
Se Se melangkah mendekat ke ranjang tempat Liu berbaring, dia kemudian berkata, "Liu, kamu bisa mendengarku?"
"Pengorbanan yang aku lakukan ternyata tidak sia-sia." benak Liu.
Melihat wanita yang dia layani selamat dan baik-baik saja, Liu merasa sangat lega. Pria itu kembali memejamkan matanya yang terasa berat.
"Ternyata hanya halusinasi ku saja!" ucap Se Se dengan wajah kecewa.
Tidak lama kemudian Ti San membawa dua orang rekannya untuk membantu memindahkan Ti Liu.
"Yang Mulia, apakah kami boleh tinggal bersama Liu?" tanya salah seorang rekan yang bernama Zhong Wei.
"Kamu mau menemani Liu? Tentu saja boleh, aku akan sangat senang jika ada salah satu dari kalian yang mengawasi Liu di kamarnya." jawab Se Se.
Kedua rekan Ti San saling menatap, sedetik kemudian mereka saling berebutan untuk menawarkan diri.
"Aku! Aku mau menemani Liu." ucap Zhong Wei.
"Aku! Aku saja yang menemani Liu. Kebiasaan tidur Zhong Wei sangat buruk, dia pasti akan mengganggu istirahat Liu jika satu kamar dengannya." ucap Yong Yu sambil menunjuk tangan ke atas.
Se Se tersenyum melihat mereka berdua begitu bersemangat, akhirnya diputuskan agar mereka saling bergantian untuk menjaga Ti Liu. Satu hari untuk Zhong Wei dan hari berikutnya giliran Yong Yu.
Ti San tidak ingin melihat kondisi Ti Liu yang terlihat menyedihkan, dia tidak ingin menatap wajah temannya itu selama masih terpasang selang-selang mengerikan di tubuhnya. Dia memilih untuk berdiam diri saja melihat kedua rekannya berebut posisi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pangeran Yohanes kabur membawa harta yang telah dia kumpulkan selama bertahun-tahun, harta itu kebanyakan berasal dari tempat lelang ilegal miliknya. Tempat lelang itu menjual manusia yang di culik secara diam-diam maupun anak-anak yang di ambil secara paksa sebagai bunga hutang ayah mereka.
Pria itu kini berada di sebuah rumah yang terletak jauh dari ibukota, dia menyembunyikan diri sejauh mungkin agar tidak tertangkap.
Marah dan geram karena semua rencananya gagal, dia mengamuk di ruangan kecil yang kini menjadi tempat tinggalnya. Pangeran Yohanes menghancurkan semua barang-barang dan terus berteriak seperti orang yang sudah gila.
"Sialan! Bagaimana bisa rencanaku terbongkar semua? Kenapa? Kenapa harus disaat ini? Akhhh!!! Brengsek!"
"Prang! Prang! Bukkk! Banggg!"
__ADS_1
"Sialan kalian semua! Akan kubunuh mereka semua yang menghalangi rencanaku! Akan kubunuh! Mati saja kalian semua!"
"Pranggg!!! Bukkkk!!"
Pelayan yang berada di sekitarnya menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani bersuara. Pangeran Yohanes mendekati salah satu pelayan yang bernama Li Ying, wanita itu sangat sial karena menjadi pelampiasan amarah Pangeran Yohanes.
"Plakkkk!"
Li Ying tersungkur di tanah setelah menerima tamparan keras dari Pangeran Yohanes, wanita itu memegang pipinya yang terasa perih dan sakit.
"Apa kau juga menertawakan aku sekarang?" bentak Pangeran Yohanes dengan wajah berang.
"Hamba tidak berani Yang Mulia. Ucap Li Ying dengan wajah menunduk.
"Heh! Kau tidak berani? Bukankah saat ini juga kau sedang tersenyum mengejek kegagalanku?" ucap Pangeran Yohanes sembari menginjak kepala Li Ying di lantai.
"Akhhh! Ham... Hamba tidak berani, to... Tolong ma... Maafkan hamba Yang Mulia!" ucap Li Ying sambil menahan rasa sakit yang disebabkan oleh Pangeran Yohanes.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu hanya karena kau meminta maaf?" pria itu menyeringai sambil menatap Li Ying dengan perasaan puas.
