Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Barbeque


__ADS_3

Ravendra mendapatkan message dari Alexa yang memberitahu keberadaannya dan Raveena, dimana mereka menginformasikan jika tidak bisa kembali pulang dalam waktu yang dekat. Bahkan Alexa juga memberi tahukan jika mereka akan mengadakan pesta barbeque disana. Sangat mencintai dan tidak mau mengecewakan istrinya, Ravendra tidak memiliki pilihan lain untuk memberi istrinya ijin.


"Tok.. tok.. tok.." pintu ruang kerja Ravendra diketuk dari luar, kemudian pintu itu dibuka dari luar ruangan.


"Selamat siang Tuan muda Ravendra.. untuk apa tuan muda memanggil saya ke ruangan." Johan langsung menanyakan kepentingan laki-laki di depannya itu memanggilnya kesini.


Saat mereka ada di pulau Batam, Johan memang menyulap salah satu hotel terbesar di kota tersebut untuk menjadi kantor tempat mereka bekerja. Dengan adanya kemajuan teknologi, mereka secara virtual bisa berkoordinasi secara lintas perusahaan maupun lintas negara.


"Perketat penjagaan di rumah mama dan papa Alexa. Malam hari, mereka akan mengadakan pesta barbeque di halaman rumah. Sekarang hari Sabtu, biasanya setiap malam minggu, suasana pantai sangat ramai oleh pengunjung. Atur kerja sama dengan pengelola pantai, untuk memasang keterangan Forbidden masuk ke areal pantai untuk malam nanti." Ravendra memberi perintah dengan tegas pada asisten pribadinya itu.


"Siap laksanakan tuan muda.., tadi beberapa pengawal juga melaporkan jika mereka sedang berada di rumah Nyonya Sarah. Nona muda Raveena juga turut serta.." ucap Johan memberi informasi tambahan.


"Raveena..., duduklah dulu di depanku Johan. Aku akan bertanya sesuatu yang penting kepadamu. Jawab dari hatimu yang paling dalam, jangan ada yang kamu tutupi dariku. Kamu tahu bagaimana karakterku bukan..?" mendengar nama adik kandungnya disebut, Ravendra menjadi teringat sesuatu. Melihat tidak ada progress apapun dari kedekatan Raveena dengan asisten pribadinya itu, membuat laki-laki itu ingin menegaskannya.


Johan dengan mengerutkan kening duduk di depan tuan muda Ravendra. Banyak pertanyaan terkait dengan perintah agar dia duduk di depan laki-laki itu.


"Johan.. jawab jujur. Bagaimana hubunganmu dengan adikku Raveena, aku ingin ada ketegasan dan kepastian darimu. Jika memang tidak ada progress apapun, dengan terpaksa aku akan mengirim kembali Raveena ke Canada. Namun jika ada kemajuan hubungan denganmu.. maka aku akan mempertimbangkan yang lain." dengan suara tegas, telinga Johan tiba-tiba terasa panas mendengar kalimat yang diucapkan tuan mudanya itu.

__ADS_1


Anak muda itu tersentak, mulutnya seperti terkunci tidak bisa mengeluarkan pernyataan apapun terkait hubungannya dengan Raveena. Sampai saat ini, Johan sendiri merasa bingung dengan hubungannya itu, sehingga tidak pernah muncul ketegasan akan sikapnya pada nona muda Raveena.


"Apakah  pertanyaan susah untuk kamu cerna dan pahami Johan?? Dimanapun, negara manapun.. kamu selalu menjadi juru bicara perusahaan mewakili berbicara pada kolega. Kenapa kali ini, kamu hanya diam mendengar pertanyaanku." menunggu beberapa saat, tidak ada respon dari pertanyaannya pada anak muda itu, Ravendra mempertegasnya.


Johan perlahan mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk bertatapan mata dengan Ravendra. Tampak kegugupan membayang jelas di mata anak muda itu, dan Ravendra dengan terdiam terus memandangnya sehingga anak muda itu merasa serba salah.


