
Mata Alexa berbinar melihat darah segar yang dibawa oleh Robert. Dalam keadaan seperti itu, Alexa tidak memiliki waktu dari mana laki-laki itu mendapatkan darah segar itu. Yang hanya ada dalam pikiran perempuan muda itu adalah bagaimana agar Ravendra tetap dalam kondisi terbaiknya. Perlahan, Robert menyerahkan gelas ke tangan Alexa, dan gadis itu segera menerimanya dengan senang hati.
"Darah... bau segar darah.. Tunggu.. siapa yang menyuruhmu untuk menerima gelas berisi darah itu.." tiba-tiba tidak diduga, laki-laki bertopeng itu sudah berada di belakang Robert.
Merasa apa yang dilakukannya diketahui oleh laki-laki itu, Robert segera bergeser ke belakang Alexa. Dengan sigap, dengan menggunakan tabung injeksi, ALexa menyedot darah segar dalam gelas tersebut kemudian memindahkan ke tabung injeksi yang ada di tangannya. ketika laki-laki bertopeng itu sedang menghakimi Robert, dengan cepat Alexa memasukkan harum injeksi ke mulut Ravendra, kemudian menyemprotkan darah ke mulut laki-laki muda itu.
"Dukk... siapa yang memberimu ijin. Dasar perempuan ja**lang.." tiba-tiba kaki laki-laki bertopeng itu sedang menendang gelas yang ada di salah satu tangan Alexa. Untungnya isi dalam gelas itu sudah berpindah ke tabung injeksi. Dengan senyum smirk, Alexa menatap dengan berani pada laki-laki bertopeng itu.
"Prang.." gelas yang ada di tangan ALexa pecah dengan pecahan kaca berhamburan.
"Di mana darah segar itu perempuan ja**lang, berikan padaku.." seperti kesetanan, laki-laki bertopeng itu menanyakan keberadaan darah segar.
Tanpa sepengetahuan laki-laki bertopeng itu, dengan sigap Alexa menyuntikkan injeksi ke mulut Johan. Dengan cepat, dua tabung injeksi berisi darah segar merasa habis. Melihat kedua tangan Alexa yang terus bergerak, laki-laki bertopeng itu menjadi kehilangan kesabaran,
"Puak... dukk..." sebuah tendangan mengarah ke punggung Alexa. dan gadis itu meringis kesakitan. Namun sedikitpun tidak ada tangisan yang keluar dari mata gadis muda itu. Alexa malah menatap tajam laki-laki bertopeng itu sambil menunjukkan senyuman melecehkan.
"Kamu menghinaku Alexa.. apakah kamu sudah bosan hidup. Siapa yang menyuruhmu memberikan darah segar itu pada Ravendra dan Johan. Sadarlah perempuan ja**lang, kedua laki-laki itu tidak bakalan bisa hidup lagi. Darah dalam tubuhnya sudah mengering, sudah tersedot oleh papa perak.. ha.. ha.. ha.." dengan tertawa terbahak-bahak, laki-laki bertopeng itu berbicara dengan pongahnya pada Alexa.
__ADS_1
Robert yang berada di belakang Alexa merasa trenyuh melihat kondisi yang dialami oleh perempuan muda itu. Darah segar masih menetes di sudut bibirnya... dan sekuat tenaga gadis itu mencoba untuk menghentikannya, karena laki-laki bertopeng itu menatapnya dengan penuh minat.
"Bukan kamu yang bisa menentukan hidup mati seseorang laki-laki pecundang. Hanya seorang pecundang yang berani menyembunyikan wajahnya pada seorang perempuan. Dirimu hidup dalam kepura-puraan, tidak akan pernah ada kebahagiaan yang menghampirimu. Ingat itu.." dengan senyum mengejek dan melecehkan, Alexa memprovokasi laki-laki itu.
"Berani kamu bicara seperti itu denganku.. apakah kamu mau menerima kematianmu hari ini. Kamu bisa menyusul suamimu ke alam kubur.. " laki-laki itu berbicara dengan sinis, dan tangannya kembali terayun untuk memberikan pukulan pada Alexa, Tetapi..
