The Princess Story

The Princess Story
Ep 88. Persalinan Permaisuri


__ADS_3

"Yang Mulia, Permaisuri akan segera melahirkan." lapor Yu pada Raja Wei.


Raja Wei segera berlari ke kamar, dia menunggu di depan pintu bersama Ye Yuan dan Yu.


Ling Er dan bidan sudah panik di dalam kamar, Ling Er keluar masuk membawa air hangat dan membuang ember yang sudah penuh darah.


Wajah kedua pemuda itu menjadi panik melihat darah yang begitu banyak.


"Apa yang terjadi di dalam? kenapa banyak sekali darah?" tanya Raja Wei.


"Hamba tidak tahu Yang Mulia, bidan sedang membantu persalinan Permaisuri, namun bayi di dalam perut Permaisuri belum juga keluar." jawab Ling Er dengan wajah cemas.


"Akhhh.... sakit!" teriak Se Se dari dalam kamar.


Raja Wei makin panik mendengar suara teriakan istrinya, dia berniat masuk ke ruangan itu. Ye Yuan menahan langkah Raja Wei, dia tidak ingin pemuda itu mengganggu proses persalinan adiknya.


"Tenanglah, tunggu saja di sini. Anda tidak bisa membantunya walaupun berada di dalam." ucap Ye Yuan.


Raja Wei mendengarkan kata-kata Ye Yuan, pemuda itu berjalan bolak balik seperti setrikaan di depan pintu kamar. Hatinya gelisah mendengar suara kesakitan yang keluar dari bibir istrinya.


"Aku tidak akan membiarkannya hamil dan melahirkan lagi." batin Raja Wei.


Tuan Huang baru saja sampai di kediaman, dia ikut menunggu di depan pintu kamar. Sudah beberapa jam mereka mendengar suara rintihan Se Se, namun bayi di dalam perut gadis itu belum juga lahir.


Bidan dan Ling Er terlihat cemas melihat wajah Se Se yang pucat dan lemah, mereka terus menyemangati gadis itu agar bertahan melewati proses persalinan yang menyakitkan ini.


"Permaisuri, bertahanlah sedikit lagi, kepala bayi sudah terlihat." ucap bidan.


"Nona, anda harus tetap sadar, bertahanlah hingga bayi ini lahir. Nona harus kuat mendorong bayinya." ucap Ling Er dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Kedua tangan Se Se menggenggam tiang tempat tidur, dia menahan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya. Keringat dingin membasahi wajah dan rambut gadis itu.


"Ling Er, aku... tidak kuat lagi. Tolong keluarkan bayiku. Ambil pisau ini, keluarkan bayiku dari perut." ucap Se Se sambil menyerahkan sebuah pisau kecil kepada Ling Er.


"Nona, apa yang anda katakan? Anda tidak boleh menyerah. Nona dan bayi harus selamat, kalian berdua harus selamat." ucap Ling Er sambil menangis pilu di samping Se Se.


Raja Wei mendengar kata-kata yang di ucapkan kedua gadis itu, dia segera masuk ke kamar dan menghalangi niat istrinya.


"Apa yang kamu katakan? Kamu akan menyerahkan nyawamu untuk bayi itu?" bentak Raja Wei.


Se Se menatap wajah suaminya yang penuh amarah, dia memaksakan senyuman di wajah dan berkata, "Xuan... aku mencintaimu, tetapi aku juga mencintai bayi yang berada di dalam sini." Se Se menyentuh perutnya.


Raja Wei tampak murka, dia tidak menyangka Se Se akan memilih bayinya di bandingkan nyawanya sendiri.


"Apa kamu begitu sayang padanya? apa kamu begitu mencintainya hingga berniat membunuh dirimu sendiri? Siapa... siapa ayah dari bayi itu? Apakah kamu mencintai pria itu? Itu sebabnya kamu memilih nyawa bayi dalam perutmu dibanding nyawamu sendiri?" tanya Raja Wei dengan api yang membara dalam hatinya.


Se Se masih tersenyum lemah, dia memandang wajah Raja Wei dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi Nona..." Ling Er ingin membantah perintah Se Se.


"Cepat keluar!" perintah Se Se dengan nada yang lebih tinggi namun masih terdengar lemah.


