
"Dengan janji ini, kamu tidak akan hidup sendiri! Burung jelek ini tidak akan membangkitkan jiwa mu saat kamu sudah lelah menjalani hidup mu." ucap Raja Wei.
Se Se menatap burung Phoenix dengan tatapan menyelidik. "Burung ini pasti memiliki tujuan lain, tapi aku tidak akan mengetahui apa tujuannya hingga kontrak selesai di buat!" batin Se Se.
"Kontraklah dengan ku! Aku mohon!" ucap Phoenix kembali dengan wajah memohon.
"Ckk! Baiklah, aku akan melakukan kontrak ini!" jawab Se Se dengan wajah terpaksa.
"Yah... Ayo kita lakukan sumpah kontrak!" ucap Phoenix gembira.
Phoenix menundukkan kepalanya di depan Se Se sambil berkata, "Aku Raja dari segala burung, pemilik dari istana Phoenix di nirwana menawarkan sumpah setia kepada manusia pemilik kekuatan suci. Kami akan berbagi segalanya mulai dari waktu kontrak ini di buat!"
"....."
"Manusia! Kau juga harus mengucapkan janji kontrak!" ucap Phoenix setelah melihat Se Se tidak mengucapkan sumpahnya.
"Aku Huang Se Se bersedia menjalin kontrak dengan Phoenix." ucap Se Se.
"Letakkan tanganmu di sini!" ucap Phoenix sambil menundukkan kepala.
Se Se menaruh telapak tangannya di kening phoenix, dalam sekejap muncul bentuk simbol bara api di kening Se Se dan Phoenix.
"Kontrak selesai! Manusia, tolong beri aku nama!" ucap Phoenix.
"Nama? Kenapa aku harus memberi mu nama?" tanya Se Se.
"Karena mulai sekarang kau adalah pemilik dari Phoenix ini, aku perlu nama agar bisa di panggil saat kau memerlukan bantuan dari ku!" jelas Phoenix.
"Plokkk!"
Se Se menjitak kepala phoenix .
"Hey! Kenapa kau memukul kepala ku?" tanya Phoenix sambil memegang kepalanya memakai kedua buah sayapnya.
"Karena kamu itu tidak sopan! Bicaralah dengan sopan dengan pemilikmu ini! Kenapa kamu selalu memakai kata 'Kau' saat berbicara dengan pemilikmu?" ucap Se Se dengan wajah tegas.
"Itu karena aku sudah terbiasa! Kenapa kau sangat perhitungan dengan hal kecil ini?" ucap Phoenix dengan wajah kesal.
"Plokkk!"
Se Se kembali menjitak kepala Phoenix.
"Berbicaralah dengan sopan sebelum aku mencabut bulu bulu mu itu!" ancam Se Se.
"Ahhh!! Baik, baik lah! Aku akan berbicara dengan sopan. Sekarang, bisakah Nona memberiku nama?" ucap Phoenix.
"Huo Huo!" ucap Se Se sambil berpikir.
__ADS_1
"Huo Niao?"
"Ta Huo?"
"Kenapa kau memberiku nama sejelek itu?" teriak Phoenix kesal.
"Kalau begitu, cari saja nama untuk dirimu sendiri!" ucap Se Se.
"Xiao Feng!" ucap Raja Wei.
*Xiao artinya kecil
"Aku ini Phoenix besar!" teriak Phoenix kesal.
"Bukankah saat ini kau sekecil burung gereja?" sindir Raja Wei.
"Aku seperti ini karena kehabisan energi! Bentuk asli ku itu bahkan lebih besar dari istana!" teriak Phoenix.
"Diamlah! Tutup mulut mu! Aku pusing mendengar suara nyaringmu itu!" ucap Se Se.
"Huu... Hu.... Hu... Kalian suami istri selalu membully ku sejak tadi. Aku tidak mau hidup lagi! Hu..m Hu... Hu...!" ucap Phoenix sambil pura pura menangis.
"Hey burung jelek! Jika kau tidak diam sekarang juga, aku benar benar akan mencabut bulu mu!" ancam Se Se.
Phoenix segera menutup mulutnya dengan kedua sayap. Phoenix kemudian terbang ke bahu Se Se yang sedang terdiam memikirkan nama untuknya.
