
Sekian lama berusaha untuk meluluhkan hati laki-laki di depannya saat ini, Raveena akhirnya mendapatkan hasil yang menggembirakan. Johan akhirnya tidak tahan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Raveena, dan dengan jantan mengakui perasaan yang sudah dipendamnya terhadap gadis itu. Tanpa berkedip, karena rasa khawatir akan kehilangan laki-laki di depannya, Raveena terus menatap mata Johan.
"Sayang.. aku lapar. Apakah dengan memandangiku sejak tadi, dapat menghilangkan rasa lapar dalam perutmu?" tiba-tiba Johan teringat jika sejak bangun tidur tadi, perutnya belum terisi karbohidrat sedikitpun. Bahkan seteguk minuman juga belum masuk ke dalam perutnya, karena melihat jika Raveena sudah sejak dini hari pergi meninggalkan rumah Nyonya Sarah, Johan langsung bergegas mencarinya.
Mendengar perkataan Johan, Raveena kaget dan menatap wajah laki-laki di depannya itu dengan lebih teliti.
"Kakak belum makan sejak tadi pagi?" Raveena bertanya pada Johan, dan laki-laki itu menjawab dengan menganggukkan kepala ke bawah.
"Oh my God... sekarang sudah pukul sebelas siang. Masih kuat tidak kakak menunggu Veena mandi sebentar?" melihat anggukan kepala laki-laki itu, Raveena langsung menegakkan kembali tubuhnya.
"Kuat.. kuat.. sejak kapan ada gadis meragukan kekuatanku.."'goda Johan menanggapi perkataan kekasihnya itu.
Raveena mencubit pinggang laki-laki itu, kemudian bergegas gadis itu beranjak dari atas ranjang menuju bath room.
"Ha.. ha.. ha.. kamu tambah imut sayang dengan sikap seperti itu." Johan memberi komentar atas perlakuan dari gadis itu.
Tanpa menjawab, Raveena segera masuk ke dalam bath room dan menutup pintu kamar mandi dari dalam.
"Andai saja kamu sudah sah menjadi milikku sayang.. aku tidak akan membiarkanmu melangkah sendiri ke dalam kamar mandi. Aku pasti sudah akan menghabisi mu." Johan tersenyum kecut memandang pintu kamar mandi yang tertutup itu.
Sambil menahan nafas yang memburu, laki-laki itu segera berdiri. Tidak lama kemudian, Johan beranjak meninggalkan kamar Raveena untuk menuju ke kamarnya sendiri. Laki-laki itu berpikir, dia bisa menjadi gila jika terus berada di dalam kamar Raveena, sedangkan hati kecilnya melarang untuk menyentuh lebih intim sebelum ikatan pernikahan mengikat hubungan mereka.
Perlahan laki-laki itu menutup kamar Raveena dari luar, kemudian segera bergegas masuk ke kamarnya untuk bersiap-siaplah.
******
__ADS_1
Beberapa saat kemudian
Setelah satu jam sejak terakhir mereka bertemu, Johan sudah menunggu Raveena keluar dari dalam kamarnya. Laki-laki itu sengaja memberi privacy pada gadis itu, membiarkannya untuk bersiap-siap. Tidak lama kemudian, pintu kamar Raveena dibuka dari dalam, dan raut wajah cantik Tampak muncul dari balik pintu.
"Cantik sekali dirimu sayang.. hanya berdandan cantik seperti hanya jika sedang bersama denganku. Tidak boleh melakukannya, ketika tidak sedang bersamaku." sikap posesif laki-laki itu muncul melihat Raveena merias wajahnya dengan tipis
"Mulai deh lebay-nya. Ayok kita berangkat.." Raveena mengabaikan kata-kata Johan
"Janji dulu.. jika tidak aku tidak mau jalan denganmu. Kamu hanya boleh merias wajah secantik ini jika sedang berdua denganku. Ingat itu.. jika belum berjanji, maka kita tidak akan jadi berangkat. Lebih baik kita batalkan kencan pertama kita kali ini." Johan tidak mau beranjak.
"Mmmm. iya kak Johan sayang.. Raveena janji, hanya di depan kakak, Veena akan merias wajah." merasa agak khekq dengan larangan Johan, akhirnya dengan terpaksa Raveena menyetujuinya.