"Saya tidak berani untuk melanjutkan perasaan saya pada nona muda Raveena tuan muda.. Bukan tidak sanggup untuk menghidupi atau memenuhi kebutuhan nona muda.. tapi.. saya yakin jika tuan muda memahami apa yang akan mengendalai saya." dengan tegas, Johan mengatakan apa yang menjadi sumber kegalauannya,


"Hmmm... untuk apa kamu berpikir tentang orang lain Johan.. Kamu adalah kamu, Raveena adalah Raveena.. kamu memberi harapan namun juga menghempaskan perasaan adik kandungku Raveena. Semua hanya butuh ketegasan darimu.. bukan yang lain. Jangan pernah berpikir tentang kekuasaan papa, kekuasaan mama.. kamu bisa hidup menjauh dan tidak berada di bawah bayang-bayang mereka. Bahkan.. jika untukmu dapat bersatu dengan Raveena, kamu harus meninggalkan aku sendiri, aku akan bisa menjalaninya." suara Ravendra kembali terdengar, seakan memberi tekanan pada anak muda itu.


Ravendra terdiam.. pandangan laki-laki itu kosong menatap ke depan.


*********


Malam harinya..


Raveena berusaha menikmati acara barbeque di halaman rumah Nyonya Sarah. Tampak berkali-kali kakak kandungnya Ravendra, yang terkenal memiliki pembawaan dingin dan sangat cuek terhadap perempuan, malam ini betul-betul sangat jauh berbeda. Sejak sore, laki-laki itu memberikan pelayanan dan membantu istrinya Alexa. Demikian juga dengan Thomas.. yang selalu memperlihatkan sikap dan perhatiannya pada istrinya Nyonya Sarah. Tinggallah Raveena yang merasa sepi di tengah keramaian. Bersama dengan Lili, gadis itu hanya menatap dua pasangan itu dengan tatapan iri.

__ADS_1


"Veena.. lihat itu.. Johan sedang membakar gurita besar. Rasanya masih manis, karena gurita itu masih dalam keadaan hidup ketika dibawa kemari. Ambillah.." dari dekat meja untuk menyajikan makanan yang sudah masak, Alexa berteriak memberi perintah pada adik iparnya. Sebenarnya perintah itu hanya kamuflase saja, agar Raveena tidak ragu-ragu untuk mendekati Johan. Ravendra hanya terdiam menyaksikan hal tersebut.


"Baik kak.." dengan agak malas, Raveena berjalan ke arah Johan sambil membawa piring nampan besar.


Tanpa melihat ke wajah Raveena, Johan meletakkan gurita yang sudah matang ke piring besar yang dibawa oleh gadis itu. Raveena agak terhenyak, mendapatkan perlakuan diacuhkan seperti itu. Tanpa bicara apapun, Raveena segera membalikkan badan kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut. Dari seberang meja, Alexa menghela nafas kasar melihat kepasifan sikap kedua anak muda itu.


"Ini kak Lexa gurita bakarnya.. sepertinya memang apa yang kakak ucapkan sangat benar." seperti tidak terjadi sesuatu, Raveena bersikap wajar. Gadis itu mengambil daging gurita dengan menggunakan garpu, kemudian memasukkan ke mulutnya. Sambil kepanasan, gadis itu mengunyah daging gurita di depan Alexa.


"Sepertinya lezat sekali Veena..?" dengan mulut berliur, ALexa melihat adik iparnya itu menikmati gurita bakar di depannya. Tanpa bicara, Ravendra segera mengambil daging, dan menyingkirkan guritanya kemudian menaruh di piring kecil, dan garpu di atasnya.


"Makan sendiri.. jangan lihatin orang makan. AKu tidak mau, nanti putra kita ngeces jadinya.." Ravendra menyuapkan garpu berisi potongan daging gurita ke mulut istrinya. Dengan penuh minat, Alexa langsung mengunyah daging gurita yang sangat empuk itu.


Dengan sudut matanya, Alexa melihat ke arah Johan yang menyendiri di sudut halaman. Aktivitas membakar gurita dilanjutkan oleh pengawal, dan terlihat Johan sedang menyalakan sebatang rokok di sudut sana. Alexa menyenggol suaminya dengan menggunakan satu sisi pundaknya, kemudian memberi isyarat pada Ravendra untuk melihat ke arah Johan. Namun.. suaminya hanya mencibir permintaan istrinya.


Acara barbeque di halaman berlangsung sampai malam, Karena merasa sudah lelah dan mengantuk, ALexa meminta ijin pada Ravendra untuk menginap di rumah itu. Akhirnya karena merasa kasihan, Ravendra dengan terpaksa mengijinkannya. Semua pengawal termasuk Johan.. akhirnya semua ikut menginap di rumah tersebut, dengan beberapa orang menggelar permadani di ruang tengah.


********

__ADS_1


__ADS_2