
Se Se tertidur lelap di ranjang bersama kedua anaknya. Thien Si Rui mendekat ke ranjang, dia menatap Se Se kemudian membelai wajahnya yang terlihat sedang bermimpi buruk.
"Wajah gadis ini benar-benar cantik, aku baru pertama kali melihat gadis secantik dia seumur hidup ku. Fiuhhh... Apa yang sedang ku pikirkan? Gadis ini adalah istri dari teman ku, aku tidak boleh memiliki perasaan untuk nya." batin Thien Si Rui.
Thien Si Rui menjauhkan jarinya, tapi tiba-tiba Se Se menahan lengan pria itu.
"Jangan tinggalkan aku..." gumam Se Se.
"Han Ze Xuan akan kembali untuk mu. Dia tidak akan mungkin rela kehilangan gadis secantik dan sebaik dirimu. Jangan terlalu khawatir, istirahatlah dengan nyaman." ucap Thien Si Rui sambil melepaskan genggaman Se Se secara perlahan.
Thien Si Rui menyelimuti Se Se dan kedua anaknya, dia kembali ke kursi panjang di dalam kamar dan berbaring di sana.
"Aku akan melindungi kamu dan anak-anak mu sampai Han Ze Xuan kembali." batin Thien Si Rui.
Hari menjelang pagi, Thien Si Rui membuka matanya dan menatap Se Se yang masih menyusui Xia Xia. Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya ke arah dinding, jantungnya mulai berdebar kencang dan wajahnya memerah karena tanpa sengaja melihat tubuh Se Se yang sedikit terbuka.
"Maaf, saya tidak tahu jika anda sedang ..." ucap Thien Si Rui.
"Anda terlihat sangat polos Yang Mulia, apakah anda belum memiliki anak?" tanya Se Se sambil tersenyum lucu melihat tingkah Thien Si Rui.
"Saya belum memiliki Ratu, bagaimana mungkin bisa memiliki anak!" jawab Thien Si Rui.
"Kaisar Langit yang terkenal tampan belum menikah di usianya yang mulai masuk 30 tahun?" tanya Se Se dengan wajah penasaran.
"Saya tidak akan menikah dengan wanita sembarangan, Ratu Kerajaan Langit harus lah wanita yang baik hati dan berbudi luhur." jawab Thien Si Rui.
"Bagaimana dengan Selir?" tanya Se Se lagi.
"Saya tidak ingin memiliki Selir. Seumur hidup, saya hanya akan memiliki satu wanita saja. Itu adalah tradisi Kerajaan Langit yang sudah turun temurun." jawab Thien Si Rui.
"Andai saja semua pria di dunia ini memiliki sifat seperti Yang Mulia, pasti hidup wanita akan lebih bahagia." ucap Se Se.
"Kenapa anda berkata seperti itu? Bukan kah Han Ze Xuan juga hanya memiliki satu wanita saja?" tanya Thien Si Rui.
"Saya berharap akan seperti itu selamanya, tapi hidup ini masih panjang, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan." jawab Se Se dengan nada sedih.
"Apakah Han Ze Xuan memiliki wanita lain di hati nya?" batin Thien Si Rui.
"Saya akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan, jika sudah selesai ... turunlah ke bawah untuk sarapan bersama." ucap Thien Si Rui.
"Baik Yang Mulia, Terima Kasih." jawab Se Se.
__ADS_1
Thien Si Rui membalikkan tubuhnya sambil memejamkan mata, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Brukkk!"
Tanpa sengaja Thien Si Rui menabrak tembok yang ada di kamar.
"Pfff... Hahaha..."
Se Se tidak bisa menahan tawanya saat melihat sikap Thien Si Rui yang sangat konyol.
"Ehemmm... maaf, saya tidak bisa menahan tawa saat melihat hal lucu." ucap Se Se sambil menahan tawanya yang masih terdengar.
Wajah Thien Si Rui merona, dia merasa sangat malu dengan tingkahnya sendiri. Perlahan dia meraba dinding dan mencari pintu keluar, Se Se masih menatap pria itu dan menahan tawanya.
Setelah beberapa saat meraba-raba dinding, Thien Si Rui akhirnya menemukan pintu keluar. Dia membuka pintu dan keluar dari kamar kemudian menutup kembali pintu kamar dengan perlahan.
