Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Laki-laki itu Tidak Asing


__ADS_3

Raveena ternganga melihat apa yang dilakukan oleh kakak iparnya.Gadis muda itu berdiri sedikit jauh dari bangunan yang diledakkan Alexa, dengan menggendong Abhimana di depannya. Banyaknya jebakan untuk menyerap kekuatan vampire yang disiapkan Robert, membuat Raveena tidak bisa sembarangan untuk bertindak. Sehingga ketika Alexa maju dan menempelkan bom kecil hasil rakitan Nyonya Sarah, Raveena memilih untuk menjauhkan dirinya.


"Darimana kak Lexa bisa mendapatkan bom ukuran sekecil itu tanpa terdeteksi oleh siapapun.. Bom itu memiliki kekuatan ledak yang luar biasa, hanya saja aku belum bisa menemukan kak Ravend dan kak Johan.. Aku harap, kak Lexa segera dapat menemukan mereka berdua.." dari tempatnya berada, Raveena berbicara pada dirinya sendiri. Mata gadis muda itu mencoba menembus pada asap yang ditinggalkan oleh ledakan bom itu, namun belum bisa terlihat dimana keduanya.


Tiba-tiba Raveena merasakan ada benda dingin di belakang kepalanya, tepat di tengah-tengah tengkuknya. Gadis muda itu tidak berani bergerak, karena merasa seperti ada sebuah pelatuk yang berada disana. Merasakan ada tarikan kekuatan dari pelatuk, yang seakan melemahkannya, Raveena yakin jika pelatuk itu menggunakan peluru perak. Berarti orang yang menodongkan pelatuk kepadanya, mengetahui identitasnya sebagai manusia vampire.


"Balikkan kepalamu.. jadi itu semua ulahmu ja**lang. Berani-beraninya kamu mengacaukan rencanaku.." terdengar hardikan yang ditujukan untuknya dari belakang tempatnya berada.


Perlahan Raveena mengikuri arahan orang itu, gadis muda itu mulai menoleh ke belakang. Terlihat laki-laki bertopeng menatapnya dengan tatapan marah. Tetapi Raveena tidak menunjukkan jika dirinya sedang merasa takut melihat orang itu, Gadis muda itu tetap berpikir untuk menahannya.


"Plak..." satu tamparan mendarat di rahang sebelah kanan Raveena. Untungnya tangan laki-laki bertopeng itu tidak mengenai kepala Abhimana, dan bocah bayi itu masih dalam keadaan tertidur.


Raveena tersenyum masam, sambil mengusap darah mengalir dari bibirnya yang retak terkena pukulan laki-lkai itu. Sambil membetulkan kepala Abhimana, Raveena kembali menatap laki-laki bertopeng di depannya itu.

__ADS_1


"Hmm.. melihatmu tidak berani mendekat ke lokasi bangunan yang meledak, sepertinya kamupun seorang manusia vampire bukan. Kamu takut, karena penyerap kekuatan vampire banyak terdapat disana, sehingga kamu memperalat Tuan Robert untuk membantumu dalam ide burukmu ini.." tanpa takut, Raveena mengatai laki-laki bertopeng itu.


"Jaga bicaramu gadis manja.. aku dapat menghancurkan isi kepalamu, dan juga bayi yang ada dalam gendonganmu. Berani-beraninya kalian mengacaukan rencana yang sudah aku susun matang.." laki-laki itu kembali menghardik pada Raveena. Namun.. gadis muda itu sama sekali tidak menunjukkan ekpresi takut sedikitpun, sesekali malah tersenyum seperti melecehkan tindakan laki-laki itu,


"Memang mentalmu hanya berani untuk melawan perempuan, juga bayi yang tidak berdaya seperti ini.. Jika kamu mau, tidak perlu kamu menungguku.. tembak atau bunuh kami berdua ..." dengan berani, Raveena menantang laki-laki itu. Gadis muda itu berjalan mendekati laki-laki itu.


"Damn it.. lancang sekali mulutmu perempuan ja**lang..." sekali lagi laki-laki itu dengan sekuat tenaga,. mengangkat tangannya untuk memberikan tamparan pada Raveena. Dan gadis itu hanya tersenyum menatap mata laki-laki itu, yang sepertinya mata itu tidak asing, sering dilihatnya sebelum berada di tempat ini.


