
Alexa dengan lahap menikmati daging burung yang dibakar papanya. Meskipun, daging itu terasa hambar karena tidak ada bumbu, namun Alexa tanpa henti terus menguliti daging sampai di sela-sela tulangnya. Tuan Thomas tersenyum melihat begitu lahapnya Alexa makan, dan sesekali laki-laki itu memberikan minuman pada putrinya itu.
"Kamu sangat lapar Lexa.., papa suka melihatmu makan." tanya Thomas sambil tersenyum pada putrinya.
"Ga tahu pa.. tiba-tiba saja terasa nikmat banget burung bakarnya. Meskipun ga ada bumbu, namun sedikitpun tidak terasa bau amis." dengan senyum malu, Alexa menanggapi pertanyaan papanya. Gadis itu masih makan beberapa potong pepaya yang ditemukan Thomas di hutan ini.
"Mungkin bawaan cucu papa yang ingin makan. Bagaimana... sudah merasa kenyang belum? Jika belum, papa akan mencari makanan lagi. Karena sepertinya malam ini, kita akan menginap berdua di tempat ini. Papa belum menemukan jalan untuk keluar dari hutan ini." ucap Thomas pelan. Sambil mencari bahan makanan tadi, laki-laki itu sudah berusaha mencari jalan keluar. Namun meskipun di masa lalu, Thomas juga pernah tersesat masuk ke dalam goa ini, sampai sekarang dia juga belum menemukan jalan keluar,
"Sudah kenyang pa.. lagian masih banyak buah yang papa bawa. Nanti Lexa bisa makan buah saja, jika malam-malam masih merasa lapar. Kita nikmati saja dulu pa..., mungkin sudah digariskan agar kita menginap di tempat ini." ucap Alexa berusaha menghilangkan kekhawatiran di hati Thomas.
"Lagian.. kita tidak pernah menghabiskan waktu untuk jalan berdua. Mungkin saat ini, kita memang ditakdirkan dan diminta untuk lebih saling mengenal. Papa sangat menyesal, tidak mengawal pertumbuhanmu sejak lahir. Maafkan papa.." dengan rasa menyesal, laki-laki itu menatap Alexa dengan dalam. Karena kesalah pahaman di masa lalu, Thomas dan Nyonya Sarah harus terpisahkan.
"Tidak apa pa... ALexa sangat paham kok. Sepertinya Alexa sudah mulai mengantuk pa, Alexa tidur dulu ya.." gadis itu tiba-tiba menguap, rasa kantuk datang secara tiba-tiba.
"Iya istirahatlah dulu.., papa akan menjagamu. Untung saja batuan ini tidak terasa dingin, kita malah merasa hangat di tempat ini." setelah mendapatkan ijin dari papanya, Alexa dengan menyandarkan punggungnya di tembok, mulai meluruskan kedua kakinya. Gadis itu memejamkan matanya, dan perlahan tertidur lelap.
__ADS_1
Di depan gadis itu, Thomas menatapnya dengan rasa prihatin. Laki-laki itu mendekat ke arah putrinya, kedua tangannya memijit pelan kedua kaki Alexa.
"Kamu sudah terlalu lama menderita Lexa.. Harusnya dengan kehamilanmu kali ini, kamu istirahat di dalam kastil yang hangat. Namun kenyataannya, kamu harus terdampar di hutan ini bersama dengan papa." sambil terus memandangi wajah putrinya, Thomas tidak berhenti menyayangkan keadaan saat ini.
Laki-laki itu teringat bagaimana kedua orang tuanya saat itu, tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Sarah. Berbagai cara ditempuh orang tuanya, hingga dia dan Sarah harus terpisah. Kecemburuan karena Sarah pergi bersama laki-laki lain kala itu, seperti menutup mata batinnya dan menuduh jika kekasihnya saat itu berselingkuh, Ternyata tanpa dia sadari, laki-laki itulah yang memberi pertolongan pada kekasihnya yang sudah mengandung janin Alexa.
