
Mendengar suara burung berkicau dan geemricik air, pramugari membuka matanya perlahan. Rasa perih masih terasa di luka-luka yang ada di tubuhnya. Perlahan perempuan muda itu mengangkat tubuhnya, kemudian mencoba untuk duduk. Tatapan matanya jauh ke depan, dan beberapa saat pramugari itu mengingat kejadian yang mereka alami tadi malam, Ketika matanya bergerak ke samping, terlihat pilot dan co-pilot yang masih tertidur di sampingnya.
"Siapa yang membawa kami kemari.., karena seingatku aku bersama mereka mengenakan parasut. Seharusnya kami akan menyangkut di dahan pohon atau di tempat lain, kenapa kami bisa berbaring dengan rapi di tempat ini. Siapakah yang sudah menyelamatkan kami..?" melihat keadaan dan posisinya saat ini, pramugari itu berpikir. Terlihat parasut yang menerbangkan mereka sudah terikat dengan rapi, dan digunakan sebagai alas tidur mereka.
Selain hal tersebut, mereka tidur bertiga dengan berdampingan, seperti memang sengaja dibawa dan ditempatkan di tempat tersebut. Merasa penasaran, dengan masih menahan pinggangnya yang sakit, pramugari mencoba untuk bangun, tetapi tidak membangunkan kedua teman kerjanya itu.
Beberapa saat perempuan muda itu berjalan, samar-samar tatapan matanya menuju ke arah air terjun yang tidak berada jauh di depannya. Mata perempuan muda itu terbelalak melihat bagaimana Tuan Muda Ravendra dan Nona Muda Alexa saling berpelukan di bawah air terjun, keduanya saling berciuman di bawah derasnya air.
"Aku harus segera menyingkir dari sini, akan menjadi masalah besar jika Tuan Muda tahu, jika aku melihat apa yang mereka lakukan di air terjun itu." pipi pramugari itu malu bersemburat merah, dan memiliki untuk pergi dari tempatnya berada saat ini. Langkah kakinya membawa perempuan muda itu kembali ke tempat pertama kali dia terbangun dari posisi tidurnya.
Sambil berjalan, pramugari itu sudah bisa membuat sebuah kesimpulan. Keberadaan mereka di tempat ini, bukan karena kebetulan. Tetapi Tuan Muda Ravendra yang terkenal arogan dan cool, yang telah menyelamatkan mereka, dan membawanya ke tempat tersebut, Tidak diduga, tatapan pramugari itu melihat kedua laki-laki yang bekerja sebagai pilot dan satu co-pilot sudah terbangun dari tidurnya. Perempuan muda itu segera datang menghampiri mereka.
"Salsa.., siapa yang menyelamatkan kita?" pilot bertanya pada pramugari itu, ketika melihat pramugari berjalan ke arah mereka. Melihat keadaan tubuh mereka, dan beberapa barang yang ada di sekitarnya, mereka sangsi jika mereka bisa menuju ke tempat itu secara alami.
"Sepertinya Tuan Muda Ravendra yang menyelamatkan kita. Tapi kita diam saja, karena Tuan muda baru berdua dengan nona muda. Kita biarkan mereka bermesraan dulu.., kita jangan mengganggunya.." pramugari itu segera duduk di samping kedua laki-laki itu,
__ADS_1
"Tidak pernah diduga. Tuan Muda Ravendra yang tidak pernah memberikan senyuman untuk kita, ternyata memiliki hati yang baik. Tanpa pamrih sudah memberikan pertolongan kepada kita bertiga.., dan menempatkan kita pada posisi seperti ini. Lihatlah.., tidak ada luka-luka yang berarti dalam tubuh kita saat ini." co-pilot mengomentari kedua temannya.
"Iya.., ternyata .. don.t judge a book by it.s cover... benar sekali terjadi. Aku akan selalu setia bekerja dan mengabdi pada Tuan Muda Ravendra.." pilot menyahuti co-pilot. Salsa sang pramugari tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka merasa tertipu dengan casing yang membalut tubuh Tuan Muda mereka, Ravendra.
