
Raja Wei panik dan segera mencabut pedangnya dari bahu gadis itu.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Raja Wei dengan wajah panik.
Pemuda itu melangkah mendekat, Se Se dengan waspada melangkah mundur menjauh darinya.
Se Se mengeluarkan pistol dan bersiap menembak pemuda itu jika dia menyerangnya lagi.
"Yu, panggilkan tabib!" perintah Raja Wei dengan wajah cemas.
"Apa pria ini sudah gila? Bukankah dia ingin membunuhku?" tanya Se Se dalam batin.
Se Se tidak mengerti apa yang dilakukan Raja Wei. Kenapa dia memanggil tabib jika ingin membunuhnya?
Se Se masih memegang pistol di tangannya, dia tidak percaya Raja Wei akan berbaik hati padanya. Dia memasang sikap waspada di hadapannya.
Raja Wei mengetahui pemikiran gadis itu. Dia menyarungkan pedangnya kemudian berkata, "Aku tidak bermaksud melukaimu."
"Anda tidak bermaksud melukaiku, tapi aku sudah terluka karena Anda!" jawab Se Se dengan wajah sinisnya.
Raja Wei melangkah lagi mendekati gadis itu, Se Se mengangkat tangannya yang memegang pistol dan mengarahkan pistol itu ke tubuh Raja Wei.
"Menjauhlah dariku!" perintah Se Se dengan mengacungkan pistolnya.
Raja Wei menatap gadis itu dengan wajah kesal kemudian bertanya, "Apa Anda berani membunuhku? Nona Flo?"
"Saya tentu saja tidak berani melakukannya, tapi saya tidak keberatan untuk mati bersama Anda!" jawab gadis dengan nada mengancam.
Tabib datang, Yu membuka pintu kamar dan langsung panik saat melihat pistol sedang di arahkan ke tubuh majikannya.
"Nona Flo...!" ucap Yu dengan suara keras.
Se Se menatap Yu dan perlahan menurunkan pistolnya. Dia merasa seluruh tubuhnya sedang protes karena kelelahan.
Gadis itu tidak tidur dengan nyenyak beberapa hari ini karena perjalan jauh dan merawat Raja Wei, ditambah dengan lukanya saat ini masih mengeluarkan banyak darah. Pandangan matanya mulai buram, tubuhnya kehilangan tenaga.
Tubuhnya hampir terjatuh, dia bersandar ke dinding tembok dan melihat ke arah Yu.
"Yu, tolong antarkan aku ke kamar." pintanya dengan wajah pucat.
Raja Wei mulai gelisah dan khawatir. Dia selalu bertindak bodoh di luar akal sehatnya jika bertemu dengan wanita itu. Hatinya mulai merasa bersalah.
Yu menatap tuannya seolah meminta izin darinya. Raja Wei mengalihkan pandangannya ke Yu dan mengangguk sekali.
Yu menopang tubuh lemah gadis itu dan mengantarnya ke kamar. Tabib mengikuti dari belakang.
Setelah sampai di kamarnya, Se Se menyuruh Yu dan tabib untuk meninggalkan ruangan itu. Dia bisa mengobati lukanya sendiri, tidak memerlukan tabib.
__ADS_1
"Hufff...."
Se Se menghela napas panjang dan kemudian bergumam, "Darahku menjadi sia-sia karena Raja Wei yang bodoh itu!"
Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik dan menyuntik lengannya dengan obat pereda sakit. Dia membersihkan luka nya dengan air dingin yang ada di samping tempat tidur.
Setelah selesai mengobati lukanya, dia berniat membuang air itu. Tapi saat menatap air bercampur darah yang ada di dalam ember, terlintas sebuah ide di kepalanya.
Dia keluar dari kamarnya dan mengajak Yu pergi ke tempat pengungsian orang sakit.
"Nona, luka Anda?" tanya Yu khawatir.
"Saya tidak apa-apa. Kita akan pergi menyelamatkan mereka sekarang!" ucap Se Se tersenyum lebar.
Yu mengerurkan dahinya namun tetap menjalankan perintah dari Nona itu.
Yu naik ke atas kudanya dan membantu Se Se untuk duduk di belakangnya. Yu tidak ingin gadis itu berkuda sendiri dalam kondisi terluka.
