
Se Se menembak dengan cepat, namun jarak mereka terlalu dekat, beberapa pengawal berhasil menahan tangannya. Dia tidak memiliki tenaga untuk melawan mereka, obat tidur dalam tubuh gadis itu belum hilang sepenuhnya.
"Swishhh...! Zrakkk...!"
Seorang pemuda menyelinap masuk ke sana dan membunuh para penjaga yang menyerang Se Se.
"Berhenti! akan kubunuh wanita ini jika kau berani mendekat!" ancam seorang pengawal dengan mengarahkan pedang ke leher Se Se.
Se Se menoleh ke arah pemuda itu, dia merasa lega saat melihat wajah seseorang yang dia kenal.
"Xuan ..." gumamnya dengan suara lemah.
"Lepaskan gadis itu! aku akan mengampuni nyawamu jika kau tidak melukainya." ucap pemuda itu.
"Hehe... kau pikir aku bodoh? aku akan segera kehilangan nyawa jika melepaskannya." jawab pengawal dengan menekan pedang ke leher Se Se.
Leher gadis itu mulai mengeluarkan darah akibat pedang tajam yang melukainya. Darah Raja Wei seolah mendidih melihat darah mengalir dari leher mulus istrinya, namun dia tidak berani berbuat nekat. Keselamatan Se Se adalah hal yang utama baginya.
Se Se mengeluarkan belati dari lengan baju, dia menusuk jantung pengawal itu dengan gerakan gesit, pengawal itu terjatuh dan mati seketika.
Raja Wei dengan cepat memeluk Se Se, dia merasa lega gadis itu sudah di temukan.
"Maaf, lagi-lagi aku terlambat. Maafkan aku Xiao Se Se." ucap Raja Wei tanpa sadar menyebut nama panggilan yang dia buat untuk Se Se.
"Xiao Se Se?" batin Se Se.
Se Se mendorong pemuda itu, dia menatap wajahnya dengan tatapan menyelidik.
"Siapa kamu sebenarnya? Kamu adalah ... " kata-katanya terhenti, dia tidak sanggup menyebut kata Raja Wei.
Se Se mengingat kembali kejadian di hutan, pemuda itu mengaku bahwa dia adalah suaminya, pemuda itu juga berkata Raja Wei sudah tertolong karena Se Se telah menolong Xuan.
"Xiao Se Se ... " pemuda itu mendekat dan memanggil namanya dengan pelan.
__ADS_1
Se Se menatap wajah pemuda itu, matanya mulai berkaca-kaca. Raja Wei mengelus pipinya dengan lembut, dia kembali memeluk Se Se yang masih diam dalam lamunannya.
Se Se merasa hatinya sangat kacau, entah dia harus tertawa atau menangis mengetahui bahwa Raja Wei dan Xuan adalah orang yang sama.
Dia marah karena telah dipermainkan oleh pemuda itu berkali-kali, dengan bodohnya dia tidak menyadari bahwa mereka adalah orang yang sama. Namun dia senang karena ayah dari bayi di dalam perutnya adalah Raja Wei dan orang yang mengambil malam pertamanya juga adalah suaminya sendiri.
"Bagaimana aku harus menanggapi semua ini? Bagaimana aku harus mengatakan rahasia ini pada Raja Wei? atau Xuan?" benak Se Se.
Raja Wei melepas pelukannya, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian membersihkan darah di leher gadis itu.
"Sakit kah?" tanya Raja Wei dengan wajah cemas.
" ... " Se Se tidak menjawabnya, dia hanya menatap wajah Raja Wei yang kini polos tanpa topeng.
"Apakah kamu... marah padaku?" tanya Raja Wei sambil menatap kedua mata Se Se.
" ... " Gadis itu tetap menutup rapat mulutnya.
"Kamu... tidak ingin berbicara denganku?" tanya Raja Wei dengan wajah memelas.
"Aku akan menunggumu hingga memaafkan ku. Sekarang, kita harus kembali ke Ibu Kota. Mari kita pulang ke rumah!" ucap Raja Wei sambil mengulurkan tangannya.
Se Se masih diam memandang wajah Raja Wei. Wajah tanpa ekspresi gadis itu membuat hati Raja Wei terluka. Dia khawatir Se Se tidak dapat menerima dirinya, dia khawatir gadis itu akan meninggalkan Raja Wei dan kembali ke keluarga Huang. Hatinya begitu gelisah memikirkan semua kemungkinan itu.
