Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Menuju Rumania


__ADS_3

Setelah beristirahat dalam waktu semalam, pagi hari diputuskan untuk mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Alexa sedikit terkejut, ternyata meskipun suku hutan berada dan tinggal di kedalaman hutan, yang terkesan jauh dari peradaban, ternyata mereka memiliki koleksi teknologi canggih. Saat ini, mereka diajak turun ke bunker oleh tetua, dan begitu sampai di bawah, mereka seakan tidak mempercayai pandangan mata mereka. Sebuah jet private, helipad terparkir dan tersembunyi di dalam kedalaman bunker. Belum lagi koleksi senjata api dengan kekuatan manuver tinggi, juga tersedia dengan lengkap di dalam.


"Kita tidak begitu membutuhkan senjata api untuk manusia biasa, senjata ini tidak akan mampu meluluhkan kekuatan manusia vampire. Tunjukkan kami pada koleksi bazooka yang kosong, kita akan melakukan modifikasi, sehingga dapat digunakan untuk memusnahkan manusia vampire yang melawan." Ravendra mengabaikan dan meremehkan semua koleksi tersebut. Laki-laki itu terus berjalan lurus ke dalam, dan Alexa tetap berjalan mendampingi suaminya,


"Hanya tiga orang yang dapat masuk ke ruang rahasia kami. Ruangan itu sangat sempit, tidak dapat menampung sebanyak ini orangnya di dalam." tiba-tiba tetua berhenti dan membalikkan badan, kemudian menyampaikan informasi kepada orang-orang yang turut masuk ke dalam bunker.


"Johan... follow us..!" dengan cepat, Ravendra meminta Johan untuk mengikutinya masuk. Laki-laki itu memang belum bisa menerima orang lain, hanya percaya dan yakin dengan orang-orang dalam circle-nya sendiri. Tanpa menjawab, Johan maju ke depan menghampiri Ravendra,


Di bawah tatapan iri orang-orang yang berada di belakang, ketiga orang dan satu lagi tetua memasuki sebuah ruangan kecil di depan mereka.


"Blam.." tidak diduga, begitu mereka berada di dalam, pintu ruangan itu menutup dengan sendirinya. Orang-orang yang berada di luar, saling berpandangan Kemudian mereka berputar lagi melihat koleksi persenjataan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Ravendra dan Johan ternganga, melihat koleksi barang-barang yang ada di ruangan itu. Sebuah lemari kecil yang ada di sudut ruangan, menimbulkan ketertarikan tersendiri. Botol biru berisi cairan misterius, pisau saku berlapis perak, dan lukisan enamel tersimpan dengan rapi di dalam lemari itu. Selain itu, juga banyak senjata yang terbuat dari logam perak, dari peluru, anak panah, bahkan pisau terkoleksi dengan rapi dan lengkap di dalamnya.


"Apakah kamu memiliki dendam kepada manusia vampire tetua..?" tiba-tiba Ravendra membalikkan badan, kemudian bertanya pada tetua.

__ADS_1


Laki-laki itu kebingungan, tidak dapat mencerna kalimat yang diucapkan oleh laki-laki itu. Johan terlihat mengulum senyum, tidak memberi tahu pada tetua tersebut. Sepertinya tanpa seijin Ravendra, laki-laki itu hanya akan diam dan menjadi penonton di ruangan tersebut,


"Ampun Tuan muda..., saya mohon maaf tidak dapat memahami apa maksud dari pertanyaan tuan muda. Beri tahu saya yang bodoh ini tuan muda.., atau jika memang tuan muda menginginkan sesuatu, saya akan dengan cepat mengadakannya." dengan penuh ketakutan, tetua memberanikan diri untuk bertanya,


"Ha.. ha.. ha..., melihat koleksimu yang dipajang di dalam ruangan ini, aku dan Johan menjadi gentar. Tanpa sepengetahuan orang-orang yang berada di luar, kamu bisa menghabisi kami di ruangan ini. Koleksi senjatamu yang ada di ruangan ini, bukan untuk membunuh manusia. Melainkan untuk membunuh manusia vampire, bukankan demikian tetua..?" Ravendra menjelaskan dan menekankan perkataannya pada laki-laki itu.


