih berada di tempatnya semula.


Hembusan nafas wanita itu menerpa kulit wajah Zhun Tian, pria itu menjadi salah tingkah dengan wajahnya yang sudah merah padam dan segala emosi yang tidak dia mengerti.


Ling Er yang menyadari hal itu segera menarik permaisurinya menjauh dari sana sambil berkata, "Yang Mulia, tolong maafkan Ling Er!"


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2