
Raja Wei berangkat ke kota Jinan. Dia menghabiskan waktu dua hari untuk bisa sampai ke sana. Sesampainya di sana, dia melihat tanah tandus dan tanaman yang mati mengering karena kekurangan air.
Banyak pengemis berbaring di jalanan, dengan tubuh kurus dan bibir yang pecah-pecah akibat kekeringan.
Raja Wei menelusuri semua tempat yang seharusnya memiliki aliran air, semua sungai itu kering, hanya ada batu-batu besar dan kecil yang terlihat di dasar sungai.
"Bagaimana bisa, sungai-sungai di sini tidak memiliki air?" batinnya.
Raja Wei menuju kediaman Wali Kota Jinan, dia di sambut oleh Long Ting Di yang merupakan Wali Kota di Jinan. Raja Wei meminta laporan mengenai kekeringan di kota itu.
Long Ting Di memberi tau bahwa kekeringan sudah terjadi sejak 6 bulan lalu. Air sungai mulai mengering, dan tanaman mulai tandus karena kurangnya air dalam tanah.
Bukan hanya kekeringan saja, saat ini mulai terjadi wabah penyakit yang memakan banyak korban jiwa. Penderitanya akan merasa demam, menggigil, tidak bertenaga dan sulit bernapas.
Setelah merasakan penyiksaan itu, dalam waktu lebih kurang sebulan, mereka akan kehilangan nyawanya. Sudah banyak dokter yang memeriksa penyakit ini, namun mereka tidak banyak membantu. Mereka belum pernah mengenal penyakit ini.
Raja Wei memijit pelan keningnya, dia tidak menyangka bahwa keadaan di kota ini, lebih parah dari yang dia kira.
Wali Kota menyiapkan kamar untuk Raja Wei, dan mempersilakan Raja Wei untuk beristirahat dahulu setelah menempuh perjalanan panjang.
Setelah tiga hari di kota itu, Raja Wei merasa dirinya demam dan menggigil. Dia meminta Yu untuk memanggil tabib, tabib memeriksa pemuda itu dan kemudian mengatakan bahwa dia tertular wabah.
Yu panik mendengarnya. Dia meminta tabib untuk secepatnya menemukan obat dari penyakit yang di derita majikannya.
Seminggu berlaku, penyakit Raja Wei semakin parah, dia bahkan kesulitan untuk berjalan. Bisa duduk tegap saja sudah menghabiskan banyak tenaga pemuda itu.
Yu merasa khawatir dan frustasi. Yu telah mengirimkan surat untuk meminta bantuan dari tabib istana, tetapi hingga saat ini, tidak ada tabib istana yang datang ke kota Jinan.
Melihat kondisi Raja Wei yang semakin buruk, Tiba-tiba pemuda itu mengingat Nona Flo yang sudah menyembuhkan kaki Putra Mahkota.
Yu memerintahkan beberapa pengawal untuk melindungi Raja Wei, dia akan kembali ke Ibu Kota untuk meminta bantuan dari Nona Flo.
Yu memacu kudanya pagi hingga pagi lagi tanpa berhenti. Dia ingin secepatnya menemui tabib wanita itu, untuk menolong majikannya yang sedang sekarat.
__ADS_1
Setelah sehari semalam berkuda, Yu sampai di kediaman Huang. Dia di tahan oleh penjaga pintu gerbang karena penampilannya saat ini sangat berantakan. Mereka mengira Yu adalah seorang pengemis.
Ling Er yang baru saja pulang dari tugasnya membeli kue, melihat Yu di tahan oleh penjaga pintu. Ling Er segera masuk dan memberitahukan hal itu kepada nona-nya. Se Se berjalan ke pintu gerbang untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Biarkan dia masuk!" perintah Se Se kepada penjaga.
"Baik, Nona." jawab seorang penjaga.
Yu berlari ke hadapan Se Se dan bertanya, "Dimana Nona itu?"
Se Se menatapnya dengan wajah bingung.
"Nona?" gumamnya.
"Ya, Nona berambut putih. Nona Flo, dimana dia sekarang?" tanya Yu dengan terburu-buru.
"Ada apa kamu mencarinya?" tanya Se Se dengan raut wajah menyidik.
Yu tiba-tiba berlutut, wajahnya terlihat panik, kemudian dia memohon kepada gadis di hadapannya. "Putri Huang, saya mohon, tolong beritahu keberadaan Nona itu!"
