
Se Se saat itu hendak keluar untuk mencari ginseng langka yang dibutuhkan untuk mengobati Ti Liu, dia mengenakan baju pelayan dan keluar sendirian tanpa di dampingi oleh siapapun. Setelah beberapa saat berjalan mengelilingi pasar yang ramai, dia beristirahat di sebuah restoran.
Disana dia melihat Max yang memiliki jiwa seorang prajurit sejati, membela yang benar tanpa mengharapkan imbalan. Ketika dia berjalan pulang ke kediaman, dia melihat Max yang berjalan di depannya. Karena penasaran, Se Se menjaga jarak dan memperhatikan pria itu sampai akhirnya terjadi perkelahian di depan gerbang pintu rumahnya.
"Ya... Yang... Yang Mulia!"
Penjaga pintu tampak sangat terkejut melihat wajah wanita yang ada di hadapannya saat ini, hingga dia pun kesulitan berkata-kata.
"Buka gerbangnya!" perintah Se Se.
"Ya... Yang Mulia, tolong maafkan hamba." ucap kedua penjaga itu bersamaan.
"Kalian tuli ya? Aku menyuruh kalian buka pintu gerbangnya!" ucap Se Se lagi dengan wajah dingin yang menyeramkan.
"Ba... Baik Yang Mulia."
Kedua penjaga membuka pintu, Se Se melangkah masuk. Setelah beberapa langkah, dia berbalik menatap Max kemudian bertanya kepadanya, "Bukankah kamu datang untuk menemuiku?"
Max tiba-tiba saja berlutut, lalu ia menjawab, "Ya, saya datang untuk menemui Yang Mulia."
"Masuklah! Ikuti aku!" ucap Se Se.
Wanita itu kembali melangkah, dia menuntun Max hingga tiba di ruang tamu.
"Tunggulah sebentar di sini!" ucap Se Se sebelum dia pergi meninggalkan Max seorang diri.
Se Se masuk ke kamarnya, dia melihat Ling Er yang sedang membersihkan kamarnya.
"Ling Er, tolong bawakan teh hangat untuk tamuku!" perintahnya kepada Ling Er.
"Tamu? Siapa tamunya Yang Mulia?" tanya Ling Er yang memang kepo.
"Aku juga tidak mengenalnya." jawab Se Se sambil mengganti pakaiannya.
"Yang Mulia, Kenapa anda membawa masuk orang asing ke dalam kediaman ini? Bagaimana jika dia adalah seorang penjahat atau pembunuh?" ucap Ling er dengan wajah cemas.
Se Se tersenyum mendengar omelan pelayannya itu, dia kemudian berkata kepada Ling Er, "Aku yakin dia bukanlah orang yang jahat."
__ADS_1
"Hahhh... Baiklah, saya akan membawakan minuman untuknya." ucap Ling Er setelah menghela napas panjang.
Se Se hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap pelayannya yang terkesan kurang ajar. "Untunglah dia hanya bersikap seperti itu di depanku. Jika Xuan yang melihatnya, entah berapa kali dia akan dihukum dalam sehari." ucap Se Se sambil tersenyum.
Max masih berdiri diam di ruang tamu, hatinya berdebar kencang karena gugup dan takut. Ling Er masuk ke dalam ruang tamu setelah mengetuk pintu, namun pria itu tidak mendengar ketukan pintu Ling Er karena dia sedang sibuk berpikir bagaimana dia harus memulai percakapan ini.
"Silahkan di minum!" ucap Ling Er.
Max langsung terperanjat karena mendengar suara Ling Er yang sudah berada di sampingnya. Cangkir teh yang Ling Er berikan kepada Max terjatuh karena tangan Max tanpa sengaja menyenggol cangkir itu saat dia dikejutkan oleh suara Ling Er.
"Maaf... Saya tidak sengaja." ucap Max dengan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa, ini salah saya karena membuat anda terkejut." ucap Ling Er.
Max menatap cangkir yang hancur berantakan di lantai. Dengan hati-hati dia memungut pecahan cangkir itu sambil berpikir, "Berapa harga cangkir ini? Kelihatannya sangat mahal. Apa aku sanggup untuk menggantinya? Hahhh... Belum apa-apa aku sudah mengacaukan semuanya. Bagaimana jika Permaisuri marah kemudian mengusirku dari sini? Akhh... Kacau sudah gara-gara kebodohanku."