"Hentikan tangan kotormu.. hadapi aku. Jangan lawan gadis muda dan seorang bayi yang masih merah... biadab..." tiba-tiba laki-laki bertopeng itu terkejut, karena tangannya yang akan digunakan untuk memberikan tamparan pada Raveena, tiba-tiba dipegang dan ditarik seseorang dari belakang. Raveena terkejut melihat papanya Alexa, Tuan Thomas sudah berada di tempat itu. Mata laki-laki paruh baya itu, dengan tajam menatap laki-laki bertopeng yang berdiri di depannya.


"What your talking about... Gadis muda ini sudah aku anggap sebagai putriku sendiri, dan bayi dalam gendongannya adalah cucuku. Bisa-bisanya kamu berbicara omong kosong, mengatakan jika hal ini bukan merupakan urusanku.." dengan senyum sinis, Thomas menahan tangan laki-laki bertopeng itu,


"Poak.. dukk..." dengan sekali hentak, laki-laki bertopeng itu berhasil melepaskan tangannya yang dipegang oleh Thomas. Laki-laki itu kemudian memundurkan langkah kakinya ke belakang, dan menatap mata Thomas dengan garang,

__ADS_1


"Terlalu banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan disini, berani-beraninya mencampuri urusanku dengan keluarga Ravendra. Ingatlah kalian semua... aku akan menghabiskan keluarga Ravendra.sampai ke akar-akarnya. Ha.. ha.. ha..." dengan tertawa terbahak-bahak, laki-laki bertopeng itu mengarahkan pistol pada Tuan Thomas.


"Take care Uncle... sepertinya peluru dalam pelatuk itu, sudah dilapisi dengan bahan perak. Tadi veena sempat merasakannya sebentar.." Raveena berbisik memperingatkan Thomas.


"Tenanglah Veena.. laki-laki bertopeng itu juga manusia vampire, akan sangat berbahaya juga bagi keadaannya jika, peluru itu sampai melesat keluar. Jadi yakinlah... dia juga tidak akan sembarangan mau menembakkan peluru itu. Tampaknya laki-laki bertopeng ini tidak jauh-jauh dari circle kita juga, karena dia tampak mengenali siapa kita dan keluarga kita,.." dengan berhati-hati, Thomas memperingatkan Raveena.


"Iya Uncle... apakah dia kak Robin.. Tapi menurut papa, kak Robin sempat terkena halangan, ketika mereka berada di Rumania. Rencana buruknya dengan kak Tami.. digagalkan oleh papa Abraham dan juga kak Ravendra.. " Raveena bicara dengan ragu-ragu. Gadis muda itu kembali mengarahkan pandangannya pada laki-laki bertopeng itu, yang dari tatapan matanya sudah mulai terlihat kepanikan,


"Sabarlah Veena.. sebentar lagi kita akan mengetahui akhirnya. By the way.. dimana kakakmu Alexa, uncle tidak melihatnya sejak tadi.." tiba-tiba Tuan Thomas teringat akan putrinya,


Raveena tersentak, sejak tadi dia terlupakan karena tiba-tiba harus berurusan dengan laki-laki bertopeng itu. Mendengar pertanyaan Thomas, bukan hanya Raveena yang terkejut, ternyata laki-laki bertopeng itu juga sama adanya. Laki-laki itu melihat ke arah Raveena dan Thomas.


"Iya Uncle.. Veena malah melupakan kak Lexa.. Tadi kami berbagi tugas Uncle.. kak Veena yang menuju ke bangunan yang digunakan untuk menyekap kak Ravend dan kak Johan.. Tetapi akhirnya gimana, Veena belum tahu Uncle.. karena tahu-tahu bangunan itu sudah meledak. Karena Veena membawa ABhimana ke tempat ini, malah akhirnya bertemu dengan laki-laki itu.." sambil menunjuk ke laki-laki bertopeng itu, Raveena menjawab pertanyaan Thomas.

__ADS_1


"Really... semoga Lexa baik-baik saja. Uncle harus segera melihat keadaan putri Uncle.. Veena.." tanpa menunggu jawaban dari Raveena, Thomas segera melesat pergi meninggalkan tempat itu. Melihat papa Alexa pergi, laki-laki bertopeng itu segera mengikuti arah kemana laki-laki itu pergi. Tinggallah Raveena dengan Abhimana yang masih berada di tempat itu.


********


__ADS_2