Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Penjelasan


__ADS_3

Di ruang tengah kastil


Beberapa manusia vampire sudah berkumpul di dalam ruangan, mereka akan mendiskusikan strategi untuk menggunakan Alexa dalam memancing kedatangan Tuan Besar Abraham ke tempat mereka. Sekitar sepuluhan orang berurun rembug, dengan usulan masing-masing. Ada yang ingin mengirimkan foto Alexa langsung ke ponsel Abraham, ada yang akan melakukan teror panggilan telpon, bahkan ada yang memiliki ide untuk mengirimkan surat panggilan ke rumah.


"Apakah kalian sudah pastikan, gadis muda yang kalian bawa tidak kabur dari dalam kamar..?" laki-laki yang dituakan pada kelompok orang-orang itu bertanya.


"Tidak Daddy.., tadi kami tinggalkan dan kami antarkan makanan serta minuman ke dalam, gadis itu sedang berebahan di ranjang. Sepertinya gadis itu kecapaian, karena sedang mengandung janin trimester pertama. Mungkin efek dari janin yang dikandungnya, mengurangi tenaga gadis tersebut." perempuan yang tadi terlihat membawakan makanan dan minuman untuk ALexa berbicara.


"Selain hal itu, di luar orang-orang kita berpratoli mengelilingi kastil. Kami tidak melihat satupun orang asing yang berkeliaran di luar. Jadi kami ikut memastikan, jika gadis muda itu masih aman dan berada di dalam kamar untuk beristirahat." laki-laki yang tadi hampir berpapasan dengan Johan, ikut bicara.


"Bagaimana dengan Cathy.., apakah perempuan itu tahu jika gadis yang dia anggap sebagai cucunya, saat ini sudah berada di dalam genggaman kita?" tiba-tiba laki-laki tua itu bertanya tentang Cathy.


"Kami pastikan tidak Daddy.., kecuali ada yang memberi informasi pada perempuan itu. Atau bisa jadi, karena dipusingkan mencari keberadaan gadis itu yang tidak kunjung ditemukan, mereka mendatangi rumah kastil dan menanyakan padanya." salah satu memberikan tanggapan.


Semua terdiam, dan berpikir tentang skenario terburuk yang dapat mereka hadapi. Apalagi kali ini mereka berurusan dengan keluarga yang bukan sembarangan. Dan memang itulah yang mereka incar, mereka inginkan di akhir-akhir ini. Bagi mereka, Abraham dan keturunannya harus mempertanggung jawabkan kekuatannya di masa lalu, yang telah dianggap memusnahkan keturunan mereka.


"Tengok gadis muda itu di kamarnya, apakah dia sudah terbangun atau belum. Jika sudah, bawa gadis itu kemari, kita akan mulai mewawancarainya sekarang. Karena kita tidak boleh membuang-buang waktu, kita harus segera berpindah dari tempat ini, jika tidak mau menerima serangan dari Abraham dan keluarganya." laki-laki yang terlihat lebih tua memberi perintah.

__ADS_1


"Baik Tuan.., akan kita pastikan.." seorang laki-laki menyanggupi perintah tuannya, kemudian bergegas bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu kamar yang digunakan untuk menyekap Alexa.


"Klek.." laki-laki itu memutar gagang pintu kamar, namun ketika mendorongnya ke dalam, seperti ada sekat yang mengunci pintu tersebut, Merasa ragu, laki-laki itu mengulangi lagi, tetapi hasil yang sama yang dia rasakan. Pintu terkunci dari dalam kamar.


"Tolong carikan kunci pintu cadangan, rupanya gadis itu sudah mengunci pintu dari dalam. Aku tidak dapat untuk membukanya.." laki-laki itu berteriak untuk mendapatkan kunci cadangan.


Seorang perempuan berlari dan membuka sebuah laci. Setelah memilah-milah anak kunci beberapa saat, perempuan itu memberikan anak kunci pada laki-laki tersebut. Laki-laki itu memasukkan anak kunci, karena anak kunci masih tergantung di dalam kamar, pintu tidak terbuka dari luar.


