
Setelah mendapat telpon dari Nyonya Sarah yang memberi kabar jika Alexa ijin tidak ke kantor hari ini, pada pukul sepuluh pagi, laki-laki itu menggunakan google maps menuju ke tempat tinggal Alexa. Ridwan ingin segera mengetahui kabar gadis itu, karena saat mereka berada di basement hari sebelumnya, dia melihat sepintas Wakil CEO Johan yang sudah membawa Alexa kabur darinya. Dengan maksud untuk menunjukkan perhatiannya, laki-laki itu bergegas meluncur ke kediaman gadis itu.
"Selamat pagi..., Tuan sedang mencari siapa?" dengan ramah Nyonya Sarah memberi sapaan pada Boss Ridwan, perempuan paruh baya itu terlihat takjub dengan laki-laki yang berdiri di depannya saat ini.
"Pagi Tante.., apakah benar disini tempat tinggal Alexa?" dengan sopan Ridwan membalas sapaan Nyonya Sarah. Laki-laki itu tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke halaman rumah kecil di tengah hiruk pikuk perkotaan. Rumah itu terlihat sangat asri dengan banyak tumbuhan bunga yang tertata rapi, dan pohon kelengkeng dan mangga yang memperteduh halaman rumah. Orang akan merasa tenang, menghirup oksigen di siang hari.
"Benar.., saya mamanya Naura. Apakah anda sedang mencari putri saya?" dengan pandangan menyelidik, Nyonya Sarah bertanya pada Ridwan. Mengingat apa yang disampaikan putrinya tadi pagi, membuat perempuan itu sangat hati-hati menyelidiki setiap tamu yang datang untuk mencari Alexa. Sebenarnya melihat wajah dan penampilan Ridwan, Nyonya Sarah sangat menyukainya. Meskipun jika dibandingkan dengan Ravendra dan Johan laki-laki itu masih berada di bawahnya, tetapi Ridwan juga memiliki wajah dan penampilan good looking.
"Iya Tante.., saya Ridwan. Tadi pagi saya yang menerima panggilan telpon dari Tante. Apakah diperkenankan tante, saya menengok dan melihat keadaan Alexa sebentar?" dengan sopan, Ridwan menyerahkan bingkisan kue di tangannya pada Nyonya Sarah.
"Silakan duduk dulu nak Ridwan, saya tanyakan dulu pada putri saya. Karena tadi sebelum istirahat, Alexa berpesan untuk tidak menerima tamu siapapun itu. Tetapi berhubung nak Ridwan adalah atasan anak saya, maka saya akan mencoba memberi tahu putri saya." Nyonya Sarah menerima bingkisan oleh-oleh itu, dan mempersilakan Ridwan duduk di kursi teras. Sambil tersenyum, Ridwan segera duduk di kursi yang ada di teras, dan matanya menatap kesegaran di matanya.
"Rumah ini kecil, tetapi membuat hati merasakan kenyamanan dengan hanya duduk di sini saja. Adem, tenang, dan oksigen menambah keteduhan rumah ini." kembali Ridwan mengedarkan pandangannya.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Boss Ridwan mengarahkan pandangannya ke arah suara itu, dan terlihat Alexa yang berjalan menghampirinya. Gadis itu terlihat sangat pucat hari ini.
"Boss Ridwan.., silakan duduk di dalam ruang tamu saja. Jika di luar nanti banyak dilihat orang yang lewat," Alexa meminta Ridwan masuk dan duduk di ruang tamu. Ridwan segera berdiri dan mengikuti gadis itu masuk kemudian duduk di atas sofa.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, muncul kembali Nyonya Sarah membawa dua cangkir teh panas dan toples berisi kue buatan tangan sendiri.
"Minumlah dulu nak Ridwan.., lumayan lama kan tadi menunggu Alexa di luar." setelah meletakkan cangkir di depan laki-laki itu, Nyonya Sarah mempersilakan Ridwan untuk mencicipinya. Tanpa diperintah ulang, Ridwan langsung mengangkat cangkir tersebut, perlahan laki-laki itu menyesap air teh langsung dari cangkirnya. Melihat laki-laki itu langsung mencicipi suguhannya, Nyonya Sarah tersenyum kemudian berjalan meninggalkan laki-laki itu.