Mendengar dirinya disebut gila, pria itu semakin marah dan emosi. Dia menginjak Li Ying dengan kekuatan yang lebih besar sambil menatap Max yang menyebutnya gila.
"Akhhhh! Akhhh! Tolong! Tolong aku!" teriak Li Ying dengan suara mengibakan.
Max sangat kesal dan marah melihat kelakuan kasar Pangeran Yohanes, itu karena Max sangat mencintai Li Ying yang sudah menjadi wanita satu-satunya di hati Max. Pria itu akhirnya menarik dan mengarahkan pedangnya ke leher Pangeran Yohanes.
"Heh... Lihat bajingan ini! Sekarang dia bahkan berani menunjukkan taringnya di depanku!" ucap Pangeran Yohanes dengan wajah yang menghina.
"Diam kau! Aku sudah muak denganmu!" ucap Max.
Pangeran Yohanes melangkah maju, pria itu mengira jika Max hanya mencoba untuk menggertaknya. Max yang terlihat gugup melangkah mundur, dia menatap Pangeran Yohanes dengan penuh kebencian. Sementara itu Li Ying berusaha merangkak menjauh dari Pangeran Yohanes begitu melihat pria itu tengah menghadapi Max.
"Kenapa kau tidak menusukku?" gertak Pangeran Yohanes.
"...."
__ADS_1
Melihat Max yang diam saja dan tidak berani melawannya, Pangeran Yohanes mengangkat tangannya hendak menampar Max. Namun pria itu dengan cepat menghindar, dan serangan pedangnya langsung mengarah ke leher Pangeran Yohanes.
"AKHHHHH!!!"
Suara jeritan para pelayan yang histeris terdengar menggema di rumah kecil itu, mereka ketakutan melihat kepala Pangeran Yohanes yang tengah menggelinding di lantai.
Max berjalan ke arah Li Ying, dia memeluk wanita itu dengan erat.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu lagi, siapapun orangnya, aku akan membunuh mereka yang berani menyakitimu." ucap Max sembari menatap mata Pangeran Yohanes yang masih terbuka.
"Max, ayo kita kabur sekarang!" ucap Li Ying dengan nada bergetar.
Pelayan yang ada disana segera kabur dengan membawa harta benda yang bisa mereka bawa, Li Ying terkejut melihat para pelayan yang kabur sehingga dia pun berpikiran untuk segera kabur bersama Max.
Max mempererat pelukannya lalu berkata, "Tenanglah Ying, tidak akan terjadi apa-apa dengan kita."
"Ta... Tapi..." Li Ying menatap mayat Pangeran Yohanes, dia kemudian melanjutkan ucapannya, "Bagaimana jika kita di tuntut karena telah membunuh seorang Pangeran?"
"Aku akan menyerahkan diri, aku akan membawa mayat ini kembali ke kekaisaran Han dan menyerahkan diriku." ucap Max.
"JANGAN! TIDAK, TIDAK BOLEH!" teriak Li Ying dengan histeris.
"Ying, aku akan menyerahkan diri agar kamu bisa hidup bebas. Bawalah uang ini... Aku sudah menabung uang ini sejak aku mengenalmu. Awalnya uang ini akan aku gunakan untuk pesta pernikahan kita, tapi sepertinya aku hanya bisa memberikannya kepadamu agar hidupmu jauh dari kata kekurangan." ucap Max sambil menyerahkan satu kantong uang untuk Li Ying.
Li Ying menggelengkan kepalanya, "Tidak!!! Aku tidak mau pergi sendiri, aku tidak mau!!!" ucap Li Ying sambil menangis sejadi-jadinya.
"Ying, dengarkanlah permintaanku!" ucap Max yang ikut menangis.
"Aku akan bertaruh dengan nasib, aku akan mempertaruhkan nasibku ini untuk bisa mendapatkan kebebasan dan hidup bahagia bersama Ying." benak Max.
"Aku tidak mau, aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian. Aku tidak ingin kamu dihukum sendiri! Bagaimana jika mereka menjatuhkan hukuman mati kepadamu? Aku tidak mau melihatmu mati!" jawab Li Ying.
Max melepas pelukannya, dia menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu. "Ying..."
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1