The Princess Story

The Princess Story
Perasaan apa ini?


__ADS_3

"Ja... Jangan menatapku seperti itu!" ucap Se Se gugup karena malu. Sejak tadi, Raja Wei terus menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai pun benang.


Raja Wei tersenyum sinis, dia lalu berbisik di telinga Se Se. "Tidak perlu berpura-pura menjadi gadis lugu, kau bahkan tidak mencoba untuk menolak sentuhan dari ku!" Raja Wei menggigit pelan daun telinga Se Se yang memerah.


"Xuan, kau... Menganggap aku sebagai wanita murahan?" benak Se Se.


Hatinya tentu saja sakit mendengar kata-kata yang merendahkan harga dirinya, apalagi kata-kata itu keluar dari suami yang dia cintai.


"Brukkk!"


Tubuh Raja Wei terjatuh, Se Se mendorongnya dengan sangat kuat. Dia lalu memakai kembali pakaiannya dan hendak keluar dari kamar. Namun Raja Wei menariknya secara paksa, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke atas ranjang.


"Kau mau coba jual mahal sekarang? Bukankah itu sudah terlalu terlambat?" cibir Raja Wei.


Se Se mencoba melawan, sekuat tenaga dia mendorong tubuh Raja Wei yang berada di atasnya. Namun sia-sia saja, sebab sekuat apapun dia mencoba, tubuh itu tidak bergerak sedikit pun dari sana.


"Lepaskan!" ucapnya dengan nada memerintah.


Raja Wei menatap dalam mata wanita yang berada di bawah, dia merasa tenang dan nyaman melihat mata itu. Puas menatap matanya yang hitam bagai langit malam, Raja Wei menurunkan pandangannya ke bawah. Terlihat dua gundukan yang menjulang tinggi ke atas karena dia menekan tubuh ramping itu.


"Glukkk!" Raja Wei menelan ludah yang tiba-tiba terasa banyak.


Melihat Raja Wei yang sedang menatap benda miliknya, Se Se kembali meronta, berusaha melepaskan diri dari tindihan Raja Wei. Pria itu akhirnya terbanting ke samping, Se Se langsung bangkit berdiri. Namun lagi-lagi tangannya di tarik, tubuhnya terhempas ke permukaan ranjang.


Kali ini, Raja Wei dengan segera menarik pakaian Se Se hingga sobek di beberapa bagian. Dengan wajah kesal, pria itu berkata. "Jangan mencoba untuk melawan, karena itu hanya akan membuatmu merasa sakit!"


"Ah sudahlah, lagi pula dia memang suami ku! Aku hanya perlu menahan kata-kata kasarnya saja." batin Se Se.


Raja Wei mulai menggerayangi tubuh istri yang telah dilupakan olehnya. Tiap inchi kulit mulus itu dijejaki olehnya, sesekali dia menatap ekspresi wajah Se Se, wajah yang tak terbaca pikirannya oleh Raja Wei.

__ADS_1


"Benda lembut ini terasa sangat nyaman. Aku ingin menggigitnya!" pikir Raja Wei ketika menatap dua gunung yang tepat berada di depan matanya.


Raja Wei mulai bersikap lembut, dia tak lagi sekasar tadi. Perlahan dia memasuki tubuh istrinya yang hanya diam pasrah. Lagi dan lagi, Raja Wei terus melakukannya berulang kali. Hingga akhirnya tubuh kecil istrinya tidak lagi kuat menerima gairahnya yang tak pernah terpuaskan. Wanita itu tertidur begitu saja ketika Raja Wei masih menggoncang tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huo Feng menemui Ye Yuan. Dia menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada adiknya itu, namun Ye Yuan hanya tersenyum. Melihat hal itu, Huo Feng menjadi penasaran, ia bertanya-tanya kenapa Ye Yuan tidak mengkhawatirkan adiknya.


Seolah mengetahui isi pikiran Kakaknya, Ye Yuan pun menjawab pertanyaan yang ada di hati Huo Feng. "Jangan khawatir, aku yakin Se Se akan baik-baik saja. Raja Wei, pria itu selalu melunak setiap kali menatap wajah Se Se. Aku percaya, kali ini juga akan sama seperti itu."


"Baiklah, aku akan percaya pada kata-katamu. Lagi pula dia tidak terlihat seperti akan membunuh adikmu, matanya seperti binatang buas yang melihat buruan kecil. Sepertinya adikmu akan menderita malam ini!" ucap Huo Feng sambil membayangkan adegan 21+ di dalam kepalanya.