Yu memacu kudanya dengan pelan agar luka gadis itu tidak terasa sakit dengan gerakan kuda yang bergoyang.
Raja Wei menatap mereka dengan menahan amarah dan api cemburu dihatinya.
"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak suka Yu dekat dengan gadis itu? Apakah aku menyukainya?
"Tidak, tidak mungkin! Aku tidak mungkin menyukai dua gadis dalam waktu yang sama." ucap Raja Wei dalam batinnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Yu dan Se Se sampai di tempat pengungsian. Dia mengeluarkan sebotol obat dari lengan bajunya dan memberikan air itu kepada seorang anak kecil di sana.
Anak itu mengangguk pelan. Tubuhnya terlihat sangat lemah. Dia menerima air itu dan meminumnya.
Yu menatap mereka dengan wajah harap-harap cemas. Dia tidak yakin air itu bisa menyembukan wabah penyakit ini.
Yu membantu anak itu berbaring. Mereka keluar dari sana dan menunggu di luar gubuk.
"Nona, Apa Anda yang membuat obatnya?" tanya Yu.
Se Se menoleh menatapnya kemudian menjawab, "Aku tidak membuatnya, obat itu sudah ada sejak awal."
Yu mengerutkan dahinya. "Apa maksudnya sudah ada sejak awal?" batin Yu.
Waktu berlalu beberapa menit, anak itu keluar dari gubuk dengan langkah bertenaga, tidak seperti orang yang sakit.
Yu menatap anak itu dengan wajah tak percaya, baru beberapa menit saja anak itu sudah terlihat sehat.
"Nona, obat apa ini? Dari mana Nona mendapatkannya?" tanya Yu dengan mata berbinar dan wajah yang bersemangat.
Se Se tersenyum dan menjawab, "Rahasia!"
__ADS_1
Yu mengerutkan alisnya dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Se Se tertawa kecil melihat wajah penasarannya itu.
"Yu, tolong bawakan beberapa air dari kediaman Wali Kota! Kita akan mulai membagikan obat ini."
"Baik, Nona."
Yu menyampaikan kabar ini kepada Raja Wei. Mereka membawa beberapa tong berisi air ke pengungsian.
"Nona, airnya sudah hamba bawakan." ucap Yu.
"Terima Kasih, maaf sudah merepotkanmu Yu." jawab Se Se sambil tersenyum manis.
Raja Wei melihat senyuman itu, dia merasa kesal dengan gadis yang tersenyum kepada pria lain dihadapannya.
"Gadis ini membuatku gila. Kenapa dia selalu membuat hatiku kacau seperti ini?" batin Raja Wei.
Yu memindahkan tong air ke samping pintu gubuk.
"Yu, bantu aku menuang air di botol ini ke dalam tong." pinta Se Se.
"Baik, Nona." ucap Yu lalu mulai membuka botol dan menuang air ke dalam tong.
Raja Wei menatapnya dengan curiga.
"Air berwarna merah seperti darah itu bisa menyembuhkan penyakit? batin Raja Wei.
Yu mencium bau amis dari air itu. Dia mulai membayangkan hal-hal aneh di pikirannya.
"Apakah botol ini berisi darah? Bau amis darah tercium dari air ini." batin Yu.
Yu membagikan air itu kepada semua pasien. Dalam waktu singkat, sakit yang diderita oleh mereka langsung menghilang.
Orang-orang yang sudah sembuh itu kemudian berlutut mengucapkan Terima Kasih kepada gadis itu. Se Se tersenyum ramah dan meminta mereka untuk segera berdiri.
Kembali ke kediaman Wali Kota. Se Se mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Raja Wei sedang duduk di halaman kamarnya. Yu berdiri di sampingnya seperti biasa.
"Yu, air apa yang ada di dalam botol itu?" tanya Raja Wei pada pengawal setianya.
"Hamba tidak tau Yang Mulia." jawab Yu.
Raja Wei dan Yu terdiam beberapa saat. Tiba-tiba Yu teringat bau dari air itu.
"Yang Mulia..." gumam Yu pelan.
Raja Wei menoleh ke pengawalnya, dia tau ada yang ingin disampaikan oleh Yu.
__ADS_1
" Ada apa? Katakanlah!" ucap Raja Wei.
^^^BERSAMBUNG...^^^