Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Evakuasi


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Ravendra segera memerintahkan pada Robert untuk mengirimkan helikopter untuk menjemput mereka di tempat itu. Namun belum sampai.. Robert menghubungi anak buahnya, tiba-tiba terdengar suara ribut di hanggar. Beberapa pengawal Robert yang masih berjaga, tampak tergesa melaporkan apa yang mereka lihat pada majikan mereka.


"Tuan Robert.. perintah apa yang harus kami laksanakan. Di hanggar ada dua helikopter yang mendarat, kami belum berani untuk melakukan tindakan pada mereka. Tetapi beberapa pengawal mengawasi mereka dengan senjata lengkap di tangan dan tubuh mereka.." pengawal itu melaporkan apa yang mereka lihat di hanggar.


"Tangkap salah satu dari mereka.. bawa kesini. Kita akan menginterograsinya saat ini juga.." dengan tegas, Ravendra menjawab pertanyaan yang diajukan pengawal Robert.


Pengawal itu terdiam, tidak segera pergi dari tempat itu karena majikannya Tuan Robert belum menjawab. Tetapi melihat tuan muda Ravendra yang segera membalik badannya..


"Laksanakan perintah dari tuan muda Ravendra. Kita belum tahu siapa mereka yang datang, apakah dari pihak lawan atau dari pihak kawan. Berhati-hatilah.."Robert segera menegaskan perintah Ravendra pada anak buahnya. Melihat hal tersebut, orang-orang itu segera membalikkan badan untuk melaksanakan perintah itu,


Ravendra membawa Alexa dengan menggendong Abhimana di sebuah tempat terbuka, tetapi pemandangan indah terlihat jelas dari tempat itu. Rupanya laki-laki itu ingin menghilangkan trauma pada istri dan putranya atas kejadian yang baru saja terjadi. Mendapatkan cobaan, tatkala mereka sedang bahagia-bahagianya, ternyata jauh lebih menyakitkan. Apalagi mereka merasa tidak menjadi penyebab atas timbulnya masalah itu.


"Honey.. apa rencanamu sekarang. Apakah kita akan sementara waktu berada di Jerman, ataukah langsung kembali ke Indonesia. Atau mungkin honey punya rencana lain.." dengan suara lembut, Ravendra tiba-tiba bertanya pada Alexa. Gadis itu mengambil Abhimana dari tangan suaminya, kemudian mengangkatnya.


"Biar aku yang menggendong Abhimana honey.. nanti kamu kelelahan.." Ravendra merasa keberatan untuk melepaskan putranya dari tangannya.


"Abhimana kehausan kak.. lihatlah. Sejak tadi, Lexa tidak sempat untuk memberinya ASI. Kak Ravend tahu sendiri bukan bagaimana keadaannya.." Alexa tetap mengambil putranya kemudian memindahkan ke pangkuannya. Tanpa melihat tatapan protes dari suaminya, Alexa memberikan ASI pada putranya, sambil sesekali mengusap rambut di dahi bayi kecil itu.


Beberapa saat Alexa merasa jika suaminya terus menatapnya hampir tanpa berkedip., Merasa tidak melakukan sebuah kesalahan, Alexa mengabaikan tatapan suaminya itu. Tetapi lama kelamaan, Ravendra semakin terlihat mengendalikan nafasnya..

__ADS_1


"Kak Ravend.. what happend, ada yang salah..?" dengan tidak merasa bersalah, Alexa bertanya pada suaminya.


"Abhimana membuatku jealous honey.. Bisa tidak ke depan, honey memberinya ASI pada putra kita, menggunakan botol saja. Tidak langsung seperti itu.. pikiranku jadi kemana-mana.. Sudah tahu bukan, berapa lama honey tidak memenuhi keinginanku.." tiba-tiba perkataan Ravendra menjadi perkataan mesum. Alexa melihat ke wajah suaminya, mencoba memastikan jika suaminya tidak dalam keadaan oleng.


"Kakak sehat.. tidak dalam keadaan sedang sakit bukan..?" masih dengan tatapan tidak percaya, Alexa mencoba memastikan perkataan yang diucapkan oleh suaminya.


"Mmmm... bagaimana menurutmu honey.. Aku ini laki-laki normal honey.. bisa menahan jika tidak sedang melihatnya. Tetapi dengan di depanku, honey memamerkan mainanku sedang dihisap oleh Abhimana, apakah honey tidak membayangkan bagaimana jealous dan hancurnya perasaanku.." tetap tidak mau mengalah dengan putranya, Ravendra terus berbicara sekitar rasa jealousnya pada Abhimana.


