
Tuan Abraham tersenyum dan berusaha tidak terpancing dengan emosi yang ditunjukkan putranya Ravendra. Kesalahannya di masa lalu, memang tidak mudah untuk dilupakan Ravendra. Sehingga apapun yang diupayakan untuk dilakukan demi kebaikan putranya itu, selalu mendapatkan sindiran dan tidak diterima dengan baik.
"Alexa putri menantuku.., aku tidak mau dikatakan bersalah di depan putraku sendiri. Bergeserlah, kembalilah ke tempatmu di samping Ravendra. Papa bisa berbicara denganmu dari tempat ini." dengan suara pelan, Tuan Abraham mengajak Alexa berbicara.
Perempuan itu menatap mata Tuan Abraham, dan laki-laki paruh baya yang tetap terlihat gagah dan tampan itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Melihat tatapan suaminya yang tidak enak untuk dilihat, perlahan Alexa bergeser dan mendekat pada suaminya. Dengan cekatan, tangan ALexa mengambil sendok dan garpu yang ada di piring Ravendra, kemudian mengisinya dengan nasi dan lauk.
"Hak.., kak Ravend buka bibirnya donk..." Alexa meminta Ravendra untuk membuka mulutnya. Sendok yang sudah berisi nasi dan lauk itu sudah berada tepat di depan mulut laki-laki itu. Ravendra mengalihkan pandangan dari papanya menuju ke arah Alexa, kemudian dengan mata berbinar langsung membuka mulutnya dengan cepat. Sendok berisi nasi itu dengan sukses masuk ke mulut laki-laki itu, dan pperlahan Ravendra langsung mengunyah makanan tersebut.
Dari depan, Tuan Abraham mengulum senyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan oleh putranya Ravendra. Laki-laki paruh baya itu, perlahan ikut menikmati makanannya sendiri.
"Alexa.., jangan lupa pikir juga dirimu! Sepertinya perutmu juga minta untuk segera diisi..' terdengar suara Tuan Abraham mengingatkan Alexa. Mendengar perkataan itu, Ravendra langsung menyendok nasi dan lauk kemudian tidak lama, Ravendra melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Alexa. Laki-laki itu juga menyuapi Alexa, jadilah dua anak manusia itu saling menyuapi di depan Tuan Abraham.
Beberapa saat kemudian..
"Alexa.., aku dengar kemarin kamu turut berada di Barn Castle ya. Aku mendapatkan laporan dari orang-orangku." tiba-tiba Tuan Abraham menyinggung keberadaan Alexa di Barn Castle. Alexa mengarahkan tatapan matanya ke arah papa mertuanya itu.
"Iya pa.., Alexa berada disana bersama dengan kak Ravend.. Bukan kak Ravend yang mengajak Alexa, tetapi Alexa sendiri yang memaksa untuk ikut serta." dengan jujur, Alexa mengakui apa yang dilakukan kemarin.
__ADS_1
Tuan Abraham tersenyum, dan laki-laki paruh baya itu terlihat berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan menantunya itu.
"Papa juga menemukan jika akhirnya Tami adik Robin tewas tertembak peluru perak. Papa sedang mencari pelaku pembunuhan itu.." tiba-tiba kembali Tuan Abraham membuat pernyataan yang mengejutkan Alexa. Perempuan itu ingat, jika dialah yang telah membunuh Tami, karena perempuan itu memiliki niat yang tidak baik pada dirinya. Sehingga untuk menyelamatkan dirinya, akhirnya dengan menembakkan peluru perak, dapat membebaskan dirinya dari kungkungan perempuan itu.
"Akhirnya Tami terbunuh pa..?? Alexa lah pelakunya pa, dan itu Alexa lakukan karena terpaksa. Tiba-tiba Tami datang menyergap Alexa, dan akan membunuh Alexa juga. Untuk membela diri, dan kebetulan sama kak Johan.., Alexa dibekali dengan senjata api berpeluru perak. Merasa keamanan dan keselamatan Alexa terancam, akhirnya Alexa memberanikan diri untuk menarik pelatuk senjata api tersebut pa.." tidak diduga, dengan polosnya Alexa menanggapi perkataan Tuan Abraham.
