
Tami kembali menatap wajah Abel Andreas, dan laki-laki itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu memiliki ketertarikan dengan Tami, karena memang gadis itu memiliki wajah yang cantik. Perlahan Tami tersenyum dengan pipi memerah, dan tidak melewatkan kesempatan baik tersebut.
"Terima kasih Abel.., aku tidak menyangka akan menemukan laki-laki sebaik dirimu. Aku akan sangat terbantu dengan adanya orang asli Rumania yang akan menemaniku disana, aku tidak akan tersesat dan dapat mengulang kembali memori-memori lama tentang negara itu." dengan kepintarannya Tami mengambil hati Abel.
"Selamat pagi, penumpang sekalian. Ini adalah pengumuman pre-boarding untuk penumpang Maskapai Turkish Airline dengan nomor penerbangan 431B tujuan Rumania. Kami mengundang para penumpang dengan anak kecil dan penumpang yang membutuhkan bantuan khusus untuk melakukan boarding terlebih dahulu. Mohon persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. *Boarding regular akan mulai dalam waktu sekitar sepuluh menit. Terima kasih" tiba-tiba terdengar suara Pre-boarding announcement* dari pesawat tujuan Rumania.
"Tami..., apakah kamu mendengarnya?? Sepertinya pesawat yang akan mengantarkan kita ke Rumania sudah ada pengumuman Pre-boarding announcement. Mari kita segera bersiap untuk melakukan boarding terlebih dahulu." mendengar pengumuman tersebut, Abel segera berdiri dan mengajak Tami untuk mempersiapkan diri, Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri, dan tanpa pikir panjang Tami menerima uluran tangan tersebut. Abel tersenyum, kemudian meletakkan tangannya di pundak kanan gadis itu, kemudian mereka segera menuju pintu keluar lounge room.
Abel Andreas mengeluarkan sebuat executive card pada petugas boarding, dan rupanya kartu itu dapat memperlancar proses boarding mereka. Tami tersenyum, ternyata feeling untuk menerima tawaran pertemanan dari laki-laki itu dapat membawa manfaat baginya. Saat ini Tami bisa dianggap sebagai buronan oleh pengurus kastil di Santorini karena kasus yang dibuat oleh Robin, Meskipun gadis itu tidak turut langsung ikut menangkap Ravendra, tetapi otaknya yang memiliki ide untuk memperlakukan Ravendra dengan kejam. Rasa cintanya pada laki-laki itu, tetapi tidak mendapatkan balasan dari Ravendra, menjadi penyulut dendam kepada laki-laki tersebut.
"Ternyata kamu memiliki executive card.., hmm... berarti saat ini aku sedang berjalan dengan orang penting nih..?" Tami menggoda Abel, sambil keduanya berjalan melewati jalan khusus untuk diakses oleh penumpang dari kelas executive..
"Siapalah aku Tami.., itu punya daddy. Kami semua putra dan putrinya, masing-masing diberikan satu card untuk akses bagi kami jika sedang bepergian," Abel tersenyum, tetapi laki-laki itu ternyata tidak suka menyombongkan dirinya. Abel merendah di hadapan Tami.
Tami menatap sekilas kepada Abel, kemudian tersenyum sendiri. Dalam hati, Tami membatin sangat beruntung dapat mengenal Abel dalam perjalanannya kali ini. Gadis itu berpikir untuk menggunakan Abel dalam berkamuflase melarikan diri dari orang-orang Ravendra. Setelah merasa tenang, baru Tami akan memikirkan untuk mencari keberadaan Robin kakaknya.
"Apa yang kamu pikirkan Tami...?" melihat gadis itu melamun sambil berjalan dan hanya mengikuti arah langkah Abel, laki-laki itu bertanya...
__ADS_1
"Tidak penting Abel. Hanya saja aku berpikir betapa beruntungnya dalam perjalanan kali ini. Aku dapat menemukanmu, dan bahkan selama di Rumania, aku merasa akan mendapatkan pelrindungan darimu." sahut Tami.
