
Tepat sore hari, saat matahari dengan malu akan tenggelam di peraduan, mobil yang membawa Alexa dan Ravendra sampai di halaman kastil. Menggunakan kain panjang yang selalu tersedia di dalam mobil, Ravendra menggulung tubuh istrinya, dan meninggalkan pakaian serta onderdil bagian dalam di dalam mobil. Dengan posisi mengenakan gulungan kain panjang, dengan muka memerah, Alexa kembali diangkat Ravendra dan diajak masuk ke dalam kastil. Puluhan maid dan pelayan laki-laki menyambut kedatangan raja di kastil itu dengan sikap hormat. Mereka membungkukkan badan, mengiringi langkah Ravendra masuk di dalam kastil.
Sesampainya di dalam kamar, ravendra langsung membawa tubuh Alexa ke bath room, dan merendam tubuh gadis itu di dalam bak mandi yang sudah ditetesi oleh aroma theraphy. harum aroma theraphy membangkitkan semangat, dan menghilangkan rasa capai di tubuh Alexa.
"Kak.., baju apa yang akan aku pakai, bukannya semua perlengkapan kita masih di dalam mobil." tiba-tiba Alexa teringat jika semua perlengkapannya masih di dalam mobil.
Ravendra mendekat ke arah Alexa. kemudian menundukkan wajah dan kembali memberikan kecupan di kening gadis itu. Perempuan itu mendorong dada laki-laki itu, karena tidak ingin terjadi lagi kejadian seperti di dalam mobil.
"Hmm.., kamu terlalu membuat jarak denganku honey.. Baiklah.., aku menghormatimu. Jangan khawatirkan masalah baju ganti, semua sudah aku siapkan di walk in closed. Semua villa, kastil di seluruh dunia, begitu aku memutuskan untuk menikah denganmu, semua perlengkapanmu sudah tersedia semuanya. Aku tunggu di luar honey..." Ravendra melangkah keluar meninggalkan bath room.
Alexa tersenyum, melihat bagaimana kayanya laki-laki yang sudah menikah dengannya itu, menjadikan dirinya bukan apa-apa. Semakin melihatnya, semakin perempuan itu merasa kerdil, merasa tidak sebanding dengan Ravendra. Tetapi itulah cinta.., bukan karena persamaan yang menyatukan mereka, tetapi dari perbedaan yang ada, yang kemudian dilengketkan oleh rasa cinta.,
Tidak berapa lama, Alexa memutuskan untuk mengakhiri mandinya. Gadis itu hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, keluar dan melihat sebuah pintu terbuka di sudut ruangan, Alexa mendatangi tempat tersebut. Begitu masuk ke dalamnya, mata Alexa terbelalak, berbagai koleksi gaun, baju santai dari keluaran designer di seluruh dunia tersedia sesuai dengan ukurannya. Dalam sisi tumpukan di dalam drawer, koleksi lingerie sesuai warna baju juga banyak terkoleksi.
"Ternyata kak Ravend benar telah melakukannya, apakah di seluruh dunia betul-betul sudah disediakan semuanya. Berapa milliar atau bahkan trilliun dihabiskan kak Ravend hanya untuk urusan fashionku." Alexa bertanya pada dirinya sendiri.
"Tetapi jika aku bertanya, terkesan malah akan merendahkan diriku sendiri. Aku pakai pakaian santai saja, toh tidak ada acara formal yang akan aku hadiri selama di negara ini. Kak Ravend hanya akan menyelesaikan urusannya dengan Robin dan Tami, aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di kastil saja," ucap Alexa. Gadis itu kemudian mengambil satu rok midi, dan mengenakan baju atasan santai. Setelah dikenakannya, kecantikan Alexa terpancar, seperti baju itu memang khusus tercipta untuk dirinya.
__ADS_1
Alexa merias tipis wajahnya, hanya menggunakan bedak tabur dan lip balm untuk menjaga agar bibirnya tidak kering. Setelah merasa sudah selesai, perlahan Alexa keluar dari dalam kamar untuk mencari Ravendra. Betapa terkejutnya gadis itu, ternyata begitu pintu kamar terbuka, dua orang maid berdiri tepat di depan pintu. Kedua maid itu membungkukkan badan memberikan sapaan kepadanya,
"Nona muda.. Tuan muda Ravendra menunggu nona muda untuk dinner di tepi swimming pool.. Kami diminta mengantarkan nona muda kesana." salah satu maid melaporkan kepentingannya berada disitu.