"Jadi.. papa tidak perlu bersusah payah untuk mencari siapa pembunuh Tami. Dan.. jika memang dalam kondisi itu, ALexa tetap divonis dan dinyatakan bersalah, Alexa siap untuk mempertanggung jawabkan semuanya pa.." ALexa menambahkan,
"Tidak ada yang bertanggung jawab honey.. Tidak layak dirimu dibandingkan dengan perempuan mosnter itu, jika memang Tami terbunuh, perempuan itu mati karena ulah dirinya sendiri. tidak ada keterkaitannya denganmu.." mendengar perkataan yang diucapkan istrinya, dengan tegas Ravendra membela istrinya.
Mendengar pernyataan jujur yang disampaikan ALexa, Tuan Abraham hanya tersenyum getir. Bagaimanapun karena gadis di depannya itu adalah putri menantunya, maka laki-laki paruh baya itu berniat untuk memperjuangkan dalam pengadilan manusia vampire.
********
Selepas makan pagi dengan Alexa dan Ravendra, Tuan Abraham menemui Johan di balkon depan kamarnya. Laki-laki paruh baya itu perlu untuk mengajak bicara Johan, karena laki-laki muda itu memiliki akal yang sangat pintar.
"Siap Tuan Besar.., apakah ada yang Johan perlu selesaikan saat ini juga.." di depan Tuan Abraham,. Johan langsung menyampaikan hormat.
__ADS_1
"Duduklah dulu Johan.., kita memang harus bicara." Tuan Abraham meminta Johan untuk segera menduduki kursi. Tanpa berpikir panjang, Johan langsung menuruti ucapa laki-laki paruh baya itu.
"Johan... pikirkan cara untuk membebaskan putri menantuku dari pengadilan manusia vampire. Hancur dan musnahkan semua rekaman CCTV, hilangkan jejak yang dapat memberi tahu jika putri menantuku yang sudah membunuh Tami adiknya RObin." Johan terkejut mendengar perintah dari Tuan Abraham.
"Sebentar.., sebentar Tuan Besar.. Putri menantu.., siapakah perempuan yang sudah beruntung mendapatkan doa restu dari tuan besar untuk bisa bersama dengan tuan muda. Tetapi sepertinya, itu semua tidak mungkin tuan besar..., karena tuan muda Ravendra sudah.. sudah.." Johan tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
Tuan Besar Abraham tersenyum dan geleng-geleng kepala, melihat kegugupan yang ditunjukkan Johan. Anak muda itu memang menjadi asisten pribadi bagi putra laki-lakinya, tetapi Johan juga tidak akan pernah bisa untuk berkhianat kepadanya. Hubungan kedekatan mereka berdua, sudah terbangun sejak keluarga kakek Johan, yang menurun ke orang tua Johan, dan sampai saat ini pengabdian dilanjutkan oleh Johan pada keluarganya.
"Apakah kamu juga berpikiran picik seperti putraku Ravendra .. Johan? Alexa itu putri menantuku bukan.., aku yakin kamu lebih tahu hal ini lebih banyak. Jangan mencoba untuk mengelabuiku.." Tuan Abraham dengan kesal menjawab pertanyaan Johan.
Johan terkejut, anak laki-laki itu betul-betul tidak tahu jika Tuan Abraham sudah mengetahui kabar menikahnya Ravendra dan Alexa. meskipun tahu, juga tidak menduga akan membuat perlindungan yang terencana, untuk menyelamatkan putri menantunya.
"Kamu mendengar perkataanku tidak..?" tiba-tiba Tuan Abraham mempertegas perkataannya.
"Iya Tuan Besar.., tidak perlu tuan besar merisaukan akan hal tersebut. Sebenarnya Johan juga tahu, jika nona muda Alexa yang sudah melakukan penembakan pada Miss Tami. Karena Johan dapat mengenali dari peluru yang digunakan nona muda, dan peluru itu Johan sendiri yang menyiapkannya. Begitu mengenali peluru itu, Johan sudah mendahului bertindak tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu, menghancurkan bukti-bukti keterlibatan nona muda dalam insiden tersebut Tuan Besar." dengan cepat, Johan bercerita pada tuan Abraham,
Laki-laki paruh baya itu tersenyum, dan menganggukkan kepala tanda jika setuju dengan perbuatan yang dilakukan Johan.
__ADS_1
************