Abel semakin mengeratkan pegangannya pada gadis itu. Mereka segera naik ke dalam peswat.
***********
Istanbul
Di pelabuhan Haydarpaşa, yang juga dikenal sebagai Pelabuhan Haidar Pasha, Robin dan Slovasky terlihat menuruni sebuah kapal kargo. Dari Athena, mereka memutuskan untuk naik kapal kargo menuju ke Istanbul untuk menghindari tatapan kecurigaan, dan kekhawatiran jika orang-orang Johan dan Ravendra telah menghadang mereka di pelabuhan tersebut. Beberapa hari dan malam dihabiskan oleh dua orang itu dalam perjalanannya.
"Terserah bagaimana keputusanmu SLovasky.. Untuk sementara aku akan kembali ke negara Rumania, dan aku akan membangun kekuatan di negara itu. Meskipun Ravendra masih memiliki nama yang bagus di negara itu, tetapi sikap apatis dan tidak peduli laki-laki itu, menghilangkan rasa simpati manusia vampire terhadapnya. Aku yakin, mereka masih akan mendukungku." dengan percaya diri, Robin memutuskan akan pergi ke Rumania.
"That.s right.. Robin. Jika begitu bagaimana jika kita berpisah di tempat ini saja.., aku langsung akan menuju bandara untuk menemukan penerbangan untuk kembali ke negaraku." tiba-tiba SLovasky berpikiran untuk berpisah di tempat ini.
Robin terlihat berpikir sebentar, tetapi mengingat masih ada dompet berisi beberapa card dan identitas di dalamnya, akhirnya laki-laki itu kembali melihat pada SLovasky.
"Okay Mr. Slovasky..., sepertinya aku akan bermalam dan beristirahat di negara ini untuk beberapa malam. Baru aku akan berpikir untuk menuju Rumania, apakah via laut ataukan via darat." akhirnya keluar perkataan Robin yang menyetujui perpisahan mereka di tempat ini.
__ADS_1
Slovasky membalikkan badan, kemudian menghadap pada Robin. Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk berpamitan pada laki-laki itu,
"Kita berpisah disini Robin, aku akan kembali ke negaraku." Robin meraih pundak Slovasky, kemudian dua laki-laki itu berpelukan sebagai salam perpisahan.
"Take care..." ucap Robin. Laki-laki itu menatap punggung SLovasky yang berjalan meninggalkannya,
Beberapa saat setelah kepergian Slovasky, Robin memutar otaknya untuk memikirkan tempatnya untuk menginap.
"Aku tidak mungkin memanfaatkan hotel berbintang untuk saat ini, karena dengan cepat sistem Ravendra akan melacak keberadaanku. Aku akan mencari home stay atau villa saja untuk tempat persinggahanku sementara waktu." Robin berpikir sendiri. Laki-laki itu segera mencari tempat duduk, dan ketika melihat ada kursi panjang di pelabuhan sedang kosong, laki-laki itu segera bergegas menuju tempat tersebut,
Setelah mendudukkan diri di kursi panjang, tangan Robin segera masuk ke dalam tas yang menggantung di pinggangnya, kemudian mengeluarkan iPad dari dalam tasnya. Laki-laki itu segera masuk dan berselancar di dunia maya, untuk dapat menemukan tempat tinggal yang pas untuknya di negara itu.
"Sepertinya guest house ini memiliki suasana yang tenang.," mata Robin menatap view di Marmara Guesthouse, sebuah penginapan di Old City Sultannahmet, Istanbul dengan pemandangan laut Marmara yang indah sangat menarik perhatiannya.
Laki-laki itu mempelajari fasilitas yang ditawarkan oleh guest house tersebut, dan setelah cocok dan menyetujui fasilitas yang diberikan, segera laki-laki itu melakukan booking untuk waktu lima hari. Menurutnya waktu lima hari cukup baginya untuk berpikir langkah ke depan yang akan dia ambil.
************
__ADS_1