Ling Er membawa bidan keluar, dia menutup pintu dan berjaga di depan agar tidak ada siapapun yang masuk.


"Mendekatlah kemari!" pinta Se Se pada pemuda yang sedang murka di hadapannya.


Raja Wei mengepalkan jari-jarinya, dia mendekat ke tempat tidur Se Se dan berlutut di lantai.


Se Se melepaskan topeng yang di pakai Raja Wei, dia menyentuh pipi pemuda itu kemudian berkata, "Yang Mulia, saya telah melakukan kesalahan. Kesalahan saya adalah mencintainya. Saya sangat mencintai ayah dari bayi ini. Tanpa saya sadari, cinta ini telah tumbuh dengan sangat besar sehingga nyawa pun akan saya berikan untuknya. Tanpa saya sadari, cinta ini sudah berakar hingga ke dalam jantung dan hati saya."

__ADS_1


Se Se membelai wajah Raja Wei yang mulai basah karena air mata. Pria itu tampak kecewa mendengar jawaban yang keluar dari bibir gadis itu.


"Apakah kamu lebih memilih pria itu dari pada aku? Apakah kamu masih marah padaku karena aku telah menyembunyikan nama asliku? Tidak bisakah kamu memberi kesempatan padaku untuk menebus kesalahan?


Se Se menggelengkan kepalanya dengan pelan, dia memutar cincin di jarinya kemudian berkata, "Xuan... aku mencintaimu, aku mencintai bayi kita."


Raja Wei membuka matanya lebar-lebar, dia tidak percaya dengan penglihatannya. Beberapa kali dia mengedipkan matanya, pemuda itu terkejut melihat wajah gadis yang sedang berbaring lemah itu.


Dia mengingat kembali malam pertamanya bersama Florence, kini gadis itu ada di hadapannya.


"Selama ini aku terus mencari seseorang yang berada di sampingku. Hahaha... aku benar-benar bodoh." batin Raja Wei.


Raja Wei menggenggam telapak tangan Se Se, tangan itu terasa dingin akibat menahan rasa sakit, dia meneteskan air mata membayangkan rasa sakit yang sedang di rasakan oleh istrinya. Hatinya perih mengingat dia tidak dapat melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakit itu.


"Xuan... jika aku tidak sadarkan diri, tolong lakukan hal ini untuk ku, untuk bayi kita." ucap Se Se sembari menyerahkan sebuah pisau kecil yang ada di tangannya. "Selamatkan bayi kita, apapun yang terjadi, kamu harus menyelamatkan nyawa bayi kecil ini."


Raja Wei diam membisu, dia tidak ingin menyakiti istrinya, dia tidak sanggup melakukannya. Jika harus memilih, dia akan menyelamatkan nyawa istri nya dari pada bayi yang belum lahir itu.


Se Se memutar kembali cincin di jari, dia meminta Raja Wei memanggil Ling Er dan ibu bidan untuk membantunya.


Dengan sisa kekuatan terakhir, gadis itu berusaha mendorong keluar bayi yang sudah terlihat ujung kepalanya. Ling Er berada di samping untuk menyemangati Nona nya, Raja Wei terus menggenggam tangan istrinya yang bergetar menahan rasa sakit.


Beberapa tabib istana sudah di kirim oleh Kaisar untuk membantu persalinan Permaisuri. Putra Mahkota yang mendengar kabar itu juga segera menuju ke kediaman Raja Wei.


Tabib istana membuat ramuan obat untuk Se Se yang kehilangan banyak tenaga, obat itu akan menambah tenaga dan membuat kesadarannya tetap terjaga.


Raja Wei memberikan obat itu kepada Se Se. Dengan menggunakan sendok, perlahan obat cair itu di masukkan ke dalam mulut nya. Namun Se Se kesulitan meminum obat itu, tenaganya benar-benar terkuras habis, bahkan untuk menelan saja terasa begitu sulit. Raja Wei menyuapi Se Se dengan memakai mulutnya, perlahan dia mendorong cairan obat itu ke dalam mulut istrinya.


Selama sehari semalam gadis itu berjuang melahirkan bayi nya, namun belum berhasil. Tabib dan bidan mulai kewalahan serta kehabisan akal. Mereka sudah melakukan semua hal yang bisa mereka lakukan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2