"Klek... simpan kembali tangan kotormu pecundang. Berani-beraninya kamu menyakiti istriku yang sangat aku sayangi..." tidak diduga terdengar bunyi tulang yang patah. Tiba-tiba saja, dengan gagahnya Ravendra yang terakhir kali masih tergeletak lemas di atas lantai, dengan hanya kulit dan tulang saja yang yang pada tubuhnya. Kali ini dengan gagahnya laki-laki itu sudah kembali pada bentuk tubuh aslinya.
Alexa menutup mulutnya, gadis itu memandang wajah dan tubuh suaminya dengan tidak percaya. Tubuh yang semula hanya berbentuk tulang dan kulit, kali ini dengan cepat sudah berubah menjadi manusia kembali. Darah segar yang sudah diinjeksikan ke tubuh suaminya, dengan cepat menyebar dan merubah ke bentuk asli dari laki-laki itu.
"Ravendra.. hentikan.." laki-laki bertopeng itu berteriak minta Ravendra menghentikan apa yang dilakukannya.
"Berhenti.. apakah kamu sadar dengan konsekuensi dari kata-katamu. Kamu sudah berani memberikan tamparan pada istriku, berani menendang punggungnya di depanku. Apakah perbuatanmu itu masih layak untuk diberikan maaf dan ampunan, jawab.." dengan berteriak marah, Ravendra menanggapi kata-kata laki-laki bertopeng itu.
Tiba-tiba di belakang Robert, Johan yang semula juga terkulai lemas tidak berdaya, kali ini sudah kembali berubah ke tubuh aslinya. Dengan senyum smirk di bibirnya, laki-laki itu berjalan ke depan dan menarik punggung laki-laki bertopeng itu.
"Kakak .. apakah kita perlu membuka topeng laki-laki ini kakak.. Tetapi sepertinya tanpa perlu untuk membukanya, kita sudah mengenali siapa laki-laki pecundang ini.." tiba-tiba Johan berbicara pada Ravendra dengan melecehkan laki-laki bertopeng itu,
__ADS_1
"Tutup mulut kalian berdua.. kalianlah yang menyebabkan nasibku menjadi seperti ini.. Lepaskan tubuhku.." laki-laki bertopeng itu berteriak minta dilepaskan.
"Lepaskah.. mimpi kamu. Puakk..." genggaman tangan Ravendra ,menghantam rahang laki-laki bertopeng itu,
Wajah laki-laki bertopeng itu sampai menghadap ke samping, dan ALexa menutup wajahnya tidak tega melihat kekerasan di depan matanya. Melihat istrinya tidak tahan dengan menyaksikan secara langsung kekerasan di depan matanya, dengan cepat Ravendra mendekap perempuan muda itu di dadanya,
"Urus dan hakimi saja laki-laki pecundang itu Johan. Jika perlu.. musnahkan jangan sampai dia bisa hidup kembali. Kehidupannya di dunia ini hanya menjadi penyebab kesengsaraan banyak orang, sama sekali tidak ada untungnya laki-laki ini tetap untuk dipertahankan hidupnya.." Ravendra memberikan perintah pada Johan,
Laki-laki itu membopong Alexa menggunakan kedua tangannya, kemudian membawa pergi gadis itu, Merasa ketakutan Robert merampas ponsel laki-laki bertopeng itu, kemudian mengikuti Ravendra dan Alexa meninggalkan tempat itu. Baru berjalan beberapa langkah, terlihat Thomas sedang menggandeng Raveena yang sedang menggendong Abhimana. Melihat hal itu, Ravendra terkejut kemudian menurunkan istrinya.
"Siapa bayi yang ada dalam gendongan Veena honey.. apakah itu ABhimana putra kita..?" dengan berdebar, Ravendra bertanya pada Alexa.
"Iya kak.. maafkan Lexa.. Tidak ada pilihan lain selain membawa Abhimana untuk ikut mencari kak Ravend..:" ucap Alexa pelan. Melihat wajah gadis muda itu yang tidak berdaya, ravendra memiringkan kepalanya ke bawah. Di depan Thomas dan Raveena, laki-laki itu tanpa jengah sedikitpun menyambar bibir ALexa, dan memberikan ciuman dalam ke bibir gadis itu,
Alexa mendorong dada Ravendra, kemudian mendatangi Raveena dan mengambil Abhimana dari gendongan gadis muda itu. Ravendra segera menggantikan Alexa menggendong putra laki-lakinya yang sudah beberapa waktu ditinggalkannya.
**********
__ADS_1