"Burung jelek, jangan menyentuh istriku!" ucap Raja Wei.
"Dia itu majikan ku! Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya?" bentak Phoenix.
"Karena dia itu istri ku dan kau hanya burung jelek yang di pelihara oleh istri ku!" jawab Raja Wei.
"Feng Huang, apa jenis kelamin mu?" tanya Se Se menhentikan pertengkaran mereka."
"Aku tidak tau, Phoenix tidak memiliki jenis kelamin. Kami menentukan jenis kelamin saat susah dewasa." jawab Phoenix.
"Kalau begitu, kamu ingin jadi wanita atau pria?" tanya Se Se.
"Ehmmm... Aku ingin menjadi pria saja agar bisa terlihat keren." jawab Phoenix.
"Karena kamu memilih pria, maka mulai sekarang nama mu adalah Huo Feng." ucap Se Se.
"Terima kasih Nona. Aku sangat menyukai nama itu." ucap Huo Feng.
"Kalau urusan mu sudah selesai, maka pergilah dari hadapanku!" ucap Raja Wei sinis.
"Apa maksudnya pergi? Huo Feng akan selalu di samping Nona majikan." jawab Huo Feng.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak pergi sekarang juga, maka selamanya tidak usah pergi dari sini!" ucap Raja Wei.
"He he he... Huo Feng hanya bercanda. Huo Feng akan pergi sekarang juga! Selamat malam Nona majikan." ucap Huo Feng sambil terbang keluar.
Raja Wei mendadak menarik lengan Se Se, "Bagaimana Huo Feng bisa kenal dengan mu? Apakah ada hal yang tidak aku ketahui?" tanya Raja Wei.
"Huo Feng terkurung di ruang hampa bersama ku, apakah saya lupa mengatakan hal ini? Bukankah saya sudah membicarakannya beberapa waktu lalu?" ucap Se Se bertanya tanya.
"Tidak, mungkin aku yang lupa." ucap Raja Wei.
"Saya sedikit penasaran, apa sebenarnya tujuan Huo Feng menjalin kontrak dengan manusia? Sepertinya masih ada hal yang di sembunyikan oleh Huo Feng." ucap Se Se.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, burung jelek itu tidak akan bisa melukai istriku. Aku akan selalu melindungi wanita milikku!" jawab Raja Wei.
"Terima kasih, saya sangat beruntung memiliki Xuan." ucap Se Se sambil memeluk Raja Wei.
"Tugas menyelamatkan wanita yang di sekap oleh Long Au Ping sudah selesai. Apakah istri ku tidak memberikan hadiah untuk ku karena telah menyelesaikan tugas dengan baik?" goda Raja Wei sambil mengangkat dagu Se Se.
Se Se melangkah mundur, dengan cepat ia berakting menguap.
"Hoammmm....! Ayo kita tidur lagi, saya sangat lelah beberapa hari ini." ucap Se Se sambil melangkah ke tempat tidur.
Raja Wei tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang berusaha menghindari permintaannya.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu... hanya untuk hari ini saja." bisik Raja Wei setelah merebahkan tubuhnya di samping Se Se.
*****
Hari menjelang pagi, Yu sudah menunggu Raja Wei di ruang kerja yang sederhana namun rapi.
"Yang Mulia belum tiba?" tanya Ti Liu.
Yu menggelengkan kepala, "Sepertinya ada sedikit keributan tadi malam." jawab Yu.
"Kediaman ini tidak pernah sepi setelah kedatangan Permaisuri." ucap Ti Yi sambil terkekeh.
"Stttt! Jaga lidah mu itu!" Yu memberi peringatan.
"Bukankah keributan di kediaman saat ini lebih terlihat normal dari pada kediaman kita yang dulu?" ucap Ti Liu bertanya.
Ketiganya saling menatap bergantian kemudian terkekeh bersama.
"Berkat Permaisuri, Yang Mulia yang sekarang terlihat seperti manusia." ucap Ti Yi.
"Memangnya dulu Yang Mulia tidak terlihat seperti manusia?" tanya Ti Liu.
Yu dan Ti Yi saling menatap kemudian mengangguk bersama.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^