"Papa akan terus menjagamu Alexa.. tidak pernah lagi papa akan mengecewakanmu. Dan kamu sangat beruntung bisa mendapatkan Ravendra putra dari Tuan Besar Abraham. Laki-laki itu akan menjagamu sampai kapanpun, bahkan papa yakin. Saat inipun Ravendra sudah kalang kabut mencari keberadaanmu," sambil tetap menatap putrinya, Thomas bergumam.
**********
"Gadis muda.. ya kamu.., kamu.. Namamu Alexa bukan? Masuklah, dan singkap tirai ungu yang ada di depanmu." terdengar suara berat seorang laki-laki tua. Suara itu sama persis dengan suara yang pernah mengajaknya berbicara, ketika Alexa tertidur di dekat stalagtit.
Perlahan Alexa mengangkat tubuhnya untuk berdiri, dan setelah mengambil nafas.. pelan-pelan Alexa memberanikan diri untuk berjalan ke depan. Satu tangan kanannya menyibakkan tirai, dan dari tempatnya berdiri, gadis itu melihat ada seorang laki-laki yang duduk membelakanginya,
"Permisi Tuan.. apakah saya diperbolehkan untuk masuk ke tempat ini." dengan hati-hati, Alexa menyapa orang yang ada di tempat itu.
__ADS_1
Laki-laki itu membalikkan wajahnya, sebuah senyuman muncul di bibir laki-laki yang terlihat sudah renta itu. Laki-laki itu mengangkat tangannya, kemudian memberi isyarat pada Alexa agar gadis itu datang dan duduk di kursi yang ada di depannya. Tanpa menjawab, ALexa menganggukkan kepala kemudian mendatangi kursi yang sudah disediakan untukmya, Perlahan Alexa mulai duduk di depan laki-laki itu, dengan posisi menundukkan kepalanya ke bawah. Entah ada pengaruh apa, gadis itu tidak berani memandang langsung ke mata laki-laki itu.
"Angkat wajahmu ke atas gadis muda.. Panggil aku dengan sebutan kakek. Sudah sangat lama aku menunggu saat ini, menunggu kedatanganmu ke tempat ini. Akhirnya saat ini sudah tiba.." suara laki-laki tua itu terdengar memberi arahan pada Alexa.
Seperti mendapatkan ilmu gendam, gadis itu seperti terhipnotis. Dengan segera Alexa mengangkat wajahnya ke atas, kemudian menatap wajah laki-laki renta itu. Kakek yang duduk di depannya itu tersenyum pada gadis itu.
"Alexa.. benarkan itu namamu.. Kedatanganmu ke tempat ini, sudah lama diramalkan. Kamulah yang akan membawa kedamaian dan kesatuan semua vampire yang masih hidup dan berada di dunia ini. Satukanlah mereka, dan tatkala mereka sedang terlibat dalam sebuah perselisihan, tunjukkan perangkat dan identitasmu. Mereka akan menurut kepadamu.." meskipun suara itu pelan, namun kata dan ucapan laki-laki itu teringat jelas dalam ingatan Alexa.
"Perangkat.., identitas..? Bagaimana Alexa bisa mendapatkannya, semua tidak masuk akal." dengan suara lirih, Alexa mencoba mengingkari apa yang diucapkan oleh laki-laki itu.
"Jangan bantah kata-kataku.. Datangilah stalagtit yang berwarna terang itu, di dalam ujung stalagtit aku simpan kunci pembuka dinding batu yang sudah kalian temukan. Masuklah.. dan temukan semua identitas dan perangkatmu di dalam sana. Lakukanlah cucuku.." setelah mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba tubuh kakek itu menghilang dari hadapan gadis itu.
"Kakek.., kakek.. ada dimana kakek. Kenapa kakek meninggalkan Alexa sendiri.. kakek.." Alexa memanggil-manggil nama kakek. Tetapi laki-laki tua itu sudah tidak ada di depannya.
Alexa merasa tiba-tiba tempat itu menjadi hancur berantakan. Tubuh gadis itu tersentak, karena merasakan ada yang mengguncang-guncang.
__ADS_1
*********