Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Voting


__ADS_3

Barn Castle


Sampai menjelang dini hari, pembahasan peraturan di ruang pertemuan masih berlangsung sengit. Beberapa manusia vampire menyetujui adanya diskriminasi pembedaan dan penggolongan vampire, namun hampir sebagian besar menolak usulan itu. Ravendra termasuk golongan yang menolak adanya pembedaan penggolongan itu.


"Apakah kita mau menghabiskan waktu sampai berhari-hari hanya untuk berdebat kusir seperti ini. Gunakan voting untuk menyetujui pasal demi pasal aturan kita." suara Ravendra menggelegar memenuhi ruangan. Laki-laki itu terlihat sudah jenuh dan ingin segera meninggalkan ruangan itu.


Tetapi Tuan besar Abraham tidak mengijinkannya, laki-laki itu tetap menahan agar putranya tidak meninggalkan tempat pertemuan. Suara tepuk tangan menyetujui usulan Ravendra terdengar membahana.


"Tok.. tok.. tok.." suara palu pimpin sidang diketok, memberi isyarat agar peserta untuk diam sejenak.


Seketika suasana menjadi hening, semua orang memandang ke bagian depan di stage ruang pertemuan tersebut.


"Baiklah usulan tuan muda Ravendra kita setujui. Jadi beberapa hal penting yang membutuhkan voting adalah 1. tidak ada diskriminasi penggolongan manusia vampire; 2. dilarang menghisap darah langsung dari objek sasaran manusia. Tolong beberapa membantu untuk mengedarkan kertas ke seluruh peserta." pemimpin sidang segera mengarahkan instruksi.


Beberapa pengawal dengan gesit terbang ke atas untuk mengedarkan kertas pada semua yang hadir dalam ruangan tersebut. Dengan tubuh terlihat lelah, Ravendra menyadarkan punggungnya ke kursi. Tuan Abraham melirik putranya sambil tersenyum. Sangat susah untuk mengajak Ravendra datang ke pertemuan itu. Untungnya ada Alexa yang turut mendesak laki-laki itu untuk mendatangi pertemuan.


"Papa...,. Ravendra mau pulang duluan. Sudah tidak ada hal penting dalam pertempuran ini. Kasihan Alexa, dia sendirian di rumah." setelah mengisi isian voting, Alexa minta ijin pada ayahndanya.


Laki-laki paruh baya yang masih terlihat ganteng itu tersenyum. Setelah berpikir sejenak dan mengingat menantunya di kastil, akhirnya Tuan Abraham memberi ijin pada laki-laki itu.


"Pergilah.., papa yang akan menyelesaikan pertemuan ini." ucap laki-laki itu.


Mendengar perkataan ijin dari ayahndanya, tanpa menunggu lagi, Ravendra langsung terbang menuju pintu keluar. Beberapa pengawal mencolok menghentikan laki-laki itu, tetapi tidak mau menghabiskan waktu, tendangan Ravendra menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya.


"Minggir.., minggir.. kita jangan berurusan dengan tuan muda Ravendra." terdengar teriakan dari salah satu pengawal yang mengenal Ravendra. Akhirnya dengan sendirinya tanpa paksaan, orang-orang itu menyingkir memberi jalan pada Ravendra.

__ADS_1


Di halaman parkir, melihat tuan mudanya berjalan keluar, pengawal yang sudah diatur oleh Johan berjalan mendekati laki-laki itu. Satu orang berlari untuk mempersiapkan mobil. Tetapi baru saja Ravendra akan naik ke dalam mobil tiba-tiba ada tendangan menghantam punggung laki-laki itu.


"Siapa kamu berani mencari masalah padaku?" dengan tatapan sengit, mata merah Ravendra menatap dengan marah.


"Tidak perlu tahu siapa aku, kamulah tertuduh pengacau dalam pertemuan di dalam. Sedikitpun tidak punya daya juang sebagai manusia vampire. Usulanmu sejak tadi hanya menguntungkan manusia murni." laki-laki itu berteriak.


"Bukan urusanmu dan aku sedang malas untuk berurusan denganmu. Menyingkirlah..!" dengan satu kibasan tangan dibarengi dengan ayunan kaki, Ravendra mengirim laki-laki itu terbang ke belakang.


Beberapa pengawal Ravendra bersiaga, mereka melompat mengejar manusia vampire itu. Tetapi Ravendra memberi isyarat pada mereka, untuk membiarkan orang itu. Para pengawal itu segera kembali ke posisinya.