Tidak lama kemudian Se Se tiba di ruang tamu, dia melihat Max sedang memunguti pecahan cangkir yang masih berserakan di lantai.
"Ling Er, apa yang kau lakukan pada tamu ku?" tanya Se Se dengan wajah menyelidik.
"Saya tidak melakukan apa-apa." ucap Ling Er dengan suara kecil dan sambil menundukkan kepalanya.
"Duduklah di sana!" perintah Se Se sambil melihat sebuah kursi yang terletak di sebelah kiri Max.
"Tapi..." Max menatap ke arah pecahan cangkir.
"Tidak apa-apa, Ling Er akan membersihkan itu nanti." ucap Se Se.
"Maafkan saya Permaisuri, saya tidak sengaja memecahkan cangkir yang berharga ini." ucap Max dengan wajah menyesal.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa. Kenapa kamu masih mengutip pecahan cangkir itu?" ucap Se Se dengan wajah heran.
"Akhhh!!"
Karena terlalu sibuk memikirkan jawaban yang harus dia katakan, Max jadi tidak hati-hati dan melukai tangannya.
"Ling Er, bawakan kotak obat yang ada di kamarku!" perintah Se Se.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." jawab Ling Er, gadis itu segera berlari ke kamar dan membawakan kotak obat dengan cepat.
"Tolong perlihatkan tangan anda!" pinta Se Se.
"Yang Mulia, ini hanya luka kecil saja. Lagi pula saya belum selesai membersihkan pecahan cangkir ini." jawab Max.
"Saya tidak tau kenapa kamu terus memunguti pecahan itu meskipun saya sudah bilang tidak perlu. Tapi saat ini, tangan kamu sedang terluka. Jadi kamu harus mengobati luka itu lebih dulu!" ucap Se Se mengomeli pria itu.
Meskipun sudah bertahun-tahun dia berpindah dimensi, Se Se masih sama seperti dulu. Dia masih tetap mengkhawatirkan pasien yang ada di depannya.
"Maafkan saya Yang Mulia." ucap Max dengan menundukkan kepalanya.
Karena pria itu tidak mau menuruti kata-katanya, Se Se berdiri kemudian mendatangi pria itu dengan membawa kotak obat yang dibawakan oleh Ling Er.
"Berikan tanganmu!" pinta Se Se setelah dia berjongkok di depan Max.
"Ya... Yang Mulia...!" Max melihat Se Se dengan wajah terkejut, bukan karena wajah wanita itu menyeramkan, tapi karena statusnya yang sebagai seorang Permaisuri.
"Kenapa seorang Permaisuri bersikap seperti ini di depan seorang prajurit rendahan sepertiku? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita ini." benak Max.
Belum habis keterkejutannya, Se Se menarik tangan Max yang dari tadi hanya diam melongo tanpa menjawabnya. Max kembali terkejut, dengan cepat dia menarik tangannya yang dipegang oleh Se Se.
Habis sudah kesabaran Se Se, dia membentak Max sambil menarik kembali tangan pria itu.
"Diam dan menurutlah sebentar!"
Karena bentakan Se Se, Max mematung, dia membiarkan begitu saja tangannya diraih oleh wanita itu. Se Se mengeluarkan pecahan keramik yang tersangkut di dalam kulit Max, kemudian menutup lukanya dengan plester.
"Selesai." ucap Se Se.
Max masih melongo dengan wajah bodoh, sejak tadi dia terlihat seperti orang yang kehilangan arwahnya. Ling Er kembali mengagetkan Max dengan cara meneriaki pria itu dari dekat, Max yang tersadar akan kebodohannya kembali meminta maaf.
"Kamu! Apakah kamu kesini hanya untuk mengatakan kata maaf?" tanya Se Se dengan wajah kesal.
"Iya benar, eh.... Maksud saya Ti... Tidak Yang Mulia." ucap Max yang mulai gugup parah.
"Bagaimana ini? Aku kan datang ke sini memang untuk minta maaf." ucap Max dalam hati.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^