The Princess Story

The Princess Story
Ep 77. Dunia ini tidak adil


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, tabib datang membawa kotak obatnya. Tabib memeriksa keadaan Se Se, dia menghela napas dan berkata,


"Bayi di dalam baik-baik saja, tapi tubuh Permaisuri sangat lemah. Tolong perhatikan kesehatan anda Permaisuri. Jangan melakukan gerakan yang menguras tenaga, tubuh Permaisuri tidak sanggup menahannya."


"Terima kasih tabib, akan saya perhatikan." jawab Se Se.


Yu mengantar tabib keluar, sementara Se Se masih berbaring memikirkan siapa orang yang berusaha membunuhnya.


Raja Wei baru saja kembali dari tugasnya, dia terkejut saat melihat beberapa mayat pembunuh terletak di atas tanah.


"Xiao Se Se!" gumam Raja Wei.


Dia berlari dengan kecepatan penuh menuju kamar permaisurinya.


"Brakk!"


Pintu kamar dibuka dengan kasar, dia masuk dan segera memeluk gadis itu. Se Se hanya diam membeku karena bingung dengan perlakuannya.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Raja Wei dengan suara cemas.


"Saya baik-baik saja, hanya luka kecil." jawab Se Se dengan senyuman bahagia di wajahnya.


"Hufff..."


Raja Wei menghela napas karena merasa lega permaisurinya baik-baik saja. Namun sedetik kemudian matanya membesar, dia melepas pelukannya dan bertanya.


"Bayi kecil, bagaimana dengan bayi kecil?"


Se Se merasa terharu mendengar pertanyaan itu. Dia tidak percaya Raja Wei akan bertanya tentang bayinya dengan wajah secemas itu.


Walaupun Raja Wei pernah bilang dia akan menyayangi bayi di perutnya, dia menganggap kata-kata itu hanya untuk menghiburnya saja. Dia tidak menyangka Raja Wei benar-benar akan sayang pada bayi di perutnya yang entah bayi siapa.


Se Se memeluk Raja Wei dan berkata, "Kami baik-baik saja suamiku, maaf telah membuatmu khawatir."


Raja Wei memindahkan kamar mereka, dia tidak ingin permaisurinya tidur di kamar yang penuh dengan bau darah.


Raja Wei menemani permaisurinya hingga tertidur. Pemuda itu menuju ruang kerja saat Se Se sudah terlelap. Dia memerintahkan 10 anggota Pasukan Elang untuk melindungi permaisurinya.


"Yu, selidiki dalang dibalik pembunuhan ini!" perintah Raja Wei.


"Yang Mulia, saya menemukan benda ini di tubuh mereka." ucap Yu sambil menyerahkan stempel pembunuh bayaran pasar gelap.


"Selidiki mulai dari sana." ucap Raja Wei.


"Baik Yang Mulia." jawab Yu.


Yu masih berada di sana tanpa bergerak, Raja Wei bertanya padanya, "Apa masih ada hal lain?"

__ADS_1


"Yang Mulia, hamba bersalah karena gagal melindungi permaisuri. Hamba minta dihukum untuk kesalahan itu." ucap Yu sambil berlutut.


"Kamu akan dihukum dengan 30 cambukan, pergilah ke ruang hukuman." ucap Raja Wei.


"Terima kasih Yang Mulia." ucap Yu lalu pergi ke ruang hukuman.


Yu melaksanakan tugasnya setelah menerima hukuman. Dia pergi dengan luka cambuk yang tidak dibersihkan, hanya asal dibalut dengan kain putih.


Hari mulai terang, Raja Wei kembali ke kamarnya setelah selesai membaca dokumen. Istri tercintanya masih tidur dengan lelap, dia mengecup pipi gadis itu dan berbaring di sampingnya.


"Tok Tok Tok!"


Ling er mengetuk pintu kamar, Se Se membuka matanya, dia menatap Raja Wei yang tertidur dengan kening mengerut.


"Apa yang dia mimpikan? Kenapa keningnya berkerut seperti itu?" batin Se Se.


Se Se bangun dari tempat tidurnya, dia membuka pintu dan meminta Ling Er untuk tidak berisik. Dia tidak ingin Raja Wei terganggu.


Se Se membersihkan wajahnya dan mengganti pakaian. Dia duduk di halaman bersama Ling Er yang tengah merapikan rambutnya.


