
Di pulau Batam
Nyonya Sarah duduk di pinggir pantai sambil melihat ombak yang menghempas kakinya. Perempuan itu sudah sejak sore sampai menjelang malam, belum mau beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Melihat gemerlap Pulau Sentosa yang masuk kawasan Singapura di depan mata, menimbulkan keasyikan tersendiri. Sesekali perempuan itu tersenyum seperti mengingat sesuatu, tetapi sesekali pula air mata jatuh menetes di pipinya.
"Aku merasa sangat kesepian.. sudah tidak ada lagi putriku Alexa.., dan juga suamiku Thomas. Bahkan cucuku yang belum sempat aku rasakan untuk memeluknya, juga tinggal kenangan." suara ratapan terdengar keluar dari bibir Nyonya Sarah.
Perempuan itu mengambil batu kerikil di dekat telapak kakinya, kemudian melemparkannya ke tengah lautan biru. Air laut yang membasahi kaki dan bahkan membasahi pakaian bawahnya, sama sekali tidak dirasakan oleh perempuan itu. Lamunan sepanjang hari selalu dilakukan Nyonya Sarah, semenjak perempuan itu tiba dari negara Rumania. Bahkan asisten rumah tangga yang menemaninya tidak mampu menghibur perempuan itu.
"Nyonya Sarah.. hari sudah mulai masuk malam hari. Segeralah Nyonya masuk ke dalam rumah, saya sudah menyiapkan air panas untuk Nyonya Sarah berendam." tiba-tiba ART di rumah sudah berada di belakang perempuan itu.
"Kembalilah Lili.. aku belum mau kembali ke dalam rumah. Aku masih ingin menikmati sinar rembulan malam ini." Nyonya Sarah menolak ajakan Lili untuk masuk.
"Tapi Nyonya.. baju Nyonya Sarah sudah basah semuanya. Jika tidak segera ganti baju, Lili khawatir Nyonya Sarah akan masuk angin. Apalagi angin di pinggir pantai ini sudah mulai kencang Nyonya.. Ayolah Nyonya.. segeralah naik ke dalam." ART itu terus merayu agar perempuan itu mau menghentikan aktivitasnya di pantai itu.
"Lili.. apakah kamu tidak mendengar kata-kataku.. Aku minta kamu kembali lebih dulu.. aku masih ingin menghabiskan malam di pantai ini." dengan nada agak tinggi, Nyonya Sarah menolak ajakan Lili.
Lili terdiam, dan perempuan itu menjadi teringat. Jika kedatangannya ke pantai ini, karena ada tamu yang ingin minta tanda tangan padanya.
__ADS_1
"Nyonya.. apakah Nyonya Sarah mengenal wanita yang bernama Nona ALicia. Saat ini, wanita itu sudah menunggu Nyonya Sarah di ruang tamu. Kedatangan Lili kemari, karena ingin menjemput Nyonya Sarah untuk menemui wanita itu." akhirnya Lili memberi tahu tujuannya kemari.
Nyonya Sarah terdiam, perempuan itu kembali mengingat wanita yang bernama Alicia. Perempuan itu adalah sekretaris pribadi suaminya Thomas.., dan kedatangannya untuk bertemu dengannya mengingatkan Nyonya Sarah akan suaminya.
"Bagaimana Nyonya Sarah.. apakah nyonya akan mengecewakan tamu yang sudah jauh-jauh datang dari negara Singapura?" pertanyaan Lili membuyarkan lamunan perempuan itu.
"Untuk apa aku cemburu pada gadis itu, bukankah saat ini ada dimana suamiku, aku sendiri tidak mengetahuinya." Nyonya Sarah menghilangkan perasaan tidak nyamannya untuk bertemu ALicia. Perempuan itu memang sudah lama mengetahui, bagaimana wanita bernama ALicia itu sudah lama memendam perasaan pada suaminya, namun dia selalu menjaga perasaannya pada Thomas.
"Nyonya.. kenapa Nyonya malah melamun..? Apakah nyonya tidak mendengar perkataan Lili." melihat Nyonya Sarah tidak menjawab perkataanya, tetapi malah mengalihkan pandangan, Lili memberanikan diri untuk bertanya.