"Hahaha.... Dia benar-benar lucu!" tawa Se Se pecah, dia tidak dapat menahan nya lagi.
Namun tawanya lenyap begitu saja saat teringat Raja Wei, wajahnya kembali murung.
"Xuan, di mana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Aku sangat merindukan mu." batin Se Se.
Se Se membawa kedua bayi nya turun ke bawah, dia berjalan menuju meja Thien Si Rui kemudian duduk di depannya.
"Tidak perlu, saya bukan pemilih makanan. Tapi makanan ini tidak boleh di makan Yang Mulia." jawab Se Se.
"Apa maksudnya tidak boleh di makan?" batin Thien Si Rui.
"Brukkk!"
"Brakkk!"
"Brukkk!"
Satu persatu pengawal mulai pingsan, makanan yang mereka makan mengandung obat tidur.
"Hahaha... tidak ku sangka Permaisuri masih saja tetap pintar." ucap Han Ze Liang yang baru saja keluar dari balik pintu dapur.
"Kau lah yang terlalu bodoh!" jawab Se Se dengan wajah dingin.
"Aku ingin lihat sampai kapan Permaisuri bisa bersikap sombong!" ucap Han Ze Liang.
__ADS_1
Se Se memeluk erat Xin Xin dan Xia Xia, dia mengikat mereka berdua di tubuhnya.
Thien Si Rui menarik pedang dan mulai menyerang Han Ze Liang, dalam beberapa detik saja pria itu sudah tergeletak di lantai.
"Siapa bajingan ini? Berani sekali kau menghalangi ku!" ucap Han Ze Liang dengan penuh amarah.
Thien Si Rui menutup mata Se Se dengan sebuah kain hitam, dia mengayunkan pedang nya ke bahu Han Ze Liang.
"Akhhh!"
Han Ze Liang menjerit kesakitan, tangan kanannya kini terpisah dari tubuhnya.
"Apa yang terjadi pada Han Ze Liang? Kenapa suara jeritannya terdengar sangat mengerikan." batin Se Se.
"Yang Mulia...! ucap Se Se.
"Duduk diam di sana, jangan bergerak! Percaya saja pada saya, orang-orang rendahan ini tidak akan bisa melukai anda." ucap Thien Si Rui.
Para pembunuh yang menyamar sebagai pelayan mulai menyerang Thien Si Rui. Untung saja kemampuan pria itu sangat luar biasa, dalam beberapa menit saja semua pembunuh sudah mati bersimbah darah.
Sisa Han Ze Liang yang berusaha melarikan diri, dia berlari ke arah pintu keluar. Thien Si Rui melemparkan pedangnya hingga menancap di tubuh Han Ze Liang. Pria itu terjatuh dan mati dengan mengenaskan.
Thien Si Rui menebar bubuk penawar obat bius, para pengawal terbangun dan segera membereskan barang-barang bawaan mereka sesuai perintah Thien Si Rui.
"Maaf jika ini membuat anda tidak nyaman, saya akan membawa anda ke dalam kereta sebelum membuka penutup mata ini." ucap Thien Si Rui.
Thien Si Rui menggendong tubuh Se Se dengan hati-hati dan membawanya masuk ke dalam kereta.
Thien Si Rui melepaskan ikatan kain di mata Se Se. Dia mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan percikan darah yang menempel di wajah gadis itu.
"Saya takut anda akan terkejut melihat mayat yang penuh darah, maaf jika sudah membuat anda tidak nyaman." ucap Thien Si Rui menjelaskan.
"Sa... Saya tidak apa-apa Yang Mulia. Saya akan membersihkannya sendiri." ucap Se Se gugup.
Se Se mengambil sapu tangan dari Thien Si Rui dan mengusap-usap wajahnya. Namun gerakannya yang asal-asalan malah membuat percikan darah semakin meluas.
Thien Si Rui menghentikan tangan Se Se, "Jangan terlalu kasar, wajah anda bisa terluka nanti! Biar saya saja yang membantu anda membersihkan nya." ucap Thien Si Rui.
Mereka berdua saling bertatapan, Se Se merasa canggung namun berbeda dengan Thien Si Rui. Hatinya kini berdebar dan berdegup kencang.
"Apakah aku mulai menyukai gadis ini?" batin Thien Si Rui.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^