"Bagaimana kesehatanmu Alexa.., kamu membuatku khawatir sejak hari kemarin? Aku hubungi ponselmu tidak ada yang mengangkat, untung pagi hari Tante menghubungiku." dengan rasa khawatir, Ridwan menunjukkan perhatiannya.
Alexa mengambil nafas, kemudian membuangnya sambil tersenyum kecut.
"Iya Boss.., maafkan kejadian impulsive kemarin sore. Mau tidak mau saya harus mengikuti mereka berdua." ucap Alexa lirih sambil menundukkan kepala ke bawah.
"No matter for me..., Alexa. Berarti sebenarnya kamu di luar pekerjaan, sudah mengenal dengan Tuan Johan dan laki-laki misterius yang selalu bersamanya itu." Ridwan langsung bertanya tentang Johan dan Ravendra. Berarti bukan hanya Alexa yang dibingungkan dengan status Ravendra di perusahaan. Boss Ridwan yang sudah bekerja untuk waktu yang cukup lama, juga tidak mengenalinya.
"Besok Alexa sudah berangkat lagi ke kantor Boss.., cukup hari ini saja Alexa ijin. Setelah tidur sepanjang hari, Alexa yakin staminaku akan pulih lagi." seperti mengingatkan pada Ridwan, jika ijinnya hari ini adalah untuk beristirahat, Alexa mengatakan jika besok sudah akan berada kembali di perusahaan.
"Baiklah.., aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Sekarang, kamu kembalilah beristirahat. Aku sudah lega bisa mengetahui kabarmu. Pamitkan sama Tante ya.., aku akan kembali lagi ke perusahaan. Get well soon,... Alexa." setelah menghabiskan teh dari cangkirnya, Ridwan kemudian berdiri. Alexa mengikuti laki-laki itu berdiri, dan di belakang laki-laki itu, keduanya berjalan keluar dari dalam rumah.
************
__ADS_1
Mata Ravendra menatap tajam Ridwan, ketika mereka berpapasan dengan laki-laki itu di gang sempit arah masuk rumah Allexa. Johan langsung berjalan mendahului Ravendra, dan menghalangi tatapan mata mereka berdua.
"Dari mana kamu Ridwan.., ini kan jam kantor? Kenapa kamu bisa berada di tempat ini." dengan nada tinggi, Johan bertanya pada Ridwan.
"Saya baru saja melakukan home visit pada anak buah saya yang baru tidak sehat. Apakah tindakan saya salah Tuan Johan. Bukannya memiliki empati terhadap bawahan, menunjukkan jika kita memiliki hubungan baik dengan member?" tanpa diduga, Ridwan memberikan alasan yang tepat dalam menjawab pertanyaan yang diajukan Johan.
"Ya sudah.., ternyata bagus juga kamu memiliki perhatian pada anak buahmu. Segera kembali ke perusahaan, lanjutkan pekerjaanmu. Harusnya dengan tidak hadirnya karyawanmu, kamu menggantikan posisi dan pekerjaannya sementara, Ingat seorang pemimpin, dia harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri dan pekerjaan yang dilakukan anak buahnya." Johan segera berjalan meninggalkan Ridwan sendiri, dan Ravendra mengikuti di belakangnya.
Dari arah belakangnya, Ridwan menatap kedua punggung yang berjalan meninggalkannya. Sambil tersenyum sinis, perlahan Ridwan juga melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
************
Ravendra dan Johan berdiri menunggu di teras rumah Naura. Mereka sudah mengetuk pintu tiga kali, tetapi Nyonya Sarah sedang berada di kamar mandi. Sedangkan Alexa, sepeninggalan Ridwan, gadis itu kembali melanjutkan tidurnya.
"Kenapa tidak ada yang menjawab Johan.., apakah mereka sedang tidak ada di rumah?" dengan rasa khawatir, Ravendra bertanya pada Johan..
"Kita tunggu beberapa saat Tuan Muda.., siapa tahu mereka sedang kerepotan di dalam. Bukannya baru saja Ridwan datang kemari, berarti mereka ada kan di dalam rumah." sambil tersenyum, Johan meminta Tuan Mudanya untuk bersabar. Ravendra menahan nafasnya sebentar, kemudian berjalan memetik beberapa bunga melati dan mencium aroma khas wanginya.
__ADS_1
***********