Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Kesalah Pahaman


__ADS_3

Pent House


Johan membuka pintu utama masuk ke Pent House tanpa bicara, satu tangannya memegang pergelangan tangan Raveena. Tidak mau membuat keributan, Raveena diam menuruti laki-laki itu. Tetapi begitu sampai di dalam, Raveena menyentakkan tangan laki-laki itu dengan keras. Tetapi, dengan erat Johan memegang erat tangan tersebut, Raveena menengadahkan wajah melihat ke arah laki-laki itu..


"Lepaskan tanganku.. apakah kakak tidak jijik memegang tanganku yang habis bersentuhan dengan dua anak muda tadi." dengan nada tinggi, Raveena menatap wajah laki-laki yang masih melihatnya.


"Begitu tingkahmu sekarang Raveena.. begitu mudahnya tubuhmu menempel pada anak muda ingusan  seperti itu." dengan sengit Johan mengucapkan kata penghinaan pada gadis itu.


Mendengar perkataan laki-laki itu, bukannya gadis itu menjadi marah. Raveena malah memberikan senyum terbaiknya pada laki-laki di depannya itu. Mata gadis itu mengerling, berusaha menggoda Johan dengan perilaku seperti wanita panggilan.


"Mmmm.. memang beginilah aku kak... Genit.., liar dan sangat menggairahkan di mata laki-laki, sampai kak Johan saja jijik untuk melihat apalagi menyentuhku bukan.. Untuk itu kak.. tidak salah bukan jika aku mencari laki-laki untuk meredakan keinginan dari dalam hatiku ini.." Raveena bertindak genit, satu tangan kosongnya memegang dagu Johan. Dengan gesit, Johan meraih pinggang gadis itu, kemudian dengan kekuatannya laki-laki itu mengangkat tubuh Raveena kemudian membanting tubuh gadis itu di atas sofa.


"Ha.. ha.. ha.. liar.. Begitu menggairahkan dirimu Raveena.." mulut Raveena tidak berhenti berteriak. Gadis itu tidak menghalau tubuh Johan yang menatap dari atas tubuhnya. Tampak keprihatinan terlihat dalam tatapan laki-laki itu pada gadis di depannya.


Dari atas tubuh gadis itu, Johan menatap gadis yang terus berteriak-teriak seperti kehilangan akal. Melihat kegilaan gadis itu, hati Johan terasa mencelos. Ada ketidak tegaan melihat keadaan gadis yang sangat dicintainya itu, namun laki-laki itu tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan rasa cintanya pada Raveena. Padahal keinginan laki-laki itu membuncah ingin meronta, namun ketika teringat dengan pesan-pesan dari papanya, laki-laki itu kembali mundur dan memupus rasa cintanya.

__ADS_1


Gadis di bawah tubuh laki-laki itu yang semula tertawa-tawa mengeluarkan kegalauannya itu, kali ini menangis terisak-isak. Air matanya mengalir deras membanjiri kelopak dan turun dari sudut mata gadis itu. Melihat air mata itu. hati Johan seperti tersedot.. muncul keinginan dari hatinya yang paling dalam, untuk masuk dan menyelami hati gadis itu. Tanpa sadar, laki-laki itu menurunkan wajahnya ke bawah, memberi kecupan di mata Raveena, kemudian menyesap habis air mata itu. Perlahan bibir Johan merambat turun menyusuri pipi gadis itu, kemudian berhenti sejenak di atas bibir Raveena.


"Mmmm.. akh.." Raveena membuka sedikit bibirnya, dan tanpa kendala bibir Johan menyergap dengan penuh penghayatan bibir gadis itu.


Ciuman itu berlangsung untuk beberapa saat, dan tangisan gadis itu berhenti. Kedua bibir itu saling berpaut, dan saling meraup saling melepaskan dahaga kasih sayang masing-masing. Teringat dengan penolakan yang selalu dilakukan oleh laki-laki di atas tubuhnya itu, yang kemudian kembali mengacuhkan dan membiarkannya sendiri, kedua tangan Raveena mendorong dada laki-laki di hadapannya itu.


Johan berusaha memeluk tubuh Raveena dengan erat, tidak mau melepaskan tubuh gadis yang ada di bawahnya. Laki-laki itu kembali menurunkan kepalanya ke bawah, namun Raveena yang biasanya berusaha untuk memancing kesadarannya, kali ini kembali gadis itu menolak perlakuan yang diberikan Johan.