Johan tersenyum, kemudian laki-laki itu berdiri dan memberikan kecupan di dahi gadis itu. Tidak lama kemudian, pasangan kekasih itu segera keluar dari dalam kamar, dengan erat Johan merangkul bahu Raveena. Keduanya segera menuju ke pintu lift.
Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba..
"Veena..." Raveena kaget ada suara laki-laki memanggilnya. Wajah Johan menjadi tidak enak untuk dilihat.
Gadis itu menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat David serta Steven berjalan menghampirinya. Melihat kedatangan dua anak muda yang tadi pagi sempat berurusan denganmu, Johan menjadi sedikit kalap. Namun dengan cepat, Raveena mengingatkan laki-laki itu.
"Kak Johan.. trust me. Tidak ada rasa dan tidak ada hubungan apa-apa antara aku dengan kedua anak muda itu. Pure.. kami hanya berteman, dan tanpa sengaja bertemu di puncak bukit Dangas " Raveena menjelaskan keterkaitannya dengan kedua anak muda itu.
Melihat kesungguhan terlihat di mata Raveena, akhirnya Johan melonggarkan ekspresinya. Dengan masih merangkul bahu kekasihnya, Johan menemani Raveena untuk menemui David dan Steven.
"Bagaimana kalian berdua bisa sampai ke hotel ini David, Steven...?" Raveena langsung menyapa kedua anak muda itu.
__ADS_1
"Kan kita teman Lexa.. kami mengkhawatirkanmu. Jadi.. kalian ini...." David menunjuk ke arah Johan
"Sorry Dav.., Stev.. aku tadi lupa untuk mengenalkan kekasihku pada kalian. Tadi ada kesalah pahaman antara kita, sampai reaksi kak Johan begitu pada kalian tadi. Maaf ya.." untuk menghindari Johan kembali salah paham, Raveena segera mengenalkan laki-laki itu sebagai kekasihnya.
David dan Steven saling berpandangan, mereka melihat perubahan cepat pada emosi gadis di depannya itu. Tetapi terlihat Johan sudah mengulurkan tangan ke arah mereka.
"Hi aku Johan.. terima kasih ya, tadi sudah mau menemani pacarku. Aku sampai salah paham pada kalian berdua." Johan mengenalkan diri pada kedua anak muda itu.
"Okay no problem.. aku Steven, dan ini David saudara sepupuku. Kami hanya berbincang saja tadi, kebetulan nyambung obrolannya dan sama-sama lapar belum makan. Ya udah akhirnya restauran tadi jadi pilihan kita." David menjelaskan keberadaan mereka tadi.
Kedua anak muda itu segera menyambut uluran tangan Johan, kemudian masing-masing menyebutkan namanya. Melihat bagaimana dinginnya wajah laki-laki yang mengaku sebagai kekasih Raveena, kedua anak muda itu tidak berani memancing kemarahannya.
"Oh ya David.... Steven, by the way ada perlukah sampai kalian datang ke hotel tempatku tinggal?" Raveena menyela perkenalan Johan dan kedua anak muda itu.
"Tidak ada Veena.. hanya saja tadi kebetulan kita pas lewat di jalan depan hotel. Ya udah.. kami pikir dirimu tidak ada aktivitas.. rencana mau ajak jalan saja. Tapi melihat ternyata kamu dan your boyfriend sudah siap untuk berangkat pergi, sepertinya perkiraan kami salah." Steven menjawab pertanyaan gadis itu.
"Kebetulan kami merasa lapar, kak Johan mengajakku untuk menikmati sea food langsung di pinggir pantai." Raveena menanggapi perkataan kedua anak muda itu, dan David serta Steven hanya tersenyum pahit melihatnya.
Dari samping Raveena, Johan kembali merengkuh bahu kekasihnya itu.
"Sayang.. aku keburu lapar.." seakan mengusir kedua laki-laki itu, Johan mengajak Raveena untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Okay okay.. bye David, Steven.." tidak nyaman dengan Johan, Raveena segera berpamitan dengan kedua teman yang baru tadi pagi dikenalnya itu.
******
__ADS_1