
"Aku akan memberikan darahku jika kau memberikan air liurmu!" ucap Se Se bernegosiasi.
"Ckkk! Dasar majikan licik!" keluh Huo Feng namun menyetujui pertukaran itu karena memang dia membutuhkan darah Se Se untuk mengembalikan semua kekuatan sucinya yang terkikis akibat terkurung selama seribu tahun.
"Krekkk!"
Terdengar suara patahan ranting pohon, Huo Feng segera menangkap tikus yang bersembunyi di dekat sana.
Huo Feng mencengkram pakaian pria itu lalu menyeret tubuh kekarnya hingga berada di depan majikannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Se Se ketika melihat wajah pria penguntit itu.
"Aku hanya lewat saja!" jawabnya berbohong.
"Feng, lepaskan dia!" pintanya sambil menatap pria penguntit.
"Anda mengenal tikus ini?" tanya Huo Feng.
"Ya, dia adalah salah satu orang yang mau membunuhku namun selalu gagal." jawab Se Se sambil tersenyum nakal.
"Ku bunuh saja si brengsek ini!" geram Huo Feng sambil mengangkat tubuh pria itu ke udara.
"Lepaskan dia! Itu hanya masa lalu, dan aku sudah memaafkannya!" ucap Se Se.
Huo Feng melepaskan cengkramannya, "Bughhh!" tubuh Zhun Tian jatuh dengan keras di atas tanah. Se Se menatap Huo Feng dengan wajah marah sebab dia tau jika Huo Feng dengan sengaja melakukannya.
"Maaf, tanganku licin!" ucapnya sambil tertawa dalam hati.
Se Se mengulurkan tangan hendak membantu Zhun Tian berdiri, Huo Feng yang melihatnya langsung menarik tangan pria itu agar tidak menyentuh tangan majikannya.
"Feng, jangan berlaku kasar!" pinta Se Se dengan nada sedikit tak senang.
"Baiklah, aku akan pergi saja dari sini nikmati waktu anda berdua!" jawab Huo Feng dengan nada kesal.
"Hey! Kau jangan pergi dulu!" ucap Zhun Tian sambil menarik baju Huo Feng.
"Mau apa kau? Berkelahi?" tanya Huo Feng dengan nada meninggi.
Zhun Tian mengerutkan dahi sambil menatap Huo Feng, dia kemudian bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan dengan darah Permaisuri?"
__ADS_1
"Oh, ternyata kau mendengar percakapan kami ya!" tuduh Huo Feng dengan menunjuk jari ke arah pria itu.
"Tentu saja aku mendengarnya, mau apa kau meminta sarah Permaisuri? Kau ini siluman peminum darah ya?" tuduh Zhun Tian yang tak mau kalah.
"Haduh! Dua orang ini!" ujar Se Se sambil memegang keningnya yang terasa sakit karena kelakuan kedua pria itu.
"Kalau iya memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?" ketus Huo Feng dengan wajah kesal.
"Tentu saja aku akan menghentikanmu! Dasar vampir peminum darah!" maki Zhun Tian lagi tanpa tau siapa sebenarnya Huo Feng.
"Majikan, aku sudah tak tahan lagi mendengar ocehan banci ini! Aku akan menghajarnya sampai babak belur!" ucap Huo Feng sambil mengangkat tangannya hendak memukul Zhun Tian.
"Hentikan!!!!" jerit Se Se dengan suara tinggi.
Kedua pria itu terdiam, mereka menatap wanita yang sedang murka dengan wajah yang memerah.
Huo Feng menundukkan wajahnya, dengan suara pelan dia berkata, "Majikan, jangan marah!"
Zhun Tian hanya menghela nafas melihat kelakuan Huo Feng yang terlihat menjijikkan di matanya.
"Kenapa pria ini meminta darahnya?Mungkinkah darah wanita ini memiliki kegunaan?" batin Zhun Tian.
"Aku ingin bertanya tentang obat yang kau berikan kepadaku! Tapi kau pasti tidak akan menjawabnya dengan jujur!" benak Zhun Tian
"Het! Cepat katakan apa mau mu! Kenapa kau malah diam saja?" bentak Huo Feng yang kesal melihat Zhun Tian yang terus menatap wajah majikannya.