Alexa terdiam, dan menepuk jidatnya. Perempuan muda itu seperti merasa kehilangan akal, bagaimana akan menghadapi suaminya, yang tiba-tiba berubah menjadi seperti anak kecil. Bukannya dia tidak memahami apa yang diinginkan oleh suaminya, namun keadaan yang memaksanya berbuat demikian,


*********


"Dimana putri kita Alexa.. dan cucuku ABhimana. Kenapa aku tidak melihatnya berada di tempat ini..?" perempuan itu setelah menyentakkan tubuh Thomas, segera mengedarkan pandanganya ke sekeliling tempat itu. Namun..sepertinya perempuan paruh baya itu belum menemukan apa yang sedang dia cari.


"Aman sayang.. apakah kita pernah bisa memiliki waktu khusus bersama lexa, jika Ravendra ada di sekitarnya. Bisa-bisa laki-laki itu sudah menyekap kita agar tidak mengganggu kemesraan mereka.." Thoman menjawab seadanya tanpa ada yang ditutupi oleh laki-laki itu.


Nyonya Sarah tersenyum, dan mengiyakan pemikiran suaminya. Tetapi untuk memastikan  keadaan putri dan cucunya, perempuan itu harus segera melihat mereka.


"Mama mengerti pap.. tapi mama ingin memastikan sendiri jika Alexa dan Abhimana baik-baik saja. Antarkan mama ke sana, mama ingin bertemu dan melihat mereka berdua.." Nyonya Sarah memaksa Thomas untuk mengantarkannya mencari Alexa dan Abhimana.

__ADS_1


Dengan sangat keberatan, akhirnya Thomas bersedia mengantarkan istrinya untuk datang ke tempat Ravendra membawa putri dan cucu mereka. Laki-laki itu juga mengerti bagaimana perasaan Ravendra yang berpisah sementara waktu dengan istri dan putrinya, sehingga mereka membutuhkan waktu untuk sendiri. Namun.. laki-laki itu juga tidak mungkin akan bisa menolak ajakan dari istrinya, bisa alamat akan terjadi perang dunia.


"Mama Sarah.. mama juga sampai disini..?" tiba-tiba baru saja mereka berjalan beberapa langkah terdengar suara Raveena memanggil Nyonya Sarah. Terlihat Raveena yang tangannya digandeng Johan, berjalan ke arah Thomas dan Sarah.


"Kamu juga sudah berada disini Raveena.. jadi kamu mengetahui semuanya.." Nyonya Sarah terkejut melihat keberadaan gadis itu. Perempuan paruh baya itu segera merentangkan kedua tangannya, dan Raveena langsung berlari ke pelukan perempuan paruh baya itu.


"Veena sangat khawatir dengan keadaan kak Johan. Untungnya Veena banyak punya koneksi di negara ini, sehingga bisa mendeteksi keberadaan tempat penyekapan kak Johan dan kak Ravendr. Tetapi ternyata masih lebih siap kak Lexa. mam.." Raveena menceritakan keberadaannya di tempat ini.


Johan hanya tersenyum melihat mereka, kemudian berbicara dengan Thomas mengenai kelanjutan pengevakuasian laki-laki bertopeng.


"Sudah dibawa pengawalku dengan helikopter yang tadi mengantarkan mamanya Alexa kesini. Laki-laki itu yang aku yakin Robin orangnya, langsung dibawa ke Yunani. Ujar Ravendra.. agar mendapatkan hukuman dari Rahib.." Thomas menjelaskan proses pengiriman laki-laki bertopeng.


"Iya Tuan.. kak Ravendra juga yakin jika itu adalah Robin. Laki-laki itu penuh dengan ketamakan dan keserakahan, tidak pernah puas hanya dengan apa yang sudah dimilikinya saat ini. Selalu merasa iri dan merasa bersaing dengan kak Ravendra.." Johan menanggapi.


"Okay.. by the way.. ada dimana kedua kakakmu berada. Aku sudah berputar-putar mencari mereka sejak tadi, tapi belum menemukannya. Mama Alexa ingin bertemu dengan cucunya.." tiba-tiba Thomas menanyakan keberadaan putri dan menantunya.


"Ada di sebelah sana Tuan.. Untuk itu, maafkan ya, Johan dan Raveena tidak mau mengantarkan," ujar Johan sambil tersenyum kecut. Laki-laki muda itu sangat paham dengan tujuan Ravendra membawa istri dan putranya tempat itu. Mereka ingin menyendiri sambil menunggu helikopter yang akan mengevakuasi mereka pergi datang.


*********

__ADS_1


__ADS_2