Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Elegi Percintaan


__ADS_3

Sepuluh maid berbaris di pintu masuk menyambut kedatangan Ravendra dan Alexa. Tanpa menyapa, Ravendra langsung merangkul istrinya melewati barisan maid tersebut. Sebuah bangunan kastil yang memiliki bentuk unik, tetapi sesampainya di dalam, semua peralatan modern tersedia di dalam kastil tersebut. Tanpa peringatan, Ravendra mengangkat tubuh ALexa dengan bridal style dan membawanya ke anak tangga.


"Kak Ravend.. lepaskan.., malu dilihat sama maid di bawah.." Alexa mencoba untuk menolak, tetapi dengan kekuatannya, Alexa tidak bisa melawan tangan kokoh Ravendra yang sudah mengangkatnya. Perlahan kaki Ravendra dengan berdiri tegap, melangkap menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.


Seorang maid yang sudah siap di lantai atas, dengan sigap segera membukakan pintu kamar yang merupakan kamar tempat biasanya Ravendra beristirahat, jika sedang berada di kota tersebut. Tanpa bicara, Ravendra dengan tetap membawa tubuh Alexa, memasuki kamar dan langsung membawa tubuh Alexa menuju ke arah pinggir ranjang, Perlahan laki-laki itu membaringkan tubuh istrinya di atas king size bed.


Melihat ada balkon di kamar tempatnya berbaring saat ini, perlahan Alexa beranjak duduk dan bergegas berdiri,


"Mau kemana honey.., istirahatlah dulu.. Sudah malam, aku yakin kamu merasa sangat lelah, karena tadi pagi kita sudah berkeliling memutari tempat perbelanjaan." melihat gadis itu melangkah, Ravendra berusaha untuk mencegah Alexa.


"Aku tidak pergi kemana-mana kak..., mau ke balkon saja sebentar." ucap Alexa sambil mengarahkan langkah kakinya menuju ke arah pintu. Perlahan perempuan muda itu mendorong pintu ke depan, dan matanya berubah menjadi cerah. Di depan matanya, tersaji sebuah suguhan indah lampu-lampu di bawah sana, dan juga terlihat kelap-kelip lampu kapal di hamparan lautan biru yang terlihat dari atas balkon tersebut, Meskipun hari belum malam, tetapi lampu-lampu sudah banyak dinyalakan, menambah keindahan pemandangan yang ada di depan matanya.


Perempuan itu merentangkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri, dengan mata terpejam, Alexa membiarkan aliran udara masuk dari hidungnya secara perlahan, dan dengan perlahan pula Alexa menghembuskan nafas keluar melalui mulutnya, Tiba-tiba kedua tangan panjang memeluknya dari arah belakang. Alexa membuka matanya, dan menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya. Dari aroma parfum berbau mint, Alexa sudah mengetahui jika pelukan itu berasal dari suaminya.

__ADS_1


Sebuah kecupan lembut, yang akhirnya menjadi sebuah lu**matan antara kedua bibir itu, terjadi untuk beberapa saat. Di bawah hembusan angin yang semilir, kedua manusia itu menyatukan kedua saliva mereka di atas balkon kamar di kastil itu. Kedua lidah itu saling membelit menjadi satu, dan kedua tangan Ravendra berada di bawah pinggul Alexa, membantu perempuan itu mengangkatnya ke atas, Setelah keduanya hampir kehabisan nafas, baru Alexa melepaskan diri dari tautan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Honey..., aku ingin lebih.." bisik mesra Ravendra di telinga Alexa, mata laki-laki itu terlihat redup memendam sebuah keinginan.


"Kak..., bisa tidak kak Ravend menundanya. Lihatlah pemandangan di bawah sana, terlalu sayang kak untuk kita tinggalkan. Kasih waktu untuk Alexa dong..., please.." dengan tatapan puppy eyes, Alexa mencoba menolak keinginan laki-laki itu.


"Hmmm..., slurp..., okay tapi biarkan aku begini." sebuah jilatan menyambar belakang lidah perempuan itu. Rasa berdesir dan jantung deg-degan kembali dirasakan oleh Alexa.