*********


Di rumah Sekupang


"Mau kemana honey.. sejak tadi aku lihat kamu jalan kesana ke mari seperti sedang mencari sesuatu.." Ravendra menanyakan kepentingan istrinya yang sejak tadi hilir mudik di ruangan tersebut.


"Kakak ada lihat dimana Raveena, sejak tadi aku berusaha mencarinya. Namun.. dimanapun tempat yang sudah aku datangi, belum juga ketemu anak muda itu. Sekarang.. aku akan mencoba mencari di teras, atau siapa tahu sedang berada di pantai." Alexa menjawab pertanyaan suaminya.

__ADS_1


Mendengar perkataan istrinya Alexa, Ravendra merangkul pundak istrinya kemudian membawanya menuju ke meja makan. Laki-laki itu memberikan kecupan di dahi istrinya, sambil terus membimbing langkah perempuan itu.


"Honey.. Raveena itu gadis remaja dan sudah dewasa. Bahkan usianya sudah tiga kali lipat dari usiamu.. tidak perlu sampai sebegitunya kamu mengkhawatirkannya. Raveena sedang disusul Johan.. tahulah anak muda itu. Biar mereka berlatih untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing. AKu sudah memutuskan tidak akan ikut campur lagi, biarkan mereka akan membawa kemana hubungan mereka." Ravendra menanggapi kebingungan istrinya itu.


"Jadi kakak itu sebenarnya menyetujui tidak hubungan mereka, jujur kak.. aku sampai tidak tega melihat Raveena. Meskipun gadis itu tidak bercerita padaku, namun aku tahu kak.. Raveena menyimpan perasaan yang dalam pada Johan... hanya saja laki-laki itu selalu mengacuhkannya, dan malah terkesan selalu mengabaikannya." mendengar perkataan dari suaminya, Alexa menyampaikan simpatinya pada Raveena.


Ravendra tersenyum, dan pandangannya beralih keluar menatap jendela. Laki-laki itu mendudukkan ALexa ke sofa yang ada di ruang tengah. Para pengawal yang tadi banyak tidur di atas sofa itu, sudah banyak berpindah tempat. Melihat Ravendra dan anggota keluarga lainnya sudah terbangun, mereka segera berpindah tempat. Sebagian mereka membersihkan diri dan kembali berjaga di depan pintu gerbang sambil merokok, sebagian lainnya pindah tidur di lantai atas.


"Kenapa sih.. sikap kakak terlalu acuh dengan Raveena. Bukankah gadis itu, adik kandung kakak.." Alexa kembali menekankan perkataannya.


"Untuk apa aku ikut campur dalam urusan percintaan mereka honey.. Apakah perlu aku harus memaksa agar Johan menerima rasa cinta adikku, dan akhirnya mereka akan berpisah setelah kembali menemukan ketidak cocokan di antara mereka." Ravendra menanggapi perkataan istrinya dengan santai.


Alexa terdiam mendengar perkataan suaminya. Gadis itu kembali teringat bagaimana besar harapan terlihat di mata Raveena ketika menatap dan berinteraksi dengan Johan. Tetapi laki-laki itu mengacuhkan dan tidak memedulikan perasaan gadis itu, dan bahkan terkadang cenderung menyakiti Raveena. Sebagai sesama perempuan, terkadang Alexa ingin ikut campur mendamprat Johan, namun akal sehatnya terkadang melarangnya.


"Terus apa kita akan tega melihat Veena seperti itu kak, jujur aku tidak tega menyaksikan penderitaan gadis itu. Lagian, memang ada yang kurang dari Raveena, sampai sebodoh itu laki-laki berhati baja itu menolaknya. Terkadang aku ikut merasa sesak melihat  sikap bodoh yang ditunjukkan Johan, aku ingin ikut mendampratnya jika kak Ravend mengijinkan.." Alexa terus menghujat sikap Johan.,

__ADS_1


"Sudah.. sudah tenangkan hatimu honey.. Ingat perutmu, ada janin putra kita di dalamnya. Kita akan tunggu sampai kembalinya mereka ke depan kita, nanti kita akan bertanya secara bersama-sama." melihat emosi yang mulai muncul di wajah ALexa.., Ravendra menenangkan istrinya.


**********


__ADS_2