"Ampun tuan muda.., bukan begitu maksud kami. Jika tuan muda akan menggunakan semua persenjataan ini ke Rumania, saya akan sangat berterima kasih Tuan muda. Senjata ini dulu kita siapkan, ketika beberapa perempuan di suku hutan, berniat untuk menjalin hubungan dan menikah dengan manusia vampire,. Hanya berjaga-jaga saja.." setelah memahami maksud kalimat yang diucapkan Ravendra, akhirnya tetua kembali berwajah cerah.


**********


"Tetua.., banyak hal yang bisa kita ambil dari persahabatan kita ini. Tidak baik untuk saling memburu, apalagi saling membunuh meskipun kita berasal dari komunitas yang berbeda. Tetaplah baik kepada kami, kepada kaum manusia vampire di semua belahan bumi ini." tidak diduga, Ravendra mengucap kata pamit dengan penuh makna, bahkan Alexa sampai terkesima dan tidak berhenti memandanginya.


"Jangan terlalu sungkan seperti ini tuan muda.. Semua ini tidak sebanding dengan bantuan tuan muda, dalam menyelamatkan kami puluhan tahun yang lalu. Kita sampai kapanpun tidak akan saling menyerang, kita akan bersatu tuan muda. Jangan khawatir.." tetua menanggapi perkataan Ravendra. Kedua laki-laki itu akhirnya berpelukan, dan tetua menepuk punggung Ravendra sebanyak tiga kali.


"Selamat jalan nona muda Alexa.., kami merasa bangga bisa ikut mengenal nona muda. Jangan lepaskan tuan muda.., kami titip tuan muda untuk selalu dalam pengawasan nona muda Alexa.." tidak ketinggalan, tetua juga mengucapkan selamat tinggal pada Alexa. Perempuan muda itu tersenyum, kemudian membungkukkan badan, menanggapi ucapan salam dari laki-laki tua itu.

__ADS_1


"Johan..., kondisikan semua. Aku dan nona muda Alexa, akan masuk ke pesawat, dan akan terbang lebih dulu untuk meninggalkan hutan ini. Hati-hatilah.." sebelum melangkahkan kaki,. ravendra berteriak meninggalkan pesan untuk Johan dan teman-teman lainnya.


"Siap tuan muda..., selamat jalan." Johan dengan cepat menanggapi perkataan juragannya. Mereka berhenti dan melihat, ketika Ravendra menggandeng Alexa pergi meninggalkan mereka. Di depan beberapa anak tangga untuk naik ke dalam pesawat, Ravendra berhentiĀ  dan menatap Alexa sambil tersenyum. Tidak diduga, di depan orang banyak, laki-laki itu mengangkat tubuh ALexa, kemudian membawanya masuk ke dalam private jet.


"Selamat berjumpa kembali dalam perjalanan kita menuju Rumania tuan muda, dan nona muda.." di depan pintu masuk pesawat, terdengar suara Salsa seperti biasa menyapa setiap penumpang yang masuk.


"Menyingkirlah, dan jangan ganggu kami berdua Salsa." tanpa menjawab sapaan itu, Ravendra langsung memperingatkan perempuan itu. Salsa melirik kepada Steven dan Ronald yang hanya tersenyum sambil menutup mulutnya.


"Blam.." setelah masuk ke dalam pesawat, connecting door ke cock-pit langsung ditutup Ravendra dari dalam.


"Salsa.., diam dan masuklah. Kita tidak sekali dua kali mendampingi Tuan muda dan nona muda melakukan perjalanan. Hanya di dalam pesawat, mereka akan bisa menumpahkan hasrat hati dan kerinduan akan belaian.." bisik Steven ke telinga Salsa, Wajah Salsa memerah, perempuan itu menutup mukanya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Sudah.., sudah.. silence please. Kita harus segera masuk dan menjalankan pesawat. Jika tidak, lihat saja, tidak lama lagi akan ada yang mengamuk pada kita." sahut Ronald. Ketiga awak pesawat itu segera menutup pintu pesawat, dan segera menempatkan diri di area cock-pit.


***************

__ADS_1


__ADS_2