
Nyonya besar Nancy merasa lega setelah menghirup nafas panjang dan menghembuskannya keluar. Pandangan perempuan paruh baya itu seakan menembus mata dan hati Johan. Semua terdiam, mereka hanya mengamati keadaan mengharukan yang terjadi di ruang tengah itu. Perlahan.. Nancy menatap tajam mata Johan, kemudian beralih ke mata Raveena..
"Johan.. aku titipkan putriku untukmu nak.. Tidak ada kuasa sedikitpun aku sebagai Mommy dari Raveena untuk mengatur hidupnya, memilihkan laki-laki untuknya, ataupun melarangnya untuk meneruskan hubungannya denganmu. Jaga dan kasihi putriku Raveena .. Johan, berjanjilah." dengan isak tangis dan suara serak, akhirnya Nyonya besar Nancy memberikan ijin dan restu bagi Johan untuk mendapatkan Raveena. perempuan itu menyadari jika semua upaya yang selalu dia lakukan selama ini, ditujukan untuk kebahagiaan putra dan putrinya. melihat hanya dengan Johan, putrinya Raveena akan mendapatkan kebahagiaan, akhirnya Nyonya besar nancy mencoba untuk ikhlas.
"Mommy.. apakah Veena tidak salah dengar Mommy.." dengan rasa tidak percaya, Raveena memeluk Mommy nya sambil menyuarakan hatinya. Perlahan Nyonya besar Nancy menganggukkan kepalanya, dan semua yang ada di ruangan itu mengambil nafas lega. Tangisan kebahagian kembali hadir menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut.
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Nyonya besar nancy, Johan menjadi terkesiap. Laki-laki itu kembali mendekat pada perempuan paruh baya itu. Antara percaya dan tidak percaya masih menjadi keraguannya, namun laki-laki muda ini tidak mau menghabiskan waktu untuk berpikir, kemudian..
"Saya Johan,. berjanji akan memegang janji saya Nyonya besar.. Saya akan menjaga dan mengasihi Nona muda Raveena dengan seluruh hati saya.. Bahkan nyawa saya rela untuk menjadi taruhannya." Johan kembali bersimpuh di depan Nyonya besar Nancy. tetapi perempuan paruh baya itu dengan segera membangunkan Johan dari posisi bersimpuhnya.
Alexa tersenyum bahagia, air mata kebahagiaan menetes melewati sudut mata perempuan itu. Ravendra juga tersenyum, kemudian menyandarkan kepala istrinya di atas bahunya. Mereka kemudian berjalan menuju ke arah sofa di ruang tengah itu. Tampak satu keluarga sudah kembali utuh dan berkumpul kembali. Tuan Thomas tersenyum pada istrinya Nyonya Sarah, kemudian mereka saling menganggukkan kepala, kemudian ikut bergabung dengan kebahagiaan di atas sofa panjang itu.
"Ravend.., bantu papa. Segera urus pernikahan adikmu dengan Johan, jika selama ini Johan yang mengurus semua keperluanmu, bahkan juga bisnismu, Kali ini papa memintamu untuk menguruskan semuanya, sehingga ikatan resmi adikmu dan Johan segera terealisir." dengan suara tegas, tiba-tiba Tuan besar Abraham memerintah Ravendra.
"Siap pap.. akan Ravendra urus semuanya. bahkan besok pagi, pencatatan pernikahan mereka bisa dilakukan dengan segera. percayalah dengan kemampuan putra papa dan mommy ini.." ravendra langsung menyetujui permintaan yang diucapkan oleh papanya.
Laki-laki itu langsung mundur ke belakang, kemudian dengan menggunakan ponselnya segera membuat sebuah pengaturan. Alexa tersenyum melihat kesigapan suaminya Ravendra, laki-laki yang biasa dilayani oleh Johan, ternyata kali ini bisa diandalkan. hanya dalam waktu singkat, Ravendra membuat sebuah pengaturan, dan acara pencatatan pernikahan akan dilakukan besok pagi pada pukul 09.00 pagi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, untuk merayakan hari bahagia itu, Ravendra meliburkan mendadak semua perusahaannya yang ada di kota Batam.
__ADS_1
******
Keesokan Paginya
Tidak mau membuang waktu, akhirnya pengikatan janji Raveena dan Johan dilakukan secepatnya. Air mata kebahagiaan terus mengalir dari mata kedua pasangan itu. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan persyaratan, karena beberapa waktu yang lalu mereka sudah menyuruh pengawal untuk mencari dan mendapatkan persyaratan pernikahan antar negara itu.