"Biarkan saja suami istri itu bekerja keras. Kita tidak perlu ikut campur!" jawab Ye Yuan.


Han Ze Xing berada di dalam kamar, menemani Zhou Yi Thing yang masih lemah. Sesekali pria itu mengecup kening istrinya yang tertidur lelap, sambil membelai wajahnya.


Perdana Menteri Huang mengetuk pintu kamar. Han Ze Xing segera keluar agar istrinya tidak terbangun.


"Perdana Menteri Huang!" panggilnya ketika melihat wajah itu di depan kamar.


"Yang Mulia, sudah saatnya anda naik tahta! Saya sudah menemukan stempel Kaisar!" ucap Perdana Menteri Huang.


Han Ze Xing hanya mengangguk pelan, dia tak menolak maupun mengiyakan. Baginya, tahta hanya sebuah beban. Dia tidak menginginkan tahta itu, namun dirinya terlahir sebagai Putra Mahkota, dia harus mengambil beban itu di pundaknya.


"Mari kita bicara di tempat lain!" ajak Han Ze Xing agar suara mereka tidak mengganggu Zhou Yi Thing.


Keduanya berjalan menuju sebuah gajebo yang berada di taman. Wajah Han Ze Xing tampak muram, membuat Perdana Menteri Huang tidak bisa menahan rasa penasaran di hatinya. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Yang Mulia, apakah anda tidak menginginkan tahta ini?"


Han Ze Xing mengangkat wajahnya, dia menatap mata Perdana Menteri Huang. "Apakah terlihat sangat jelas?"

__ADS_1


Perdana Menteri Huang mengangguk, "Ya, terlihat jelas jika Yang Mulia merasa keberatan untuk menerima beban ini." jawabnya secara jujur.


Han Ze Xing tersenyum, dia merasa tidak ada hal yang bisa dia sembunyikan dari Perdana Menteri Huang. Pria yang selama ini selalu mendidiknya dengan baik untuk menjadi seorang pemimpin negara. Perdana Menteri Huang menjadi salah satu guru pendidikan untuk Putra Mahkota sejak dia berusia 5 tahun. Sekian banyak guru yang dimiliki oleh Han Ze Xing, dia hanya menghormati satu guru, dan orang itu adalah Perdana Menteri Huang.


"Perdana Menteri Huang, apakah anda bersedia mengambil beban ini dariku?"


Pertanyaan gila Han Ze Xing di sambut tawa oleh Perdana Menteri Huang.


"Hahaha...! Yang Mulia, saya sudah terlalu tua untuk mengangkat beban ini. Tidakkah anda merasa kasihan melihat punggung saya yang sudah mulai membungkuk karena usia?"


"Aku merasa punggung Perdana Menteri Huang baik baik saja. Masih tegap seperti saat pertama kali kita bertemu." jawab Han Ze Xing sambil tersenyum.


"Saya berharap semua hal yang terjadi di masa lalu tidak membuat para prajurit menyerah atas negara kita. Tolong perlakukan mereka dengan baik, karena merekalah yang sudah melindungi negara ini dari para penjajah! Harapan saya satu-satunya, anda bisa memimpin negara kita dengan bijak. Buat kemajuan dan bantu semua rakyat agar hidup makmur."


"Hahhhh...!"


Perdana Menteri Huang menghela napas. Dia lalu melanjutkan ucapannya.


"Saya sudah terlalu tua, tapi selama saya masih bernapas, saya akan membantu Yang Mulia untuk mewujudkan hal itu."


Han Ze Xing pasrah menerima takdirnya sebagai sang penguasa. Dia menyusun rencana bersama Perdana Menteri Huang, untuk mengumumkan kenaikan tahta nya sebagai penerus Kaisar di negara Han.


Sementara itu, di kamar utama dalam kediaman Raja Wei. Pria itu terlihat begitu menyesal setelah melihat wajah lelah istrinya yang sedang terlelap. Dia mengangkat pelan tubuh kecil itu, lalu memasukkannya ke dalam air hangat.


Raja Wei mengambil sebuah kain putih untuk membersihkan tubuh istrinya yang telah penuh dengan jejak jejak cinta darinya.


"Sesuatu dalam hatiku terasa sakit ketika memikirkan wanita ini akan pergi setelah dia terbangun. Kenapa dia begitu penting di hatiku? Kenapa?? Perasaan apa ini?" pikir Raja Wei.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2