Yu mengangkat kepalanya yang menunduk dan menatap wajah gadis di depannya. Dia segera menjawab pertanyaan gadis itu. "Yang Mulia, Yang Mulia sedang sekarat!"
Mata Yu berkaca-kaca menahan isak tangisnya. Dia sangat cemas dengan majikannya, yang saat ini, sedang berbaring lemah di tempat tidur. Se Se memegang kedua bahu Yu dan membantunya berdiri.
"Apa yang terjadi? Bukankah dia sedang berada di kota Jinan? Bagaimana dia bisa sekarat?" tanya gadis itu penasaran.
"Yang Mulia tertular wabah penyakit." jawab Yu singkat.
"Kembalilah ke kediaman Raja Wei. Istirahatlah sebentar. Jika kamu masih memaksakan diri seperti itu, kamu yang akan mati lebih dulu dari pada majikanmu." ucap Se Se yang mengetahui seberapa lelah pria di hadapannya saat ini.
"Nona Flo, ..." gumam Yu.
"Dia akan menemui'mu di kediaman Raja Wei saat tengah malam. Beristirahatlah sambil menunggunya." ucap Se Se kemudian meninggalkan Yu yang masih berdiri menatapnya.
__ADS_1
Se Se menyiapkan kotak obat untuk di bawa ke Kota Jinan, dia tidak bisa pergi dengan tangan kosong jika ingin mengobati pasien. Akan timbul kecurigaan bila dia memiliki obat tanpa membawa kotak apapun.
Sesuai janjinya, Se Se menemui Yu di kediaman Raja Wei. Tentu saja setelah memutar cincin di jarinya.
Pemuda itu tengah duduk di dalam kamarnya, menunggu kedatangan Nona Flo dengan resah dan gelisah. Walaupun sudah di nasehati untuk istirahat, dia tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun, jika mengingat majikannya saat ini, sangat perlu pertolongan.
Mereka berangkat dengan menunggang kuda. Yu mengeluarkan dua ekor kuda tercepat dari kandang. Kuda yang di bawanya saat pulang ke ibu kota, sudah tidak memiliki tenaga, setelah sehari semalaman berlari.
Mereka tiba di kota Jinan setelah dua malam berkuda. Yu mengantar Se Se untuk memeriksa Raja Wei. Se Se sedikit cemas setelah melihat pasien di depannya.
Pria yang biasanya kuat dan mendominasi, saat ini sedang terbaring lemah dengan wajah pucat seperti kapas dan tidak berdaya.
Se Se memegang dahi pemuda itu, kemudian dia memeriksa denyut nadinya. Wajahnya berubah panik, dia berbalik dan bertanya kepada Yu, "Apa yang Raja Wei lakukan sebelum tertular penyakit ini?"
Yu mencoba mengingatnya, dia memutar bola matanya dan kemudian menjawab, "Yang Mulia hanya berkeliling di sekitar sungai yang mengering dan mengunjungi beberapa tempat di kota Jinan untuk mencari solusi kekeringan dan wabah.
"Yu, coba ingat-ingat lagi, hal apa yang Raja Wei lakukan selain itu? Hal yang hanya di lakukan oleh Raja Wei." tanya Se Se dengan wajah serius.
"Yang Mulia, ... " ucapan Yu terhenti.
Yu tidak bisa meneruskan perkataannya. Dia tidak ingat hal apa yang telah di lakukan Raja Wei selain itu.
"Antarkan aku akan ke tempat penderita wabah, aku akan memeriksa mereka!" perintah Se Se pada Yu.
"Tidak boleh, itu sangat berbahaya Nona, anda bisa tertular penyakit wabah." tolak Yu.
"Aku harus ke tempat itu, agar bisa menyelamatkan nyawa mereka dan nyawa Raja Wei. Apa kamu, masih akan mencegahku? tanya Se Se dengan wajah serius.
Yu mengalah, dia tidak bisa mengabaikan keselamatan majikannya. Yu segera mengantar Se Se ke tempat para pasien penderita wabah.
Se Se memeriksa keadaan mereka, gejala yang mereka alami sangat aneh, tidak seperti penyakit menular.
Jika menular, maka Yu yang selalu di samping Raja Wei, seharusnya ikut tertular. Namun saat ini hanya Raja Wei saja yang tertular. Bahkan pengawal dan pelayan yang di bawa ke sana sehat-sehat saja.
__ADS_1
"Apa penyebab penyakit ini?" batin Se Se.
^^^BERSAMBUNG...^^^