
Johan masih disibukkan dengan penyelidikan pelaku penembakan dia tawanan di gudang tua. Tetapi, sepertinya para pelaku cukup profesional. Semua kamera CCTV ke tempat kejadian dalam keadaan mati, bahkan sampai arah berlarinya mobil juga tidak dapat dicari rekamannya. Hanya orang-orang yang memiliki koneksi yang bisa melakukan hal tersebut.
"Bagaimana penyelidikanmu?" dengan tegas, Johan bertanya pada orang-orang suruhannya.
"Ampun Tuan.., semua informasi tidak dapat kami lacak dan kami tembus. Sepertinya yang menjadi pelaku penembakan bukan orang sembarangan." sambil menundukkan wajah, orang-orang itu siap menerima hukuman.
"Tidak berguna.., terus lakukan penyelidikan kalian, dan sekarang pergi dari hadapanku!" dengan nada tinggi Johan menghardik orang-orang itu. Laki-laki itu mengeluarkan sebatang rokok, kemudian menyalakan dan mulai menghisapnya perlahan.
"Hmmm.., aku akan mencoba menyelidiki Tami. Aku yakin, kejadian ini ada kaitannya dengan gadis itu. Karena Robin berada di Rumania,. maka Tami perlu aku curigai." meskipun Johan tertarik dengan gadis itu, tetapi laki-laki ini cukup profesional. Johan masih bisa menggunakan akal sehat untuk berpikir.
"Bip.., Bip..., bip..", tiba-tiba ponsel laki-laki itu berbunyi.
"Yap .. selamat siang Tuan Muda.." Johan menjawab panggilan masuk ke ponselnya tersebut.
"Baik.., secepatnya akan saya laksanakan!" tanpa menunggu sejenak, Johan segera mematikan rokok yang dipegangnya, kemudian membuang puntung rokok ke dalam asbak. Setelah memastikan jika rokok itu mati, dengan segera Johan berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
Sambil berjalan, laki-laki itu melakukan panggilan telepon. Tidak lama kemudian terdengar jawaban orang yang menerima panggilannya.
"Siapkan orang-orang kalian di kastil tua yang ada di pinggiran kota! Secepatnya aku akan menuju kesana ." dengan cepat, Johan memberi perintah pada orang ya g dipanggilnya.
"Ingat.., jangan lakukan kekacauan disana. Tunggu sampai aku datang!" Johan melanjutkan perintahnya.
Setelah yakin orang-orang yang dia panggil akan menjalani semua perintahnya, laki-laki itu segera berjalan cepat menuju mobil. Tanpa menunggu siapapun, Johan langsung menginjak pedal gas mobil. Dalam sekejap mobil yang dikendarai laki-laki itu sudah meluncur membelah keramaian.
********
__ADS_1
Di pinggiran kota
Johan menatap nanar bangunan kastil tua yang ada di depan matanya. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut, tetapi tidak dapat menemukan apa-apa. Dari samping rumah, seorang laki-laki datang menghampirinya.
"Kastil dalam keadaan kosong Tuan Johan, barusan saya berkeliling ke bangunan tersebut." laki-laki itu memberi informasi pada Johan.
"Okay., segera cari cara untuk dapat memasuki kastil tersebut." tanpa tersenyum, Johan kembali memberi perintah.
"Siap Tuan.., akan segera kami laksanakan. Ijin saya bergabung dengan teman-teman yang lain untuk mencari cara agar dapat memasuki bangunan kastil tersebut." Johan mengangkat tangannya ke atas, sebagai sebuah isyarat agar laki-laki tersebut segera pergi meninggalkannya.
Laki-laki itu langsung berlari meninggalkan Johan sendiri di tempat ini. Perlahan Johan melangkahkan kaki menuju ke teras kastil tersebut. Melihat kondisi bangunan tua tersebut dalam keadaan bersih, menandakan jika kastil itu berpenghuni. Tetapi kembali Johan tidak dapat menemukan siapapun di tempat tersebut.
"Tok.., tok.., tok.." Johan mencoba mengetuk pintu tiga kali, setelah berkali-kali membunyikan lonceng tidak ada yang menyahut atau membukakan pintu.
