The Princess Story

The Princess Story
Episode 265


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak Max menemui Se Se, pria itu sudah menyerahkan kepala Pangeran Yohanes kepadanya. Sesuai janji, Se Se akan membantu menyelamatkan Max dari hukuman mati. Karena itu, Se Se meminta Max untuk menutup mulut atas kejadian ini.


Wanita itu berencana untuk memalsukan kematian Pangeran Yohanes sebagai ulah dari perampok yang mengincar harta Pangeran Yohanes. Oleh sebab itu, Max diminta untuk kembali ke rumah persembunyian Pangeran Yohanes.


Tempat yang memang sudah berantakan itu, terlihat seperti habis dirampok. Oleh karena itu, Max tidak diperbolehkan menyentuh tempat itu sebelum Se Se mengirim orang ke sana. Max mendengarkan semua perintah dari Se Se. Dia mencari beberapa pelayan wanita yang sudah kabur dari sana, mereka di minta untuk kembali dan bekerja sama agar kejadian ini tidak tersebar.


Setelah semua pelayan wanita itu setuju, Max berjanji akan memberikan kehidupan yang layak untuk mereka di kemudian hari. Max yang akan mempekerjakan mereka semua dengan perlakuan yang lebih baik dan tentu saja Max tidak akan bertindak kasar seperti yang dilakukan oleh Pangeran Yohanes terhadap mereka.


Hari yang dijanjikan pun tiba, Se Se mengirim Ti Yi dan Ti San ke sana. Mereka berdua yang akan melanjutkan pemeriksaan kasus perampokan dan pembunuhan terhadap Pangeran Yohanes. Tentu saja semua hanya rekayasa dari keduanya agar Max tidak menjadi tersangka.


Rencana berjalan mulus seperti keinginan Se Se, tentu Raja Wei juga membantu dalam menutupi kasus ini. Pangeran Andrew meminta maaf secara resmi karena percobaan pembunuhan yang di rencanakan oleh Pangeran Yohanes terhadap Permaisuri Raja Wei.


Se Se menerima permintaan maaf itu, sebagai gantinya, dia meminta agar para budak yang bekerja di bawah nama Pangeran Yohanes menjadi miliknya. Syarat itu di setujui oleh Pangeran Andrew, dia memberikan semua hak atas budak-budak itu ke tangan Permaisuri Raja Wei yang menjadi korban atas tindakan jahat adiknya.


Li Ying dan semua rekannya di bebaskan dari perbudakan, status mereka kini menjadi rakyat negara Han yang baru. Mereka berjanji akan menetap di negara Han sampai ajal menjemput mereka.


Wanita-wanita itu berterima kasih kepada Se Se, berkat dia, mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Max sebagai pengawal yang sudah dibebas tugaskan, dia menerima tugas baru dari Se Se.


"Mulai hari ini, kamu akan bekerja dibawah perintah ku!" ucap Se Se.


"Baik Yang Mulia." jawab Max.


"Tugas pertama untukmu, kamu harus mendirikan kelompok dagang terbesar di negara ini. Tidak hanya sebagai sumber keuangan, kamu juga harus menjadi sumber informasi. Kelompok dagang harus memiliki semua informasi yang diketahui maupun tidak diketahui oleh orang lain. Bisakah kamu melakukan itu?" tanya Se Se.


"Saya akan berusaha keras untuk melakukannya!" jawab Max.


"Bagus, mulai sekarang, laporkan semua kegiatan yang akan kamu lakukan di masa depan tanpa terkecuali. Uang yang kamu dapatkan akan menjadi milikmu secara pribadi, aku tidak akan mengambilnya. Jadi pakailah uang itu untuk mewujudkan keinginanmu!" ucap Se Se.


"Terima kasih Yang Mulia." jawab Max.


"Satu hal terakhir dan yang terpenting! Aku tidak suka dihianati, jadi aku harap kamu akan selalu setia, jangan mengecewakan kepercayaan yang sudah kuberikan kepadamu!" ucap Se Se.

