
Sepeninggalan Ravendra dan Johan, Cathy membalikkan badan dan menatap wajah putranya dengan sinar mata tajam. Dalam tatapan mata perempuan tua itu, seperti terlintas tuduhan yang dialamatkan pada putranya itu, terkait dengan hilangnya Alexa dari hutan ini. Apalagi kepergian gadis itu, bertepatan denga kedatangannya untuk berkunjung ke rumah ini, seperti yang pernah dijanjikannya.
"Andrew.. kali ini mama tidak akan berpihak kepadamu. Apa yang kamu sembunyikan dari mama, dimana keberadaan gadis itu?" dengan tatapan marah, perempuan itu memegang krah baju putranya. Seumur hidup, baru kali ini perempuan itu berlaku kasar pada putra laki-lakinya itu.
"Mama lebih percaya pada orang luar, dari pada ke Andrew putra mama sendiri. Untuk kali ini Andrew tidak tahu apa-apa tentang kehilangan gadis itu, kenapa mama tidak bertanya pada Ketua komunitas kita di hutan ini. Mereka yang punya rencana untuk menculik gadis itu, dan menjadikannya sandera untuk menarik kedatangan Tuan Besar Abraham ke hutan ini. Kenapa malah mama saat ini menyalahkan Andrew." dengan berani, laki-laki muda itu menjelaskan pada Cathy. Laki-laki itu melepaskan tangan Cathy yang ada di lehernya, kemudian berjalan meninggalkan perempuan itu dan duduk di atas kursi.
"Dari dulu kalian tidak pernah berhenti menyalahkan Tuan Besar Abraham, dan lebih mempercayai omongan Tuan Diego. Apakah kalian melihat sendiri kejadian itu, dan apakah kalian juga memiliki bukti untuk menjadikan Tuan Besar sebagai penanggung jawab dari kejadian ratusan tahun yang lalu itu. Pikir dulu sebelum bertindak, cari kebenarannya dulu..!" melihat reaksi yang ditunjukkan putranya, menjadikan Cathy bertambah marah,
Andrew terhenyak, laki-laki itu kaget dengan reaksi yang ditunjukkan ibundanya. Setelah dalam waktu yang sangat lama, mamanya lebih banyak diam dan jarang mengajaknya bicara, kali ini perempuan itu berbicara banyak dan terlihat terlalu bersemangat. Tidak diduga, Cathy masuk ke dalam kamar, dan keluar sudah mengenakan jaket tebal. Andrew berdiri dan mengejar mamanya keluar..
"Mama.. tunggu dulu. Mama mau pergi kemana?" Andrew mengejar, dan menghentikan mamanya. Tangan Andrew menahan tangan Cathy. Perempuan itu menatapnya masih dengan tatapan sengit.
"Aku mau mencari gadis itu. Terlalu berbahaya hutan ini untukknya, aku khawatir Alexa tidak akan mampu bertahan. Kamu paham kan, kita manusia vampire saja tidak akan mudah untuk melepaskan diri jika masuk di pusaran hutan. Apalagi kita.., apakah ada yang berani untuk masuk ke goa batu itu." perempuan itu membuat penjelasan. Andrew baru menyadari, ternyata mamanya memiliki tekad yang keras. Laki-laki itu kaget, dan baru tahu bagaimana mamanya yang sebenarnya,
Tanpa kata, Andrew melepaskan cekalan tangannya di lengan Cathy, dan perempuan itu kemudian berjalan meninggalkannya. Di belakangnya, Andrew merasa tidak bisa membiarkan mamanya pergi sendiri. Laki-laki itu mengikuti mamanya dari belakang.
__ADS_1
Beberapa saat, Andrew terbang mengikuti Cathy di belakang berputar-putar di sekitar hutan tempat mereka selama ini tinggal. Namun mereka belum menemukan apa yang mereka cari. Tiba-tiba Cathy berhenti, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di belakangnya, Andrew ikut berhenti dan berdiri di samping mamanya,
"Mau kemana lagi mama kita akan mencari gadis itu?" Andrew berusaha mencari tahu. Cathy melihat ke arah Andrew yang sudah berada di sampingnya.
