
Seperti sudah mengenal dengan baik wilayah itu, Thomas tahu-tahu sudah berhenti di sebuah kastil tempat untuk menyekap Alexa. Dengan berhati-hati laki-laki itu mengendap dan mengamati ke sekeliling kastil. Terlihat beberapa manusia vampire tampak tengah berjaga-jaga, memastikan jika tidak ada penyusup yang akan memasuki tempat tersebut. Melihat ada celah untuk masuk ke halaman kastil, Thomas dengan cepat melompat pagar dan langsung berdiri di balkon samping bangunan tersebut.
Dari tempat yang tidak jauh dari kastil tersebut, Johan terlihat mengamati perilaku Thomas. Melihat bagaimana kegigihan Thomas untuk dapat masuk ke dalam kastil, laki-laki itu tersenyum. Sekitar satu kilometer dari tempatnya saat ini, Johan meninggalkan mobilnya karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan para vampire yang membawa Alexa ke sini.
"Aku akan melihatnya dari sini, sekaligus untuk berjaga-jaga jika saja Thomas terjebak dalam jebakan para manusia vampire itu." Johan berbicara sendiri. Laki-laki itu tidak tergesa-gesa untuk menyelinap masuk, melainkan hanya mengamati bagaimana Thomas berusaha untuk masuk ke dalam kastil.
Tiba-tiba telinga Johan menangkap suara langkah kaki menuju ke arahnya. Dengan cepat, laki-laki itu menyembunyikan dirinya untuk mengelabui orang-orang yang lewat di sekitarnya.
"Kita bernafas lega dulu, karena nona muda menantu Tuan Besar Abraham sudah disekap di dalam kamar. Kita akan lihat, apa yang akan bisa dilakukan oleh laki-laki itu untuk menyelamatkan menantunya. Apalagi terlihat jika tuan muda Ravendra sepertinya juga mengabaikan keselamatan istrinya. Sudah beberapa saat nona muda itu kita tangkap, tetapi belum ada pergerakan sedikitpun dari laki-laki muda itu." terdengar di telinga Johan, para vampire itu sedang membicarakan keluarga Tuan Besar Abraham.
"Iya sementara kita beristirahat dulu. AKu juga menjadi lega, karena kita tidak perlu melibatkan Bibi Cathy dalam hal ini. Perempuan tua itu sudah terlalu lama menanggung kesedihan, kita tidak bisa memberikan kesembuhan pada perempuan itu, kenapa kita malah akan memberinya tanggung jawab besar." vampire yang satu menanggapi perkataan temannya.
Dengan jelas, Johan menangkap pembicaraan kedua manusia vampire yang berdiri di dekat tempatnya bersembunyi. Laki-laki ini memang sengaja untuk menunggu, tidak ingin segera menampakkan dirinya. Johan ingin mengetahui sebenarnya apa yang melatar belakangi penculikan nona muda ALexa.
"Apa karena kejadian ratusan tahun yang lalu itu ya..? Jika iya, berarti ada kesalah pahaman dalam hal ini. Bukan Tuan Besar Abraham yang menjadi penyebab meledaknya gedung pabrik di pinggir hutan sana, melainkan orang lain yang melakukannya. Apakah para manusia vampire itu berpikir jika Tuan Besar Abrahan menjadi orang yang dipersalahkan dalam kasus ratusan tahun yang lalu itu?" sambil tetap bersembunyi, Johan bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi apakah tempat Tuan Hidro menyekap nona muda itu bisa dipastikan akan aman..?" tiba-tiba satu dari vampire tersebut teringat sesuatu.
"Sudahlah.. kita tidak perlu memusingkan hal tersebut. Selagi nona muda itu sudah kita tangkap, urusan ada di tangan Tuan Hidro, karena Tuan sendiri yang memerintahkan nona muda itu masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua. Kita harapkan tidak akan ada yang terjadi, dan aku yakin jika perempuan itu akan berpikir lebih, jika harus melarikan diri keluar dari hutan ini. Bagaimanapun dia hanyalah seorang perempuan.." dengan santai, manusia vampire yang satu memberikan tanggapan.