"Aku akan pergi sekarang, sampai ketemu lain waktu!" ucap Zhun Tian.
Huo Feng hendak berkata-kata, namun Se Se menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Diamlah! Kau ini berisik sekali burung bodoh!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yu dan rombongannya tiba di Istana, mereka diminta untuk menunggu di depan gerbang dengan alasan Kaisar belum mengizinkan mereka masuk.
Yu dengan sabar menunggu bersama Yang Fei Xi di depan gerbang. Mereka turun dari kuda lalu berdiri di sana hingga langit mulai gelap namun belum ada tanda-tanda jika Kaisar mengizinkan mereka untuk masuk ke istana.
"Ini semua pasti akal-akalan dari para menteri yang menentang Yang Mulia, mereka sengaja mempersulit kami karena ketidakhadiran Yang Mulia di sini!" pikir Yu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita di suruh menunggu begitu lama di depan gerbang?" tanya Yang Fei Xi.
__ADS_1
"Jenderal Yang, bersabar saja dan jangan bertanya apapun saat ini!" jawab Yu dengan wajah kesal.
Seorang penjaga diam-diam melirik kedua pria itu. Dalam hati pria itu berkata, "Kenapa pahlawan kami diperlakukan seperti ini? Aku sungguh kasihan melihat mereka yang telah berdiri sepanjang hari di sini. Bukankah mereka lelah setelah menempuh perjalan panjang? Perang yang berlangsung 10 tahun juga pasti membuat mereka sangat lelah. Sebenarnya apa maksud Kaisar memperlakukan Pahlawan kami dengan cara seperti ini?"
Sementara itu, Raja Wei telah membersihkan dirinya di ruang pemandian. Se Se membantu melayani suaminya, dan seperti biasa, mereka akan melepaskan perasaan rindu dan gairah yang sudah menggebu-gebu dalam waktu yang panjang.
"Ehem...! Istriku!" panggilnya dengan nada mesra.
"Ya?"
"Bolehkah aku melakukannya satu kali lagi?"
"Tidak! Tidak boleh!!!" jawab Se Se sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ayolah! Sekali saja!" pinta Raja Wei sambil mengecup leher istrinya yang putih mulus dan menggoda.
"Tidak, pokoknya tidak boleh!" tolak Se Se dengan sangat cepat.
Raja Wei mulai membasahi pundak istrinya dengan benda lunak yang tak bertulang. Dia lalu berbisik, "Tidak? Benar-benar tidak boleh?"
Hembusan nafas pria itu membuat bulu kuduk Se Se merinding namun nikmat. Dia melingkarkan lengannya di leher Raja Wei, adu bibir pun terjadi dengan sangat panas dan dalam.
"Awww!" rintihnya saat sebuah benda menusuknya tanpa aba-aba di bawah sana.
"Aduh...! Aku terjebak lagi dalam permainannya!" keluh Se Se dalam pikirannya.
Raja Wei tersenyum puas melihat kemenangan yang di raih olehnya, wanita di dalam pelukannya ini selalu membuatnya bergairah, tak peduli berapa kalipun mereka melakukan permainan panas yang nikmat, Raja Wei tak pernah bosan ataupun lelah. Dia selalu merasa kurang lalu ingin meminta lebih dan lebih lagi.
"Ahhhh.... Shhhh.... Ahhhh....!"
Hanya suara desah dan kenikmatan yang terdengar hingga keluar ruangan, wajah para pelayan bersemu merah karena malu mendengarkan semua suara indah yang menggairahkan ini.
"Lagi!" bisik pria itu.
"Lihat, kaki ku bahkan tidak bertenaga lagi!" keluh Se Se.
"Tak apa-apa, aku yang akan melakukan semua tugas. Istriku hanya perlu mendesah dan menikmati saja!" bisik Raja Wei yang lalu tersenyum nakal.
Senyum nakal Raja Wei membuat Se Se ketakutan, dalam hati dia berkata, "Lagi-lagi, aku akan berbaring seharian sehabis ini! Dasar mesum yang tak pernah puas!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^