"Baik.., antarkan aku kesana." dengan perkataan singkat, Alexa menanggapi perkataan maid tersebut. Satu maid berjalan di depan Alexa, dan satunya lagi berada di belakang gadis itu.
***********
Mata Alexa bersinar cerah, di tepi kolam renang, terlihat Ravendra berdiri menyambutnya dengan tampilan pakaian yang terlihat formal. Dua buah lilin tampak menyinari round table yang ada di depan laki-laki itu, dan satu botol champaign tampak menghiasi di atasnya. Tanpa berkedip, gadis itu perlahan melangkah menuju ke arah suaminya.
"Good night my honey..." Ravendra meraih tangan Alexa, kemudian menundukkan wajahnya untuk memberikan kecupan di punggung tangan gadis itu. Meskipun perlakuan itu bukan hanya kali ini saja dilakukan Ravendra, tetapi kali ini masih membuat dada Alexa merasa berdesir. Darah seperti terpompa ke atas kepalanya, dengan jantung berdetak cepat.
"Honey.., apakah honey mau mencoba minum sampanye malam ini. Sekali-kali untuk ceremony kebersamaan kita kali ini." Ravendra menawarkan sampanye pada gadis itu.
"No..., aku tidak akan mau mencobanya kak. Apakah setiap perayaan harus selalu ada minuman seperti itu disini, jika begitu kak Ravend saja yang minum, aku cukup air mineral atau air teh panas saja." sudah menduga akan mendapatkan penolakan seperti itu, Ravendra hanya tersenyum.
"Okay sesuai titah tuan putri.., aku akan mengganti minuman ini." akhirnya Ravendra mengalah, kemudian melambaikan tangan memanggil maid untuk menyingkirkan botol sampanye dari depan mereka,
__ADS_1
"Gantikan dengan dua teh panas manis, dan sajikan semua menu untuk dinner," Ravendra langsung memberi perintah pada maid itu.
Tidak lama kemudian, beberapa maid datang membawakan beberapa menu masakan ke atas meja, kemudian membawa pergi kembali botol sampanye tersebut. Tinggallah Ravendra dan Alexa di sisi kanan tepian kolam renang, dengan diterangi dua buah lilin.
"Dagingnya sudah aku potong, nikmatilah.." ternyata sejak tadi, Ravendra sibuk memotong-motong daging steak di atas piring, bukan menyediakan untuk dirinya sendiri, tetapi menyiapkannya untuk Alexa.
Alexa mulai menusuk potongan daging itu dengan menggunakan garpu, dan memasukkan potongan daging itu di mulutnya. Alexa terkejut karena potongan daging itu sangat empuk, dan begitu dikunyah langsung lumer di dalam mulutnya.
"Empuk kak.., enak banget rasanya.." Alexa mengagumi rasa dan tekstur dari daging yang dikonsumsinya,
Ravendra hanya tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan gadis itu. Laki-laki itu mengambil tissue kemudian membersihkan tetesan saos yang ada di sudut bibir gadis itu. Alexa tersenyum, kemudian melanjutkan menikmati beef steak yang dipadu dengan potongan kentang.
Beberapa saat kemudian,
"Apa rencana kakak malam ini.., apakah akan langsung berembug dengan sesama manusia vampire, ataukah masih besuk kakak berembugnya?" merasa sudah kenyang, Alexa membuka pembicaraan dengan Ravendra.
"Honey.., malam ini aku ingin menikmati malam hanya denganmu. Untuk urusan manusia vampire, janganlah honey turut berpikir. Semua menjadi urusanku, urusan laki-laki honey.." Ravendra melarang Alexa turut berpikir tentang masalah yang ada di manusia vampire.
__ADS_1
"Hmm begitukah.., tapi aku juga tidak mau jika hanya dibiarkan menjadi penghuni di kastil ini saja. Atau Alexa akan terbang sendiri pulang ke Indonesia, apa gunanya kita menikah dan berkeluarga, jika semuanya harus menjadi urusan kita masing-masing." Ravendra terkejut mendengar respon yang ditunjukkan Alexa,
********