"Iya juga ya.. aku akan istirahat sebentar.." vampire satunya menyahuti.
******
Thomas berusaha mengintib bagian dalam kastil melewati lubang jendela yang ada di depannya. Ternyata laki-laki itu sangat beruntung, karena ternyata balkon tempatnya berada saat ini, bertepatan dengan kamar yang digunakan untuk menyekap Alexa. Dengan jelas, laki-laki itu bisa melihat dari luar balkon, jika saat ini putrinya sedang tertidur di atas ranjang. Thomas tersenyum melihat bagaimana putrinya menghadapi masalah penyekapannya dengan sikap tenang.
"Tapi bagaimana aku bisa memasuki kamar ini tanpa menimbulkan suara. Sedangkan jendela dan pintu ini terkunci dari dalam. Aku bisa saja menghancurkannya, kemudian menyelinap masuk. Tapi pasti akan menimbulkan suara bising, dan para vampire itu akan berlarian menuju kemari." Thomas berpikir bagaimana cara untuk memasuki kamar tersebut.
Beberapa saat Thomas terdiam, laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut. Namun, laki-laki itu tidak menemukan peralatan yang bisa dimanfaatkannya untuk membuka pintu. Tiba-tiba mata Thomas menangkap pergerakan Johan yang ada di balik sebuah pohon. Kedua laki-laki itu saling berpandangan, dan Johan menunjuk senjata api yang ada di tangannya, Melihat hal itu, Thomas merasa bingung beberapa saat.
"Apa yang dimaksudkan oleh anak muda itu, kenapa Johan menunjuk senjata api. Apakah aku diminta menembaki orang-orang itu jika mereka datang menyerangku.." terlihat Thomas masih merasa bingung.
__ADS_1
Thomas mengambil senjata api yang ada di sakunya, kemudian membolak-balikkan senjata api itu untuk menemukan petunjuk yang diisyaratkan oleh Johan di bawah. Tiba-tiba mata laki-laki itu bertumpu pada tulisan Memiliki perlindungan akan peredam, dan sesaat bibir Thomas membentuk sebuah senyuman.
"Mmmm... sepertinya ini yang dimaksudkan oleh Johan. Aku dapat menggunakan senjata ini tanpa diketahui oleh manusia vampire, karena tidak akan menimbulkan suara." Thomas berhasil menangkap signal yang diisyaratkan oleh Johan.
Dengan berhati-hati, Thomas kembali berjalan mendekati gagang pintu masuk ke kamar itu. Setelah memastikan kekuatan dari daun pintu dan slot pintunya, Thomas menembakkan tiga kali senjata api yang ada di tangannya. Tidak ada suara yang keluar dari tembakan tersebut. Sambil tersenyum, Thomas memutar gagang pintu, dan syukurlah gagang pintu berputar. Tidak lama kemudian pintu terbuka, dan Thomas dengan cepat menyelinap masuk ke dalam kamar.
Tidak mau menimbulkan kecurigaan, sebelum membangunkan Alexa.., Thomas berjalan menuju pintu masuk kamar. Dengan perlahan, laki-laki itu mengunci pintu kamar dari dalam. Setelah memastikan pintu itu terkunci, barulah Thomas berjalan menuju ke samping tempat tidur Alexa.
"Lexa.. Lexa putriku bukalah matamu perlahan.." tidak mau mengagetkan Alexa, Thomas membangunkan Alexa dengan perlahan.
Tidak lama kemudian, kelopak mata Alexa mengerjap dan perlahan kelopak mata itu membuka. melihat wajah papanya ada di depan matanya, gadis itu mengucek matanya tidak percaya. Dengan cepat, Thomas meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya, memberi isyarat agar gadis itu terdiam.
"Papa disini.., bagaimana papa bisa masuk ke dalam?" dengan berbisik, Alexa bertanya pada Thomas.
"Panjang ceritanya, bangunlah dulu.."
__ADS_1
********