
Rasa takut yang di rasakan oleh pria itu membuat tegang otot-ototnya selama masa pencarian. Satu hari yang dia lalui terasa seperti ratusan tahun penantian karena sang istri yang tak kunjung kembali.
Akhirnya pria itu bisa merasakan sedikit kelegaan setelah menatap wajah yang dia rindukan. Raja Wei terlelap begitu saja dengan menggenggam tangan Permaisurinya.
Raja Wei tertidur dengan bersandar di sisi ranjang, hari panjang yang dia lalui selama seminggu ini terasa sangat berat dan sulit. Bukan fisiknya saja yang lelah, batin dan jiwanya ratusan kali lebih lelah karena kehilangan istrinya.
Perang panjang selama bertahun-tahun yang pernah dia lalui di medan perang bahkan tidak pernah membuat Raja Wei selelah ini.
Hari menjelang pagi, sinar matahari menerpa wajah Se Se yang putih pucat karena kehilangan banyak darah.
Se Se membuka matanya, dia menoleh ke arah genggaman tangan Raja Wei yang terasa berat di lengan kecilnya.
"Xuan... Dia pasti lelah setelah mencariku selama berhari hari." batin Se Se.
Perlahan Se Se menyeka rambut Raja Wei yang menutupi wajah tampannya, sentuhan ringan yang mendarat di wajah pria itu membuatnya terjaga.
"Bagaimana keadaan mu? Aku akan memanggil tabib secepatnya." ucap Raja Wei tergesa-gesa.
"Xuan, aku baik baik saja." jawab Se Se setelah menahan lengan Raja Wei yang hendak pergi.
"Aku akan mengambil minuman untukmu." ucap Raja Wei.
Teh hangat telah tersedia di kamar, Yu dan Ling Er secara bergantian mengganti teh yang baru untuk majikan mereka agar teh yang ada disana tetap hangat saat majikannya haus.
Se Se kesulitan bangun karena masih merasa sakit di bagian punggungnya, dia masih berbaring di ranjang dengan kedua puluhan perban yang terlilit di tubuhnya.
Raja Wei membawa secangkir teh untuk Se Se, namun posisinya yang berbaring tidak memungkinkan untuk minum dari cangkir.
"Andai saja sedotan di tempat ini!" pikir Se Se.
Raja Wei menatap cangkir teh yang masih berada di tangannya, dia berpikir bagaimana cara untuk membantu istrinya melepas dahaga.
Sesaat kemudian Raja Wei meminum teh itu, dia kemudian mencium bibir istrinya sambil menuangkan teh yang telah di tampung dalam rongga mulutnya.
Dia melakukannya berulang kali hingga akhirnya terdengar suara bentakan dari Se Se.
"Aku memang ingin minum tapi bukan berarti aku ingin minum satu teko teh itu hingga habis!" omel istrinya dengan nada kesal.
Raja Wei tertawa, dia kemudian mengecup bibir istrinya yang terlihat cantik dan imut.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melakukan hal ini, teh itu hanya bonus." ucap Raja Wei sambil tersenyum nakal.
Se Se hanya bisa tersenyum melihat kenakalan suaminya. Senyum wanita itu hilang begitu ia mengingat Ti Liu dan Ti San yang telahberjuang untuk menyelamatkan nyawanya.
"Liu dan San! Bagaimana keadaan mereka?" tanya Se Se dengan wajah panik.
"Jangan khawatir, mereka sudah ditemukan lebih dulu." jawab Raja Wei yang juga kehilangan senyuman begitu membahas Ti Liu dan San.
"Bagaimana dengan keadaan mereka?" tanya Se Se ketika melihat wajah suaminya berubah murung.
"Keduanya masih di rawat oleh tabib. Ti San mendapat banyak luka fatal yang berbahaya untuk nyawanya, sedangkan Ti Liu..." Raja Wei menghentikan ucapannya, ia menatap mata istrinya yang masih menunggu jawaban dengan perasaan gelisah.
"Ti Liu kenapa? Ada apa dengannya?" tanya Se Se yang makin cemas ketika melihat Raja Wei terdiam.
"Hahhh..."