Perempuan itu tidak menjawab, tetapi mengalihkan pandanganya ke arah pemandangan indah menjelang malam di depannya. Tangan Ravendra sudah tidak dapat terkontrol dan dikendalikan lagi. Tanpa bicara, kedua tangan laki-laki itu sudah melepaskan kancing baju yang dikenakan Alexa. Tidak menunggu waktu lama, angin terasa berhembus dan rasa dingin menerpa kulit gadis itu.


"I love you honey..." bisikan-bisikan lembut semakin memabukkan gadis itu. Tangan dan bibir Ravendra sudah tidak dapat terkendalikan lagi, dengan kekuatannya, Ravendra mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke kursi yang ada di balkon tersebut.


Pagutan dan isapan lembut terus mengalir dan diberikan oleh Ravendra di seluruh inchi dan jengkal kulit Alexa. Kedua bukit kembar yang ada di bagian depan Alexa, menjadi mainan memabukkan bagi laki-laki itu. Tanpa henti, menggunakan lidah dan bibirnya, Ravendra mengisap di bulatan kecil yang ada di puncak bukit tersebut.

__ADS_1


"Aaakhhh..." de**sahan kuat terdengar kencang seperti tidak tertahankan. Alexa seperti terlena\, tidak ada kekhawatiran sedikitpun pada perempuan itu\, jika de**sahan dan lenguhan itu terdengar dari bawah. Keduanya terus saling memagut\, dan membelit dengan perasaan bahagia.


Ravendra tersenyum, melihat ekspresi kenikmatan yang ditunjukkan oleh istrinya, ketika laki-laki itu memberikan semua kecupan dan pagutan mengabsen setiap jenjang dari kulit tubuh perempuan itu. Tanpa disadari oleh Ravendra, tiba-tiba tangan Alexa sudah memegang bagian intinya yang sudah menegang dan tanpa permisi memasukkan ke bagian intinya.


"Akhhh.. honey..., kamu nakal... ugh..." mata Ravendra terbelalak, merasakan dengan ketatnya bagian inti Alexa meremas dan menjepit bagian intinya.


"Bukan aku yang mulai..., tapi kak Ravend yang memancing api..., ugh..." dengan suara terbata-bata, ALexa menjawab perkataan Ravendra dengan diakhiri dengan sebuah lenguhan.


Kedua manusia itu sudah tidak terkendali, mereka sama sekali tidak memiliki rasa khawatir mereka melakukannya di luar ruangan. Tanpa diketahui Alexa, Ravendra memang sudah menyiapkan arsitektur kastilnya itu untuk tidak menjadi pemandangan bagi umum. Jadi apapunĀ  yang akan mereka lakukan di balkon ini, tidak ada seorangpun yang akan dapat melihatnya.


"You are mine honey...don't even think about leaving me." ceracauan keluar dari bibir Ravendra, ketika Alexa mengambil alih permainan. Perempuan itu tidak tahu sudah sejak kapan, tiba-tiba sudah naik ke atas tubuh Ravendra. Dengan tenaganya, perempuan itu mencoba gerakan naik turun di atas tubuh laki-laki itu. Tanpa mau menghilangkan kesempatan, kedua tangan Ravendra meremas lembut dua gundukan kembar, dan sesekali menggunakan bibirnya untuk menghisap dan memberikan kiss mark di kulit putih bersih perempuan itu.


Entah sudah berapa gaya dilakukan oleh kedua orang itu, sampai mereka tidak menyadari jika hari sudah berganti menjadi malam. Akhirnya setelah menjelang pukul delapan malam, dengan kelelahan Ravendra mengangkat tubuh gadis itu masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam, dengan senyum yang masih terkulum, Ravendra membelokkan tujuan mereka ke arah bath room. Di dalam bath room, kedua bibir itu kembali menyatu, dan akhirnya dibawah guyuran shower dan di dalam rendaman air hangat kedua orang itu melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

__ADS_1


**********


__ADS_2