Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Dengar Perkataanku


__ADS_3

Ravendra memeluk erat dan menenangkan Alexa yang terlihat ketakutan karena melihat kegelapan di dalamnya. Apalagi ketika Alexa menatap mata Robin dan Tami yang merah menyala dalam kegelapan, tubuh gadis muda itu tiba-tiba menggigil. Setelah beberapa saat, lampu genset sudah menyala. Ravendra memberikan kecupan lembut di dahi gadis itu.


"Bagaimana honey..., apakah kamu sudah merasa lebih tenang?" tanya Ravendra perlahan sambil memandang wajah Alexa, dan gadis itu juga menatapnya balik.


"Kak Ravend., siapa mereka tadi..? Kenapa aku seperti melihat mata merah menyala disana.., seperti ada seorang laki-laki dan seorang perempuan." Alexa memberanikan diri menanyakan apa yang tadi dilihatnya dalam kegelapan.


"Kamu tidak perlu takut honey.., mereka teman-temanku yang tadi barusan datang berkunjung ke sini. Tidurlah lagi.., ada aku disini, tidak ada yang perlu kamu takutkan." Ravendra memberikan ciuman lembut di bibir Alexa, kemudian tangannya membelai-belai rambut Alexa.


Tidak lama kemudian, gadis itu mulai memejamkan matanya. Setelah menutupi tubuh Alexa dengan mengenakan selimut, Ravendra perlahan turun dari atas ranjang. Tanpa menimbulkan suara, dengan hati-hati, Ravendra melangkah keluar dari dalam kamar. Perlahan tangan Ravendra menekan tombol kombinasi angka untuk memastikan tidak ada orang lain yang akan masuk ke dalam kamarnya. Baginya saat ini, keamanan Alexa menjadi satu hal yang harus dia pastikan.


Ravendra sudah tidak melihat keberadaan Robin dan Tami serta Johan di sekitar kamarnya, laki-laki itu segera berjalan ke ruang tengah. Terlihat orang-orang yang dicarinya sedang menikmati simpanan anggurnya. Terlihat cangkir-cangkir sloki sudah diisi dengan air dari botol-botol anggur tersebut. Laki-laki itu langsung mengambil satu sloki, dan langsung meminumnya sampai habis.


"Siapa gadis itu Ravendra..?" tanya Robin dengan cepat, ketika melihat Ravendra sudah selesai meneguk anggur dari sloki dengan sekali tegukan.


Tami dan Johan ikut menatap laki-laki itu. Ravendra meletakkan kembali sloki yang dipegangnya ke tempat semula dia mengambil. Kemudian laki-laki itu duduk disamping Robin.


"Apakah penting dan perlu bagi kalian mengetahui siapa gadis itu?? Jika kalian ingin tahu.., gadis itu akan mendampingi hidupku sampai nanti. Dia yang akan melahirkan keturunanku." Ravendra menjawab pertanyaan Robin dengan mantap dan tegas.

__ADS_1


"Bagaimana dengan silsilah gadis itu?? Apakah kamu sudah menyelidikinya, bibit, bobot atau bebet gadis itu  Alex..?" Robin mengejar pertanyaan pada Ravendra. Laki-laki itu tidak pernah mempermasalahkan, Ravendra akan tidur dengan siapapun, dengan gadis manapun. Tetapi melihat laki-laki itu membawa gadis itu ke mansion, dan bahkan berada di atas ranjang private room-nya, tanda tanya besar banyak di dalam kepala Robin.


"Robin.., kamu tidak perlu mempedulikan aku. Sudah berapa kali kamu melihatku tidur dengan banyak perempuan Robin.., kamu tidak pernah mempedulikannya. Kenapa sekarang, hanya aku membawa perempuan ini ke mansion, bahkan tidak ada yang terjadi antara aku dengannya, kamu sudah kebakaran jenggot seperti ini?" Ravendra balik bertanya pada Robin.


Laki-laki itu terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ravendra, karena memang yang dikatakannya adalah benar adanya. Tetapi melihat bagaimana perlakuan yang diberikan Ravendra pada gadis ini, dan bahkan membawanya masuk ke kamar pribadinya, berarti perempuan ini memiliki satu keistimewaan di bandingkan dengan gadis-gadis yang pernah ditidurinya. Bahkan adiknya Tami, yang beberapa kali pernah tidur dengan Ravendra, tidak pernah diberinya ijin untuk memasuki kamarnya.