Tidak lama kemudian mobil yang membawa Ravendra sudah membelah kesunyian malam.


******


Di dalam kamar, Alexa masih terbayang kejadian yang dialaminya sejak sore kemarin. Tatapan kemarahan dan reaksi yang ditunjukkan Johan kepadanya, telah melukai hatinya. Tanpa mau berbicara lagi, masuk ke dalam kamar menjadi satu-satunya obat untuk menenangkan hatinya.


Alexa betul-betul tidak habis pikir, sampai kepedulian kepada makhluk lain saja seperti hilang dari sanubari manusia vampire yang dia kenal dekat. Hanya saling menjaga untuk tidak saling menyakitkan saja, yang menjadi pedoman mereka. Tetapi niat untuk berbagi pertolongan pada manusia lain, seperti tidak terbersit dalam pikiran mereka.


"Dengan atap tanpa ijin dari orang-orang itu, aku harus tetap menepati janjiku pada perekonomian tua itu. Aku sudah berjanji untuk mendatanginya kapan-kapan," Alexa tetap bertekad untuk datang berkunjung ke tempat perempuan yang ditemuinya sore tadi.


"Tok.., tok.., tok.." terdengar pintu kamar Alexa diketuk dari luar.


Merasa masih jengkel dengan sikap Johan, perempuan itu tidak bergeming dari tempat duduknya. Semenjak keluar dari mandi berendam, Alexa hanya terduduk diam di kursinya.


"Tok.., tok.., tok.." kembali suara ketukan pintu terdengar. Merasa jengah, akhirnya Alexa berdiri dan mengintip dari balik pintu siapa yang datang. Melihat maid yang membawa makanan di balik pintu, tiba-tiba perut Alexa berbunyi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Alexa langsung membuka pintu kamar. Maid yang membawa kereta makanan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Nona muda.., makanlah dulu. Sejak kemarin sore nona muda belum makan sedikitpun. Tuan Johan sangat menghawatirkan kesehatan nona muda." maid itu menyampaikan maksud kedatangannya.


Sebenarnya perempuan itu masih jengkel dengan Johan, tetapi karena perutnya tidak bisa diajak bekerja sama, Alexa meminta maid membawanya ke dalam.


"Letakkan disitu, dan tinggalkan aku kembali. Aku akan istirahat, jangan kamu ganggu aku." sebelum mulai menikmatinya makanan itu, Alexa berpesan pada maid tersebut.


"Baik nona muda.., ijin saya untuk meninggalkan kamar ini." dengan sikap hormat, maid melangkah keluar dari dalam kamar kemudian menutup pintu kamar secara perlahan.


"Masih punya hati juga ternyata laki-laki itu, aku pikir sudah musnah nuraninya." gumam Alexa. Tidak berpikir panjang, Alexa langsung menghampiri kereta makanan, kemudian mulai mengambil nasi dan lauk untuk mengisi perutnya.


Mungkin karena lapar atau karena hatinya tidak berkenan dengan sikap dan perlakuan Johan, Alexa makan dengan nikmat. Bahkan perempuan itu sampai menambah makanannya sampai dua kali.


"Bagaimana ya kabar kak Ravend.., seharian ini belum sempat berkirim kabar padaku." tiba-tiba Alexa teringat dengan suaminya.


Kesibukan mengurus perempuan tua kemarin sore, dan mendapatkan halangan tadi malam, menjadikan Alexa melupakan Ravendra. Kali ini ketika sedang sendiri, tiba-tiba perempuan itu mengingat kembali keberadaan suaminya.


"Apakah aku berinisiatif menanyakan kabar dengan mengirim pesan di WhatsApp ya? Tapi kalau pertengahan itu sedang membahas hal penting, pesanku akan mengganggunya." Alexa dilanda kebimbangan.


"Humph... atau aku menunggunya beberapa saat dulu ya. Siapa tahu sebentar lagi kak Ravend akan segera pulang." akhirnya Alexa memutuskan untuk menunggu Ravendra.


Perempuan itu kemudian mendorong kereta makan dan membawanya keluar di balik pintu. Maid yang ternyata masih menunggunya langsung mengambil alih kereta makan tersebut.


"Tidurlah.. waktu sebentar lagi sudah menjelang pagi. Tidak perlu menjagaku sampai seperti ini." melihat maid yang terkantuk-kantuk, Alexa memintanya untuk beristirahat.

__ADS_1


"Baik nona muda terima kasih." maid segera berjalan sambil membawa kereta makan menuju ke arah dapur.


*******


__ADS_2