"Baiklah Lili.. aku akan menemui perempuan itu. Tujuanku untuk bertemu dengannya adalah untuk suamiku Thomas. Aku tidak akan mengecewakan laki-laki itu hanya karena perasaan cemburuku pada perempuan itu." akhirnya setelah berpikir sejenak, Nyonya Sarah mengiyakan ajakan Lili.
********
Alicia membuka-buka majalah yang ditata dengan rapi di rak majalah yang ada di samping kursi tamu. Sudah beberapa saat perempuan itu menghabiskan waktu untuk menunggu kedatangan Nyonya Sarah. Jika bukan karena semua asset milik Bossnya Thomas, sudah dibalik nama atas perempuan bernama Sarah.. Alicia tidak akan mau mengunjungi perempuan yang menjadi saingan terberatnya. Namun.. karena perusahaan harus tetap berjalan, dan saat ini dia membutuhkan tanda tangan Sarah, akhirnya dengan merendahkan harga dirinya, ALicia berkenan untuk datang berkunjung ke rumah Sarah.
"Heh kamu.. sudah lama menunggu." Alicia yang sedang menundukkan wajahnya melihat majalah, dikejutkan oleh suara Nyonya Sarah. Perempuan itu kemudian menutup majalah yang dibacanya, kemudian mengarahkan tatapan matanya pada perempuan yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Nyonya Sarah.. saya terpaksa harus menemui anda malam ini." ALicia menjawab sapaan mamanya ALexa itu.
Nyonya Sarah tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, kemudian perlahan duduk di sofa yang ada di depannya Alicia. Tangan kanan Nyonya Sarah diulurkan ke depan, dan untungnya ALicia tanggap dengan apa yang diinginkan oleh perempuan itu. Dengan cepat, Alicia menyerahkan map dengan beberapa berkas di dalamnya pada perempuan itu.
Tanpa bicara, Nyonya Sarah membolak balik berkas-berkas yang ada di dalam map itu. Kemudian tidak lama kemudian, perempuan itu kembali meletakkan map di atas meja.
"Apakah Nyonya Sarah sudah sign di dalam berkas itu?" dengan penuh tanda tanya, Alicia mengkonfirmasi perempuan itu.
"Alicia.. aku tidak paham tentang dunia bisnis suamiku. Bisnisku sendiri dijalankan oleh asistenku, sehingga aku tidak perlu untuk mengurus ***** bengek seperti ini. Apakah sangat penting tanda tanganku saat ini, dan apakah tidak ada orang yang akan menggantikannya." Nyonya Sarah mencari tahu.
Mendengar perkataan perempuan di depannya itu, dalam hati Alicia mencibir. Jika gadis itu tidak terlanjur suka dengan suasana dan lingkungan kerja di perusahaan Thomas, mungkin ALicia sudah lama re sign.
"Jujur Nyonya Sarah.. sebenarnya merupakan hal yang malas bagiku untuk datang ke rumah ini, apalagi bertemu denganmu. Namun sayangnya... Tuan Thomas terlalu menyerahkan hati dan perasaannya hanya untuk Nyonya Sarah, dan bahkan sedikitpun tidak ada ruang untukku. Saya harap, Nyonya Sarah paham dengan perkataan saya. Untuk itu.. janganlah kita saling mempersulit diri.. aku hanya butuh tanda tangan pengesahan tentang kontrak perusahaan yang harus segera diperbaharui, tidak membutuhkan hal yang lain." dengan nada judes, Alicia menanggapi perkataan Nyonya Sarah.
Nyonya Sarah terkejut mendengar keterus terangan wanita yang ada di depannya itu. Untungnya, Thomas suaminya sudah lama tidak ada dalam jangkauannya, sehingga perempuan itu tidak memiliki alasan untuk cemburu.
"So.. apakah kamu pikir, dengan mudahnya aku akan memberimu tanda tangan, tanpa melihat isi dari klausul-klausul dalam kontrak perjanjian. pergilah.. tinggalkan rumahku.. Besok jam delapan pagi, kirim orang untuk mengambil berkas-berkas ini. Jika aku merasa okay, aku akan tanda tangan, namun jika no agree.. maka berkas-berkas ini akan berakhir di tempat sampah." seperti orang tanpa perasaan, Nyonya Sarah berkata dengan nada tidak kalah ketusnya dari Alicia.
__ADS_1
*********