
Raveena merasa jengkel dengan sikap dan perangai yang dilakukan Johan, dengan tidak tahu sopan santun telah membawanya ke dalam mobil. Tanpa sempat meminta maaf dan pamit dengan David dan Steven, Johan sudah menginjak pedal gas mobil meninggalkan restaurant. Seperti tidak merasa sudah melakukan sebuah kesalahan, Johan tetap diam mengemudikan mobil dengan pandangan ke depan.
"Hmm.. ada juga ya orang berhati batu.. Melakukan kesalahan, tetap cuek seakan sudah menjadi orang yang paling benar sendiri. Sedikitpun tidak merasa bersalah, huh... apalagi kata maa, laksana keniscayaan baginya.." merasa jengkel, Raveena mengucapkan kata-kata sarkasme pada laki-laki yang duduk di sampingnya.
Johan menoleh sekilas melihat ke arah Raveena, tetapi tidak keluar satu katapun menanggapi perkataan gadis itu. Johan malah meningkatkan kecepatan mobil, membelah jalanan yang sudah mulai terlihat ramai.
"Hentikan mobilnya.. aku masih bisa jalan dan pulang sendiri. Aku tidak duduk dalam satu mobil dengan laki-laki berhati batu, tidak punya rasa kemanusiaan atau belas kasihan sedikitpun ..." merasa dikacangin, Raveena berteriak sambil memukul-mukul dash board mobil.
Laki-laki di sampingnya itu tetap tidak memberikan sedikitpun tanggapan, Johan tetap mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.
"Berhenti... atau aku akan melompat dariĀ mobil ini.." Raveena kembali berteriak.
"Citttt...." tiba-tiba Johan menginjak rem secara mendadak, dan mobil berdecit beradu dengan aspal di bawahnya. Kepala gadis itu hampir membentur dash board mobil di depannya, namun airbag mobil langsung mengembang dan tangan Johan menghalangi dahi Raveena terkena benturan.
"Duarr..." karena mobil dalam keadaan kencang, dan melakukan pengereman mendadak.. dua buah mobil di belakang Johan tidak mampu menghindarkan diri dari kecelakaan.
Satu mobil membentur bumper bagian belakang Jeep Cherokee yang dibawa Johan, namun sedikitpun tidak menimbulkan dampak buruk pada mobil itu. Karena Jeep Cherokee yang dibawa laki-laki itu sudah dimodifikasi menggunakan bahan-bahan pilihan dan tahan banting. Satu mobil lainnya membentur dan berbalik arah menabrak pembatas pagar.
Raveena terkejut melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Mata gadis itu terbelalak melihat kekacauan di belakang mobil mereka. Tidak lama kemudian, orang-orang tampak ramai di tempat kejadian peristiwa.
__ADS_1
"Jahat.. kak Johan jahat.. Lihat dampak yang kak Johan timbulkan, dengan menginjak pedal rem secara mendadak." Raveena berteriak histeris pada Johan, namun laki-laki itu hanya tersenyum sinis. Johan menekan panggilan keluar, ternyata laki-laki itu meminta layanan ambulance untuk segera datang ke lokasi. Setelah itu, Johan juga menelpon pihak kepolisian untuk mengatur jalan.
"Duk.. duk.. duk.. keluar kalian dari dalam mobil. Keluar...." beberapa orang merangsek maju, kemudian mereka menggedor pintu dan kaca jendela mobil yang dibawa Johan. Mereka menuntut tanggung jawab dari laki-laki itu, sehingga mereka berlari menggedor pintu mobil.
"Veena.. membunuh ratusan orang jika itu memang perlu akan aku lakukan. Kamu tahu kan, siapa aku sebenarnya.." tanpa menggunakan sebutan nona muda seperti biasanya, Johan tersenyum kemudian membuka pintu mobil, dan menutupnya.
"Jalan ini punya umum, jangan sembarangan menggunakannya. Kalau mau pacaran.. silakan sewa kamar hotel, jangan merugikan pengguna jalan yang lain.." seorang laki-laki berteriak marah-marah pada Johan. Melihat Johan yang menanggapi perkataannya dengan tersenyum, laki-laki itu seperti kehilangan kesabaran. Sebuah pukulan keras diarahkan ke wajah Johan, namun dengan cepat laki-laki itu menangkis dan memegangnya sambil tetap tersenyum.