********
Johan diikuti beberapa orang di belakangnya memasuki kastil tersebut. Meskipun dari luar, kastil tersebut terlihat seperti sebuah bangunan tua, tetapi berbanding terbalik dengan suasana di dalamnya. Kastil itu banyak memiliki fasilitas mewah yang ada di dalam ruangan, dan semua ruangan terlihat bersih.
Beberapa saat mereka berada di dalam ruangan, mereka juga tidak menemukan satu orangpun disitu. Johan berjalan ke pojok ruangan, dan mulai menuruni tanggal untuk menuju ke ruang bawah tanah. Sesampainya di bawah, laki-laki itu menatap suasana disitu dengan mengerenyitkan dahi. Bau amis darah menyeruak masuk ke lobang hidungnya, dan bau itu masih tercium segar.
"Beberapa saat yang lalu, ada orang di ruangan sini. Coba kalian lihat lebih ke dalam!" Johan memerintah pada anak buahnya untuk melakukan penyelidikan ke dalam. Beberapa orang segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu.
Johan sendiri mendatangi meja besar yang ada di tengah ruangan, dan masih tersisa bekas-bekas alat penyulingan darah. Johan mengambil satu gelas yang masih terisi dengan penuh darah segar, dan laki-laki itu menciumnya dengan menggunakan hidungnya.
"Human blood...," setelah menciumnya, Johan kemudian menenggak darah itu langsung menggunakan gelas. Tidak lama kemudian, gelas tersebut kosong.
__ADS_1
"Sepertinya tempat ini digunakan untuk mengambil darah manusia-manusia yang masih hidup. Mereka menyalahi aturan dan kesepakatan, dimana dalam Undang-undang yang sudah disahkan, kita tidak boleh mengambil darah manusia secara langsung. Tetapi sepertinya orang-orang yang berada di rumah ini mengabaikan aturan tersebut." ucap Johan pelan.
"Tuan..., tuan Johan. Saya menemukan ada tiga orang yang dirantai dalam sebuah ruangan." terdengar teriakan-teriakan dari dalam ruangan.
Johan bergegas menuju ke tempat anak buahnya berada. Di depan mereka tergantung tiga orang laki-laki muda, yang terlihat sudah lemas.
"Bebaskan mereka.., dan periksa kondisinya!" melihat kondisi mereka yang mengenaskan, Johan meminta anak buahnya untuk membebaskan mereka. Beberapa anak buah Johan segera membebaskan orang-orang tersebut kemudian memeriksa kondisinya.
"Minuman suplemen ini!" Johan melemparkan sebuah strip obat dari dalam saku bajunya.
Beberapa saat setelah anak buah Johan memberikan suplemen kepada orang-orang itu, akhirnya ketiga orang itu mulai tersadar. Mereka memundurkan tubuhnya ke belakang, merasa ketakutan melihat Johan dan anak buahnya.
"Jangan takut.., kami datang kesini untuk menyelamatkan kalian. Bekerja samalah dengan kami!" Johan mencoba menenangkan orang-orang tersebut.
Mereka saling berpandangan, dan Johan menganggukkan kepalanya. Anak buah Johan kemudian membawa ketiga orang tersebut ke lantai atas, dan beberapa yang lain melanjutkan pencarian ke tempat tersebut.
"Dari mana asal kalian bertiga, dan kenapa kalian bisa berada di tempat ini?" dengan penuh selidik, Johan mulai menginterogasi mereka.
"Ampun Tuan.., kami tergiur dengan nikmat dunia yang ditawarkan seseorang kepada kami. Jika tahu, akhirnya menjadi seperti ini maka kami tidak akan melakukannya." satu dari mereka menjawab pertanyaan yang di berikan Johan.
"Ceritakan padaku!" Johan memotong perkataan mereka.
Beberapa saat kemudian, orang-orang tersebut mulai menceritakan asal-usul mereka sampai bisa berada di tempat ini. Ternyata mereka berlima datang kesini dengan janji akan diperkerjakan oleh orang-orang yang membawanya. Tetapi ternyata semua hanya merupakan sebuah kebohongan, kedua teman mereka dijadikan korban penelitian dengan darah disedot habis.
*******
__ADS_1