Berdiri di altar pernikahan, Tuan besar Abraham dan Nyonya Besar Nancy di sebelah kiri Raveena. Sedangkan Nyonya Sarah dan Tuan Thomas berdiri di samping Johan, menggantikan posisi kedua orang tua Johan yang sudah meninggal lebih dulu. Acara pencatatan pernikahan dalam hukum pemerintahan dilakukan di roof top hotel tersebut, tanpa dihadiri oleh kolega. Hanya para pengawal dan CEO perusahaan Ravendra yang ada di kota Batam, yang hadir sebagai tamu undangan.
"Congratulation Veena..., Johan.. semoga kebahagiaan selalu menyertai kehidupan kalian berdua. Kakak selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua.." ALexa dengan tulus mengucapkan ucapan selamat pada kedua pengantin. Setelah acara pencatatan pernikahan selesai dilakukan, pasangan pengantin itu turun dan mendatangi para tamu undangan.
"Iya nona muda.. terima kasih." sahut Johan tersenyum malu pada Alexa.
Johan melihat ke arah istrinya Raveena, dan gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih kak Lexa.. Johan tidak akan melupakan jasa baik kak Lexa atas hubungan kami yang sudah legal," akhirnya Johan menyebut nama Alexa, dengan sebutan kakak.
"Ha.. ha.. ha.. akhirnya kamu yang terkenal dingin, keras, kali ini bisa berubah pula menjadi anak manis Johan.. By the way.. kebahagiaan hari ini dan selamanya akan selalu ada dalam kehidupan kalian.. Nikmatilah waktumu untuk bersenang-senang.." Alexa tertawa mendengar Johan memanggilnya kakak.
__ADS_1
Dari belakang ALexa, Ravendra merangkul istrinya kemudian membawa pergi perempuan muda itu dari depan pasangan pengantin. ALexa melakukan protes dan melihat dengan tatapan tidak suka dengan perlakuan suaminya.
"Sudah.. sudah.. honey.. kita masih memiliki banyak waktu untuk menggoda atau mengerjai pasangan pengantin itu. Lihatlah di belakang kita, sudah banyak yang antri untuk memberikan ucapan selamat pada Johan dan Raveena." Ravendra menunjuk ke arah belakang. ALexa mengikuti arah yang ditunjukkan suaminya, dan perempuan muda itu merasa malu karena telah membuat antrian panjang.
Ravendra mengajak istrinya duduk di round table dan menyiapkan makanan untuk dikonsumsi istrinya. Sup manten yang menyegarkan menjadi pilihan pertama Ravendra, untuk menghilangkan rasa mual pada istrinya.
"Enak kak supnya.. lexa mau lagi.." Alexa meminta lagi tambahan sup.
"Iya itu sup manten khas kota Klaten. Ternyata rasanya ringan dan menyegarkan." sahut Ravendra. laki-laki itu kemudian melambaikan tangannya memanggil waiters untuk membawakan beberapa mangkuk sup ke meja di depan mereka.
Tidak lama kemudian, waiter membawakan empat mangkuk kecil berisi sup manten sesuai pesanan Alexa. Dengan lahapnya, ALexa tidak terasa menghabiskan empat mangkuk sup tersebut. Ravendra melihati tingkah istrinya sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tiba-tiba Ravendra melihat keanehan pada wajah ALexa. Istrinya tampak meringis kesakitan, dan tangan kanannya memberikan usapan pada perut buncitnya.
"Honey.. are you okay..?" dengan cemas, ravendra bertanya pada Alexa, Namun perempuan muda itu tidak menjawab, hanya gelengan kepala mewakili semuanya,
"Apakah istriku sudah mengalami tanda-tanda untuk melahirkan.." Ravendra bermain dengan pikirannya sendiri. Tanpa bertanya apapun, dengan sigap ravendra mengangkat tubuh istrinya ALexa dan membawanya keluar dari areal pesta berlangsung. beberapa pengawal dengan sigap mengikuti langkah kedua pasangan suami istri itu.
"Siapkan mobil di lobby.." teriak Ravendra pada para pengawal ketika mereka sudah sampai di dalam lift.
__ADS_1
*******