Raja Wei menggendong Se Se dalam pelukannya, dia membawa gadis itu masuk ke sebuah kereta kuda. Yu menjadi kusir, beberapa anggota Pasukan Elang berjaga di sekeliling kereta kuda, kini Raja Wei tidak bisa lengah dan membiarkan permaisurinya diculik lagi. Dia memanggil pasukan Elang untuk melindungi Se Se selama perjalanan kembali.
Perjalanan mereka masih panjang, Raja Wei terus mengajak gadis itu berbicara selama di dalam kereta. Namun Se Se tetap menutup mulutnya dengan wajah tanpa ekspresi, sudah seharian dia berwajah seperti itu.
Yu ikut mencemaskan Permaisuri, dia merasa bersalah karena telah lalai melindungi istri dari Tuannya. Yu tidak mengetahui bahwa Se Se merasa syok melihat wajah asli Raja Wei, dia bersikap seperti itu bukan karena telah di culik.
Rombongan itu telah sampai di Ibu Kota, Raja Wei meminta Yu untuk melambatkan laju kuda. Dia tidak ingin membangunkan Se Se yang sedang tertidur. Raja Wei memindahkan tubuh Se Se ke dalam pangkuannya, dia berharap gadis itu bisa tidur dengan lebih nyaman.
Kereta kuda sudah tiba di depan Kediaman Raja Wei, beberapa pelayan menyambut kepulangan tuannya. Raja Wei menggendong Se Se turun dari kereta dan membawanya ke kamar. Hatinya masih gelisah karena Se Se belum mau berbicara padanya.
__ADS_1
Raja Wei membaringkan Se Se di tempat tidur, dia menutupi tubuhnya dengan selimut tipis. Jarinya menyentuh wajah gadis itu, dengan pelan dia mengelus dan mengecup pipinya.
"Sampai kapan kamu akan mengabaikan ku?" gumam Raja Wei, kemudian dia berdiri dan melangkah keluar dari kamar.
Se Se membuka matanya, seketika bibirnya tersenyum ceria, dia berkata, "Aku akan mengabaikanmu sampai bayi kita lahir."
"Suami ku ternyata sangat imut, dia bahkan khawatir aku akan meninggalkannya. Hehe..." benak Se Se.
Dia mendengar semua ucapan Raja Wei saat tidur di dalam kereta.
"Aku tidak berniat berbohong, aku tidak sengaja melakukannya. Semua itu terjadi begitu saja tanpa di rencanakan. Tolong maafkan kesalahanku, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku tidak bisa hidup tanpa mu." ucapan Raja Wei saat di dalam kereta kuda.
Beberapa bulan berlalu, Raja Wei masih diabaikan oleh istrinya. Mereka makan dan tidur bersama, namun Se Se tidak mau berbicara dengan Raja Wei, meskipun pemuda itu selalu mengajaknya bicara dan bertanya ini itu padanya.
Kandungan Se Se sudah masuk usia 9 bulan, tinggal menunggu waktu persalinan. Raja Wei mencari bidan bersalin yang terbaik di Ibu Kota dan menyediakan kamar untuknya di dalam kediaman. Dia tidak ingin terlambat mendapat bidan untuk menangani istrinya saat bersalin.
Ye Yuan berkunjung ke kediaman Raja Wei, dia kangen pada adiknya karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Se Se duduk di taman bersama Ye Yuan, mereka mengobrol hal tentang masa kecil Huang Se Se yang asli. Ye Yuan mengelus kepala adiknya dan berkata, "Kakak akan selalu ada untukmu, hiduplah dengan bebas dan bahagia, sesuai keinginan hatimu. Hanya itu harapan ku."
"Terima kasih Kak, aku sangat bahagia di sini." jawab Se Se dengan senyuman manis di wajahnya.
"Akhh!"
Se Se memegang perutnya yang terasa sakit, darah mengalir dari bawah perutnya menuju kaki. Ye Yuan panik melihat darah itu, dia segera berteriak memanggil tabib.
^^^BERSAMBUNG...^^^
Ayo tebak anak pertama Raja Wei dan Se Se berjenis kelamin apa?😁
A. Laki-laki
B. Perempuan
__ADS_1
C. Dua-duanya
D. Tulis jawaban sendiri di kolom komentar ✌