__ADS_1


"Saya akan selalu mengingatnya Yang Mulia." jawab Max.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pangeran Andrew dan rombongannya kembali ke negara mereka, namun Pangeran Arnold meminta izin untuk menetap di kekaisaran Han selama beberapa tahun. Izin itu juga sudah di setujui oleh Kaisar Han.


Mariane telah meminta cerai dari Pangeran Andrew, laki-laki itu menyetujui permintaan cerai dari Mariane karena dia merasa bersalah terhadap istrinya itu.


Mariane memilih untuk tinggal bersama Pangeran Arnold di kekaisaran Han. Mereka berdua menetap di rumah singgah yang dipinjamkan oleh Raja Wei.


Seminggu telah berlalu sejak permintaan pengiriman bala bantuan di terima. Ye Yuan bersiap untuk pergi ke perbatasan Utara.


"Kak Ye Yuan...!" panggil Se Se dengan wajah sedih.


Wanita itu berdiri di depan gerbang pintu masuk ibukota untuk mengantar kepergian Ye Yuan. Perdana Menteri Huang dan Raja Wei juga mengantar kepergian pria itu.


"Jangan menangis, Kakak akan kembali secepatnya." ucap Ye Yuan sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus adiknya.


"Ayo kita pergi!" ucap Ye Yuan.


Ribuan kuda dan jutaan prajurit meninggalkan ibu kota. Jutaan wanita dan pria baik istri maupun orang tua melepas kepergian mereka dengan tangisan dan air mata. Entah berapa tahun perang akan berlangsung, selama itu pula mereka tidak akan bisa makan dan tidur nyenyak karena memikirkan nasib keluarga mereka yang sedang berperang.


Se Se kembali ke kediamannya, dia berada di kamar dengan mata yang bengkak dan wajah sembab karena terlalu lama menangis.


Dia mengingat kembali kata-kata Raja Wei kepadanya tadi malam.


Flashback


"Aku akan pergi ke perbatasan Utara!" ucap Raja Wei.


"Kapan?" tanya Se Se.

__ADS_1


"Besok!" jawab Raja Wei.


"Ke... Kenapa secepat itu?" tanya Se Se yang gugup mendengar kabar mengejutkan itu.


"Aku baru saja memutuskannya, ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu. Tolong dengarkan aku sampai selesai, tanpa bertanya apapun!" ucap Raja Wei.


Raja Wei mulai menceritakan kejadian yang telah menimpa Ye Yuan. Dia juga bercerita tentang Huo Feng yang memberinya kabar tentang Ye Yuan. Selesai mendengar semua hal mengejutkan itu, Se Se akhirnya mengerti, kenapa pria dihadapannya ini memilih untuk pergi ke perbatasan utara.


"Berjanjilah Xuan akan kembali dengan selamat!" pinta Se Se.


Raja Wei menatap istrinya, dia memeluk wanita itu dan berkata kepadanya, "Aku akan kembali dengan selamat."


"Berjanjilah untuk membawa Kak Ye Yuan pulang bersama Xuan!" pinta Se Se.


"Aku berjanji akan membawa Ye Yuan kembali ke rumah." jawab Raja Wei.


"Berjanjilah Xuan akan makan dan tidur dengan baik di sana!" pinta Se Se yang mulai meneteskan air mata.


"Aku berjanji!" jawab Raja Wei.


"Berjanjilah Xuan akan mengirimiku surat setiap kali Xuan ada waktu!" pinta Se Se, kali ini suaranya terdengar serak dan terisak.


"Istriku, aku berjanji akan melakukan semua permintaanmu. Jangan menangis! Hatiku terasa tercabik-cabik melihatmu seperti ini." ucap Raja Wei.


Se Se menghapus air matanya, namun dia masih terisak karena mencoba menahan tangisannya.


"A... Aku su.. sudah men... men..coba un... untuk ti... ti...dak me... me.. nangis, hikzz... Ta... tapi air ma... mata ini te... terus sa... sa...ja me... mengalir." ucap Se Se yang semakin terisak dengan suara yang tersendat-sendat.


Raja Wei menatap wajah istrinya yang sudah basah karena air mata, dia memegang kedua pipi istrinya lalu mencium bibir merah di sana untuk menghentikan tangisannya.


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2