"Ayo kita bersihkan dan kita tata tempat ini. Kita anggap saja, saat ini kita tidak sedang tersesat, tetapi kita sedang camping, healing.." terdengar suara Salsa mengajak mereka untuk membersihkan tempat itu.
Ketiga orang itu kemudian berdiri, dan membersihkan lokasi mereka berada. Yang mengagetkan mereka, ternyata trolly bag tempat mereka meletakkan semua perlengkapan, ikut berada di tempat itu.
********
Ketiga orang yang bertugas di private jet itu masih terlihat sibuk membersihkan tempat tersebut. Mereka tidak menyesali tragedi yang hampir merenggut nyawa mereka tadi malam, malah merasakan saat ini mereka sedang melakukan healing, di tengah hutan, Keceriaan mereka membersihkan tempat tesebut, merubah tempat istirahat itu seperti menjadi sebuah base camp mereka.
"Kalian semua sudah sadar dan bangun..?" tiba-tiba terdengar suara Alexa menyapa mereka bertiga. Serempak ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat Tuan Muda Ravendra dan Nona Muda Alexa berjalan ke arah mereka.
Beberapa ekor ikan segar yang sudah dibersihkan, tampak berada di kanan kiri tangan Ravendra, dan tangan Alexa membawa buah-buahan segar. Tanpa diminta, ketiga orang itu kemudian berdiri dan menghampiri pasangan suami istri itu, kemudian mengambil alih barang-barang yang ada di tangan mereka.
__ADS_1
"Salsa..., kita bisa membuat ikan bakar untuk mengisi perut kita, dan barusan kak Ravend juga mengambil beberapa buah-buahan dari hutan. Sepertinya cukup untuk mengganjal perut kita, sambil kita mencari bantuan untuk keluar dari dalam hutan ini." Alexa meminta Salsa untuk membuat ikan bakar.
"Baik Nona Muda.. terima kasih atas bantuan Tuan Muda dan Nona Muda yang sudah menyelamatkan kami bertiga." Salsa mewakili kedua rekannya, mengucapkan terima kasih pada Ravendra. Tetapi laki-laki itu diam, jangankan menjawab, tetapi Ravendra malah berjalan meninggalkan mereka sambil menggandeng tangan Alexa. Istri dari Ravendra menoleh ke arah mereka bertiga, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita harus segera melakukannya.., Ronald... kamu buat api ya. Dan Steven.., ambilkan daun yang lebar, untuk alas kita membakar ikan ini. Kita letakkan daun di atas kayu, baru kita letakkan ikan di atasnya, agar tidak begitu gosong." Salsa segera membuat sebuah pengaturan..
Ketiga orang itu segera melaksanakan apa yang sudah diatur oleh Salsa, dan tidak lama kemudian, bau harum ikan beredar di tempat itu. Dengan pisau kecil, Salsa membersihkan buah, kemudian memotong menjadi potongan-potongan kecil dan menempatkannya di atas sobekan daun.
"Steven.., ROnald.. kalian selesaikan acara bahan ikannya ya. Aku ingin menuju sungai untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Tidak sopan.., Tuan muda dan nona muda saja sudah bersih dan wangi.., kita bertiga masih dalam keadaan kotor seperti ini.." Salsa berdiri dan bersiap untuk berjalan menuju ke sungai. Belum jadi gadis itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba..
"Apakah kamu tidak takut Salsa.., sepertinya biar Ronald saja yang diam di tempat ini. Aku bisa menemanimu untuk menuju sungai..he.. he.." Steven memotong pembicaraan Salsa.
"Dasar piktor kamu.., pikiran kotor.." Salsa melempar batu kecil dan mengenai punggung laki-laki itu. Ronald tertawa ngakak melihat kejadian tersebut.
Tanpa bicara, Salsa segera berjalan meninggalkan dua laki-laki itu. Dengan hati-hati, gadis itu menyusuri pinggiran sungai dan mencari batu-batuan untuk pegangan agar bisa masuk ke dalam sungai. Setelah kakinya masuk, gadis itu segera melepaskan pakaiannya, kemudian merendamkan tubuh di dalam air tersebut,
__ADS_1
************