"Nona, apa nona tau Yu dihukum tadi malam?" tanya Ling Er.


"Tidak, kenapa dia dihukum?" tanya Se Se penasaran.


"Dia dihukum oleh Raja Wei karena nona terluka." jawab Ling Er.


"Hukuman cambuk sebanyak 30 kali nona." jawab Ling Er sambil mengerutkan alisnya.


"Dimana dia sekarang?" tanya Se Se khawatir.


"Yu sedang keluar, sepertinya Raja Wei menyuruhnya untuk melakukan sesuatu." ucap Ling Er.


"Suruh dia menemuiku jika sudah kembali." perintah Se Se.


"Baik Nona." jawab Ling Er.


Se Se kembali ke kamar, dia duduk di tepi tempat tidur memandang wajah suaminya.


"Apa yang ada di pikiran suamiku? kenapa dia tidur dengan wajah gelisah?" gumam Se Se.


"Aku memikirkan keselamatan istri dan bayi kecilku yang sedang terancam." jawab Raja Wei.


Raja Wei membuka matanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Se Se. Gadis itu berniat mengecup pipinya namun Raja Wei dengan sengaja mengarahkan bibirnya ke sana.


"Muach..!"


Wajah Se Se memerah, dia terlihat sebal karena di goda Raja Wei.

__ADS_1


"Pria mesum!" ucapnya dengan nada sebal.


"Tapi permaisuriku menyukainya kan?" ucap Raja Wei dengan senyum nakalnya.


"Menyebalkan!" jawab Se Se dengan wajah cemberut.


Raja Wei bangun dari tempat tidur, dia duduk di samping Se Se. Pemuda itu meletakkan telapak tangannya di perut Se Se dan berkata, "Bayi kecilku, saat ini permaisuri sedang merajuk. Apa yang harus kulakukan agar dia memaafkanku?"


Se Se tertawa kecil mendengar perkataan Raja Wei, dia menjawab, "Permaisuri anda ingin makan makanan manis, tolong belikan tanghulu untuknya."


Raja Wei mengelus perut Se Se yang masih ramping dan berkata, "Baik Yang Mulia, akan segera saya belikan."


"Pfff... "


Se Se menahan tawanya, dia merasa lucu melihat Raja Wei yang bertingkah seperti anak kecil.


"Pria ini sangat gampang berubah-ubah, kadang dia seperti bos besar yang tukang atur, kadang dia cengeng seperti seorang wanita, dan saat ini dia bersikap seperti anak kecil. Manakah dirimu yang sebenarnya?" batin Se Se.


Yu kembali dari tugasnya, dia menuju ke ruang kerja Raja Wei, dia masuk dan menunggu tuannya di sana.


Ling Er melihatnya dari kejauhan saat masuk ke ruangan itu, Ling Er menyusul dan menyampaikan pesan Se Se pada Yu.


Yu berjalan bersama Ling Er ke kamar Se Se, Raja Wei baru saja keluar untuk membeli tanghulu, Se Se duduk di taman depan kamar menikmati angin yang bertiup.


"Nona, Yu sudah kembali." lapor Ling Er.


"Hormat saya Permaisuri." ucap Yu memberi salam dengan sedikit menunduk.


"Buka bajumu!" perintah Se Se.


"Ya?" tanya Yu memastikan pendengarannya.


"Buka bajumu! jangan membuatku mengulangi ketiga kalinya." ucap Se Se dengan nada kesal.


Yu membuka bajunya dengan ragu-ragu, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh permaisuri, namun dia tidak berani menolak perintah Se Se.


Yu melepas semua bajunya, hanya sisa celana panjangnya saja. Ling Er menutup matanya saat melihat tubuh Yu, dia merasa malu melihat tubuh seorang pria.


"Duduk!" perintah Se Se.


Yu menurut dan duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah meja. Se Se membuka semua kain yang membalut lukanya. Kain itu telah dipenuhi oleh noda darah.


Banyak luka cambuk di tubuh pemuda itu, Se Se merasa kasihan melihatnya. Dia meminta Ling Er membawa air dan kain bersih.


"Dia mengorbankan nyawanya untuk menolongku, tetapi yang dia dapatkan hanya luka cambukan dan rasa sakit. Dunia ini benar-benar tidak adil." batin Se Se.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2