"Tuan Robin.., Nona Tami... Gadis muda itu kami menyelamatkannya karena adanya hujan badai di tengah hutan. Gadis itu merupakan salah satu pegawai di perusahaan Andromega, dan melihat derasnya hujan, dan angin yang menderu maka Tuan muda memutuskannya untuk membawa gadis itu kesini. Karena dari tadi, gadis itu seperti merasa trauma, maka Tuan muda membawanya masuk ke kamar pribadinya. Karena hanya kamar Tuan Muda di mansion ini, yang memiliki peredam, sehingga suara hujan dan angin tidak dapat masuk ke dalam kamarnya." khawatir dengan rasa curiga yang berlebihan dari Robin dan Tami, Johan mencoba membela Ravendra.


"Oh seperti itu ceritanya.., baiklah jika rasa khawatirku berlebihan." ucap Tami menerima ucapan itu. Sedangkan Robin sepertinya belum mempercayai sepenuhnya penjelasan dari Johan.


***********


Melihat gelagat Tami yang ingin melepaskan hasrat dan gairahnya, Robin segera meninggalkan ruang tengah. Johan yang sedikit ragu-ragu, melihat bagaimana tatapan Tami kepadanya, langsung bergegas mengikuti langkah Robin meninggalkan ruang itu. Melihat di ruangan itu hanya tinggal dirinya dan Ravendra, Tami segera menghampiri laki-laki itu dan duduk disampingnya. Tangan gadis itu mengusap lembut wajah Ravendra, dan laki-laki itu diam saja.


"Ravend..., ayolah temani aku main malam ini, seperti biasanya." bisik Tami, sambil mengarahkan lidahnya ke belakang telinga laki-laki itu. Tanpa sungkan, gadis itu menjilati belakang telinga laki-laki itu, dan biasanya Ravendra akan langsung menyergapnya dengan penuh gairah. Tetapi malam ini, Tami merasakan hal yang lain, tidak sedikitpun dia melihat hasrat muncul dari laki-laki itu.


"Hentikan pekerjaanmu Tami.., aku tidak lagi memiliki gairah kepadamu untuk malam ini dan malam-malam selanjutnya." pikiran Ravendra saat ini hanya dipenuhi dengan pikiran terhadap Alexa, gadis yang setia menunggunya di kamar. Meskipun tidak akan terjadi sesuatu dengannya dengan gadis itu, tetapi Ravendra merasa puas hanya dengan memeluk dan menciumnya saja.

__ADS_1


"Kamu belum tahu saja Ravend.., aku memiliki ide untuk mencoba gerakan baru. Aku memikirkannya untuk menikmatinya denganmu sayang.., ayolah Ravend.." Tami tidak mendengarkan penolakan Ravendra. Gadis itu terus merangsek maju, jari-jarinya sudah masuk dan berada di dalam pakaian laki-laki itu. Tetapi sedikitpun laki-laki itu tidak memiliki ketertarikan dan hasrat untuk melakukannya dengan gadis itu.


Saat bibir Tami mencoba untuk menempelkan bibirnya di wajah Ravendra, laki-laki itu menggunakan kedua tangannya untuk menyingkirkan wajah Tami darinya.


"Tami..., dengarkan perkataanku, aku tidak akan melakukannya lagi denganmu, maupun juga dengan gadis-gadis lainnya mulai malam ini. Tuntaskan gairahmu dengan Johan.., laki-laki itu menaruh rasa padamu." ucap Ravendra tegas, dia segera berdiri meninggalkan Tami sendiri.


"Ravend..., please.. help me!! Malam ini saja, tuntaskan gairahku Ravend.." terdengar rintihan Tami yang menginginkan belaian dari Ravendra. Tetapi laki-laki itu sudah membulatkan tekadnya, dia sudah berjanji untuk membuang kebiasaan buruknya sejak membuat komitmen pada Alexa. Dalam keadaan apapun, hanya Alexa yang akan dapat menuntaskan hasratnya, meskipun bukan saat ini saatnya. Tetapi laki-laki itu yakin, bahwa pada saatnya mereka akan merasakannya berdua.


"Johan..., kemarilah!" di balik pintu, Ravendra memanggil Johan.


"Siap Tuan muda.., apa yang bisa saya bantu?" dengan sigap, Johan segera mendatangi Ravendra.


"Pergilah ke ruang tengah\, tuntaskan ha**srat dan ga**irah gadis itu! Aku tidak akan melakukannya." ucap Ravendra sambil melangkah pergi.


"Tapi Tuan muda..." keraguan menghampiri Johan.


"Percayalah padaku.., ga**irah gadis itu sudah berada di ubun-ubun. Dia akan kehilangan kekuatannya jika tidak mengeluarkannya malam ini. Datanglah.., dia akan menerima dan melayanimu." seperti hafal dengan kebiasaan Tami, Ravendra memberi tahu Johan. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Ravendra segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


**********


__ADS_2