"Satu-satunya tempat yang belum kita datangi adalah pusaran pepohonan di tengah hutan. Tetapi kita harus menyiapkan diri juga untuk tersesat di tempat itu. Kamu pulanglah ANdrew.., jangan ikuti mama. Harus ada penerus keluarga kita, mama harap kamulah orangnya." Cathy meminta putra laki-lakinya untuk kembali.
"No momm..., Andrew akan bersama dengan mama, kapanpun dan dimanapun. Hanya mama yang saat ini ada dan selalu berada di samping Andrew." tetapi laki-laki itu menolak perintah mamanya,
*******
"Papa.. kenapa orang-orang disini bahkan pemerintah tidak datang dan menelusuri tempat ini. Batu-batuan ini sangat indah papa, swarozki, intan, permata semua terlihat begitu banyak dan indah. Orang-orang akan menjadi kaya jika mereka bisa membawa batu-batuan ini keluar." dengan perasaan kagum, Alexa mengajak bicara Thomas tentang batu-batuan yang melimpah ruah di depannya itu. Mata gadis itu mengerjap, baru kali ini bisa melihat secara langsung batu-batuan indah yang menjadi incaran para wanita di dunia ini.
Mendengar ucapan yang dikatakan Alexa, Thomas hanya tersenyum. Laki-laki itu tidak tergesa-gesa untuk menanggapi perkataan itu.
"Kenapa papa tidak menanggapi perkataan Alexa." tiba-tiba Alexa menoleh dan bertanya pada papanya.
__ADS_1
"Apakah kamu pikir jika semudah ini orang-orang akan bisa masuk ke tengah hutan ini Lexa.. Kita juga belum tahu, apakah kita akan dapat keluar dari tempat ini dalam waktu yang cepat." laki-laki itu menghela nafas, kemudian menanggapi perkataan putrinya.
"Ada perjanjian dan kesepakatan tertulis dengan pihak pemerintah Lexa.. Mana tempat-tempat yang bisa didatangi oleh manusia, dan mana tempat yang hanya khusus untuk manusia vampire. Tempat yang kita datangi saat ini merupakan tempat yang sakral, dimana tidak setiap orang bisa datang dan pergi seenaknya." Thomas membuat penjelasan,
"Berarti Alexa sangat beruntung ya pa.., bisa masuk sampai ke dalam goa ini. Hanya saja kita belum tahu pa, kita akan bisa kembali pulang ke rumah atau tidak." Alexa baru tersadarkan, gadis itu menanggapi ucapan papanya.
"Tidak perlu kamu pikirkan Lexa.., kita lanjutkan dulu pencarian loker batu ini di sekitar tempat ini. Nanti setelah beberapa saat, kita akan istirahat sebentar baru nanti akan kita lanjutkan lagi." Thomas meminta Alexa untuk tidak terlalu berpikir tentang apa yang menjadi pertanyaannya itu.
Perlahan kedua orang itu kembali melakukan pencarian. Mata Alexa seperti dilenakan dan dimanjakan oleh keindahan batu-batu dengan warna warni dan sinarnya. Sebagai seorang perempuan, tidak dipungkiri gadis itu juga memiliki ketertarikan dengan benda-benda itu. Tetapi mengingat kembali kata-kata yang diucapkan oleh papanya, Alexa menepis kembali keinginannya itu. Gadis itu kembali fokus mengamati tempat itu, untuk berusaha menemukan loker batu dalam mimpinya itu.
Thomas menuju ke tempat yang lebih ada diatas, tiba-tiba mata laki-laki itu terfokus pada dinding bebatuan yang seperti memiliki garis di kedua sisinya. Thomas berjinjit mengangkat kedua kakinya ke atas, dan tangannya meraba dindung batu tersebut.
"Ada apa pa.., apakah ada yang aneh dari dinding batu tersebut?" tanya Alexa.
*********
__ADS_1