"Anak kuncinya tergantung di dalam kamar, aku tidak bisa membukanya dari luar sini." laki-laki itu memberi tahu semua yang ada disitu.


"Bergeserlah dari tempatmu berdiri, masalah seperti itu saja kamu tidak bisa menyelesaikannya," setelah laki-laki itu bergeser, sebuah tembakan di arahkan laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Daddy ke arah lubang kunci pintu. Setelah beberapa saat, laki-laki itu memutar gagang pintu, dan dengan mudah daun pintu itu terbuka lebar.


********


Alexa On#


Begitu melihat kedatangan papanya Thomas ke dalam kamar, gadis itu merasa memiliki harapan untuk dengan mudah membebaskan diri dari kastil itu. Dengan menggunakan kedua tangannya, Thomas tidak mau gambling. Untuk pertama kalinya, laki-laki itu mengangkat tubuh putrinya dengan menggunakan kedua tangannya. Laki-laki itu segera berubah menjadi manusia vampire, kemudian melompat terbang keluar dari balkon di luar kamar penyekapan Alexa.

__ADS_1


"Berhenti.. siapa kamu..?" terdengar teriakan manusia vampire dari arah bawah. Tidak mau berurusan dengan mereka, Thomas terus terbang dan melompat dari dahan pohon ke dahan lainnya.


Tidak berselang lama, manusia vampire tanpa identitas itu beterbangan mengejar ALexa dan Thomas sambil menyalakan suar untuk memberi tahu komunitasnya. Tetapi beberapa orang yang hampir mengejar Thomas, tiba-tiba mereka terjungkal ke belakang. Dengan gagahnya, terlihat Johan menghadang mereka dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan,


"Ternyata ini semua karena ulahmu Johan..., sehingga gadis itu yang kami gunakan sebagai umpan untuk mendatangkan Abraham ke tempat ini, menjadi kacau balau semuanya." salah satu manusia vampire mengenali kehadiran Johan.


"Kamu sudah salah untuk memilih lawan... kapan kalian akan tersadarkan jika tindakan kalian memusuhi keluarga besar Tuan Besar Abraham merupakan sebuah kesalahan. Berpikirlah kalian.." Johan menanggapi perkataan orang-orang itu dengan senyum meremehkan,


"Kami tidak akan menjadi seperti ini, jika Abraham tidak memprovokasi kami. Kamu harus ingat Johan, kejadian dua ratus tahun yang lalu, dimana keluarga kami banyak terpanggang hangus, dan tidak bisa melakukan re inkarnasi. Abrahamlah yang menjadi penanggung jawab kejadian itu. Hanya demi kekuasaan, laki-laki itu sudah berperilaku kejam terhadap kami. Dan ingat.., sampai kapanpun kami akan selalu menuntut balas atas kejadian itu." manusi vampire itu mengungkapkan kesalahan Abaraham yang dianggapnya fatal bagi mereka.


"Ha... ha.. ha.. selalu hal itu yang kalian jadikan sebagai bahan argumentasi kalian untuk menyerang keluarga Tuan Besar. Apakah kalian memiliki bukti, memiliki saksi, sehingga dengan kejinya kalian menuduh Tuan Besar sebagai orang yang harus bertanggung jawab dalam kejadian itu. Berpikirlah.. sebagai generasi yang lebih mudah, jangan pernah tergiur oleh omongan sampah seperti itu." sambil tertawa, Johan menanggapi perkataan itu.


"Itu hanya alibimu saja Johan.. Jika itu yang menjadi kebenarannya, kenapa sampai selama ini, Abraham tidak menjelaskannya kepada kami? Apakah memang dia pelakunya, sehingga tidak siap untuk berhadapan dengan kami?" penjelasan Johan begitu saja mereka abaikan.


"Bicara dengan orang bodoh seperti kalian, lebih baik juga tidak akan kita lakukan." dengan santai dan senyum sinis, Johan memberikan tanggapan.


Mendengar perkataan Johan yang menyindir mereka, wajah orang-orang yang ada disitu menjadi bersemu merah menahan kemarahan.

__ADS_1


***********


__ADS_2