Raja Wei menghela napas, ia kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Liu mengalami kelumpuhan. Menurut tabib, ia akan sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tulangnya banyak yang hancur, Liu di temukan lima hari setelah kalian menghilang.
Dalam waktu lima hari, dia telah berjuang melawan rasa sakitnya hanya demi merangkak kembali ke kediaman. Kedua tangannya melepuh, kulit di tubuhnya penuh luka karena terseret di jalan penuh batu.
"Ini semua kesalahan saya! Liu membawa saya melompat ke jurang karena kami terdesak oleh para pembunuh." ucap Se Se menyesali apa yang terjadi pada Ti Liu.
Raja Wei segera meralat ucapan istrinya, "Jangan berkata seperti itu! Ini semua salah pembunuh yang mengejar kalian, bukan salahmu."
Pria itu tidak ingin melihat istrinya menyalahkan diri sendiri atas musibah yang terjadi. Dia sadar jika istrinya memiliki hati yang lemah, wanita itu pasti akan terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Ti San dan Ti Liu.
Se Se bertatap mata dengan Raja Wei, "Ini salah saya, para pembunuh itu mengincar hidup saya. Ti San dan Liu terluka karena mereka mencoba melindungi saya. Seandainya saja saya lebih kuat, mereka tidak akan terluka."
"Jangan menyalahkan dirimu, aku juga akan terluka jika pembunuhnya sampai berjumlah ratusan orang. Itu bukan karena kamu tidak cukup kuat, tapi mereka lah yang terlalu licik." hibur Raja Wei.
Se Se menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak, saya memang terlalu lemah. Juga... Saat itu, jika saat itu saya tidak lengah dengan anak kecil itu..."
Raja Wei tidak membiarkan Se Se menyelesaikan perkataannya, ia menutup bibir istrinya dengan ciuman lembut dan mesra. Pria itu tidak ingin istrinya terus menerus berpikir jika itu adalah kesalahannya.
Wanita itu hanya menerima ciuman hangat dari Raja Wei yang terasa manis di hatinya. Dia memejam, air mata kesedihan dan penyesalan keluar dari kedua sudut matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Duakkk!"
Pangeran Yohanes menendang salah satu pelayan yang berdiri di depannya.
"Keluar kalian semua!" bentaknya.
Dengan buru-buru semua pelayan berjalan keluar dari ruangan.
"Tenangkan diri anda!" ucap Tuan Lu.
"Tenang? Kau menyuruhku tenang setelah semua kebodohan di buat oleh kalian?" bentak Pangeran Yohanes.
"Dasar brengsek! Kau lah yang menyuruh kami untuk melakukan hal bodoh itu!" maki Tuan Lu dalam benaknya.
"Aku tidak peduli, Kau... Selesaikan masalah ini secepatnya!" perintah Pangeran Yohanes.
Pria itu berjalan dengan cepat, wajahnya kelihatan kesal dan emosi. Dia keluar dari ruangan di ikuti okeh dua pengawalnya yang berwajah sangar.
Sementara Tuan Lu yang juga kesal hanya menatap kepergian Pangeran Yohanes. Beberapa kali pria paruh baya itu menarik dan menghempaskan napasnya yang terasa berat.
"Apa ada orang di luar?" tanya Tuan Lu untuk memanggil pelayan.
Seorang pelayan wanita masuk dengan membungkukkan badannya.
"Ada apa Tuan besar?"
"Panggilkan Zhun Tian!" perintah Tuan Lu.
"Baik Tuan besar." jawab si pelayan.
Tidak lama setelah kepergian pelayan, seorang pria masuk ke ruangan Tuan Lu setelah mengetuk pintu.
Pria itu memiliki wajah polos, dia terlihat seperti pria lugu dan lemah meskipun sebenarnya dia adalah pembunuh nomor 1 yang membunuh musuh-musuhnya tanpa berkedip.
"Zhun Tian, aku ingin kamu membunuh seseorang malam ini!" ucap Tuan Lu.
"Siapa target pembunuhan malam ini?" tanya Zhun Tian dengan wajah manisnya yang tersenyum.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^