"Jangan gunakan kekerasan ketika berbicara denganku..., atau aku akan menghabisimu.. Tolong korban kecelakaan, jangan hanya bisa menindas orang lain.." Johan mengibaskan tangan yang digunakan laki-laki tadi untuk memukul anak muda itu.
Melihat kelihaian Johan, dua orang laki-laki lain berjalan menghampiri Johan. Sama dengan laki-laki tadi, kedua laku-laki itu juga memberikan serangan kepada Johan dengan menggunakan kakinya. Namun.. mereka belum tahu siapa Johan sebenarnya, dengan cepat kedua tangan dan kaki Johan bergerak cepat menghalau serangan.
Mendengar suara senjata api yang ditembakkan ke atas, orang-orang berlari menyingkir dari tempat itu. Untungnya tidak lama kemudian, dua mobil ambulance dan mobil polisi sudah tiba di lokasi kejadian. Dua orang polisi, berjalan mendatangi Johan yang berdiri di samping mobil, dan yang lainnya mengatur jalan. Tenaga kesehatan pada dua ambulance, segera bertindak memberikan pertolongan pada korban yang terluka.
"Selamat pagi Tuan Johan... apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba Tuan bisa menjadi penyebab kecelakaan ini.." dua orang polisi yang ternyata Kapolresta Batam langsung yang turun ke lokasi memberi hormat pada Johan.
"Aku yang sudah membuat kesalahan, urus dan bereskan semuanya. Kerugian moral dan material akan saya tanggung semuanya pak Kapolresta.. mohon semuanya diurus dengan sangat baik." Johan langsung mengakui kesalahan pada dua polisi yang ada di depannya.
"Siap laksanakan.. Silakan Tuan Johan lanjutkan perjalanan, kami akan mengurus dan membereskan mereka semua." Kapolresta tersenyum dan mengkondisikan kejadian tersebut.
__ADS_1
Setelah mendengar kesanggupan pihak kepolisian untuk menyelesaikan urusan, Johan langsung berpamitan dan kembali masuk ke dalam mobil. Raveena menatap mata laki-laki itu dengan penuh amarah, namun Johan mengabaikannya.
********
Beberapa pengawal yang ada di rumah Nyonya Sarah, bergegas mencari kunci mobil setelah mendapatkan pesan dari aplikasi whattsapps. Mereka mendapatkan pesan jika mobil yang dibawa Johan dan Raveena telah menyebabkan sebuah kecelakaan. Para pengawal itu segera bergegas untuk membereskan urusan tersebut. Namun baru saja mereka akan keluar, tiba-tiba terlihat Ravendra berjalan keluar dari dalam rumah melalui pintu depan.
"Ada dimana Johan.. apakah ada yang melihatnya?" tanya Ravendra dengan sikap dingin.
"Tuan Johan dan Nona muda Raveena sepertinya akan kembali ke Pent House tuan muda.. Mobil yang dikendarai oleh Tuan Johan menyebabkan kecelakaan di jalan Raya Ali Haji tuan muda.. Kami akan segera ke Polresta untuk menyelesaikan urusan.." pengawal langsung melaporkan kabar yang baru saja diterimanya.
Mendengar penuturan pengawal tersebut, dahi Ravendra berkerut. Namun mendengar kepergian Johan bersama dengan adik kandungnya Raveena, akhirnya laki-laki itu hanya menghela nafas.
"Baik urus dan bereskan semuanya.." ucap Ravendra sambil membalikkan badan kembali masuk ke dalam.
"Siap tuan muda.." pengawal itu segera melanjutkan langkahnya menuruni teras rumah untuk menuju ke mobil yang sudah berada di luar pintu gerbang,
"Enak sekali ya jadi orang kaya.. Semuanya cepat selesai dengan menggunakan uang. Tidak seperti kita.. masih banyak kebutuhan rumah tangga yang masih harus kita bereskan.." sambil jalan, salah satu pengawal mengomentari kehidupan Ravendra.
"Hush.. jaga bicaramu. Apa kamu mau, tuan muda Ravendra atau keluarganya mendengar kata-katamu. Kita mesti bersyukur, tuan muda Ravendra dan tuan Johan membayar kita empat kali lipat dari standari gaji pengawal di kota ini. Aku suka dan akan tetap setia kepada keluarga ini.." pengawal yang diajak bicara, menasehati pengawal itu.
__ADS_1
**********