
Boss Ridwan tiba-tiba masuk ke ruang kerja IT Design, dan langsung menghampiri Alexa di kubiknya. Rekan kerja Alexa langsung berdiri di kubiknya, mereka ikut mengamati gerak-gerik laki-laki itu. Track record buruk dalam memperlakukan para gadis, membuat orang-orang di perusahaan kehilangan kepercayaan pada Kepala Divisi mereka itu. Tetapi Boss Ridwan mengabaikan tatapan curiga kepadanya, laki-laki itu tidak menganggap anak buahnya dan tetap menuju ke kubik Alexa.
"Pagi Lexa.., sedang mengerjakan apa?? Sibuk ya..?" Boss Ridwan berbasa-basi bertanya pada anak buah kesayangannya itu. Alexa menghentikan aktivitasnya, gadis itu mengangkat wajahnya ke samping, dan melihat Boss Ridwan tersenyum berdiri di sampingnya.
"Pagi Boss..., iya lagi sibuk membuat draf desain interior untuk display room di gedung kita yang baru. Karena saya harus kejar target dari Wakil CEO untuk menyelesaikan desain ini, sepertinya Boss Ridwan tidak bisa memberiku kerjaan lain kali ini. AKu harus fokus Boss, dan pekerjaan ini tidak berani aku sambi-sambi." dengan tegas, ALexa membuat rambu-rambu menolak tugas lagi dari atasan langsungnya itu.
"Alexa.., aku ini Bossmu lho. Masa kamu berani menolak tugas yang aku berikan.., bahkan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh unit lainpun, kamu harus memberi tahu padaku. Tidak bisa menerimanya secara langsung tanpa konsultasi dulu denganku." Boss Ridwan menggunakan kekuasaanya untuk menekan Alexa.
"Hmm, begitu ya Boss..?? Tapi menurut Lexa sih, wakil CEO bukan dari unit lain, karena beliau adalah atasan Boss Ridwan juga. Sebagai seorang karyawan rendahan, aku harus bisa menggunakan prioritas kerja dong. Jika Boss Ridwan keberatan, Lexa persilakan Boss mengajukan keberatan secara langsung pada Wakil CEO. Saya mah.., hanya pelaksana saja Boss, tidak dapat mengambil keputusan, apalagi sebuah kebijaksanaan." mengetahui kedekatan emosional antara Wakil CEO Johan dengan Alexa, Boss RIdwan tidak akan mau berbicara dan menyampaikan protes padanya. Padahal, sebenarnya Alexa juga tidak akan mau jika Boss Ridwan betul-betul melakukan protes pada Johan. Karena bisa-bisa, dia sendiri yang akan terlibat percekcokan dengan laki-laki itu. Tetapi mumpung saat ini, Johan sedang bertugas menghadiri conference di Singapura, Alexa dapat menggunakannya sebagai alasan.
"Benar apa yang dikatakan Alexa Boss Ridwan, masa sebagai karyawan rendahan kita mengabaikan perintah dari wakil CEO. Bisa-bisa kita akan terkena PHK deh.." dari kubik samping Alexa, Ronny ikut menambahkan. Beberapa rekan kerja yang lain tersenyum sambil menutup mulut mereka.
"Tahu apa kamu Ronny?? Kamu harus belajar lagi tentang etika dan tata cara berkomunikasi. Jangan suka menyahut, jika ada orang sedang berbicara hal penting, dan apalagi yang berbicara adalah atasanmu." dengan nada tidak suka, Boss Ridwan menegrur Ronny.
"Ya tidak seperti itu juga Boss. Karena sikap Boss Ridwan terkesan menekan rekan kerja kami, kasihan Alexa dong. Sudah sering harus membuatkan konsep design dari unit kerja lain, sekarang malah Boss Ridwan selaku atasan lain tidak memberikan support. malah terkesan seperti menyalahkan Alexa." dengan nada sinis, Alana ikut menimpali dari kubiknya.
__ADS_1
"Kamu malah ikut-ikutan Alana. Sudah.., sudah.., aku tidak jadi mengajak ALexa ikut rapat koordinasi. Seegra selesaikan tugas-tugas kalian. Dan kamu Alexa.., jika design interior yang kamu kerjakan sudah finish, segera datang ke ruanganku. Ada yang akan aku sampaikan padamu.." sambil berjalan keluar Boss Ridwan menyampaikan pesan pada Alexa. Gadis itu diam tidak menanggapi perkataan Bossnya, dia hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jari pada teman-temannya.
********
Di lantai bawah.
Merasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Alexa.., Sisi memprovokasi teman-temanya yang bertugas di lantai satu. Gadis itu menceritakan sikap Alexa yang dikatakan sudah merendahkannya, sambil menambahi dengan bumbu-bumbu yang membuat suasana semakin panas. Tetapi untuk mendapatkan dukungan dari teman-temannya, gadis itu tidak melibatkan security yang sama-sama bertugas di lobby.
"Apa yang dikatakan karyawan tukang tebar pesona itu..?" dengan penuh minat, ANita mempertanyakan sikap tidak menyenangkan yang ditunjukkan Alexa.
"Kita kerjain dia saja kalau begitu. Tetapi ingat.., kita harus hati-hati. Gadis itu memiliki hubungan dekat dengan wakil CEO dan laki-laki tampan bermuka pucat yang bekerja dari lantai sebelas gedung ini." dengan nada keras, Mira ikut menimpali.
"Iya.., bagaimana kalau nanti sepulang kerja kita beri pelajaran pada gadis itu. Akhir-akhir ini, Alexa selalu lewat ruang lobby ini jika berangkat dan pulang kerja. Wakil CEO memberinya fasilitas antar jemput dengan Roll Royce, aku tidak tahu terlibat dalam hubungan apa mereka. Tapi tenang saja, berdasarkan informasi yang aku dapatkan, saat ini wakil CEO sedang dalam perjalanan bisnis ke SIngapura. Kita bisa mengerjai gadis itu, tanpa takut ketahuan oleh Tuan Johan." kata Sisi membuat alasan.
"Okay... tetapi dalam waktu singkat seperti ini, hal apa yang akan kita lakukan?? Bagaimana kita akan menjebak gadis itu?" Mira bertanya. Anita dan Sisi saling berpandangan, kemudian mereka tersenyum, kemudian,...
__ADS_1
"Serahkan saja padaku. Kesinilah Mira.., aku akan memberi tahumu tentang apa yang akan kita lakukan, untuk mengerjai Alexa. Kita akan memberi gadis itu pelajaran yang memalukan, dan dia tidak akan memiliki wajah jika mengingat akan kejadian ini." Anita meminta Mira datang mendekat padanya. Sebenarnya ide untuk mengerjai Alexa sudah lama direncanakan Anita dan Sisi. Hanya saja mereka belum mendapatkan waktu dan kesempatan yang baik untuk melakukannya.
Tanpa berprasangka apapun, Mira berjalan mendekati Anita dan Sisi. Kedua gadis itu membisikkan kata-kata di telinga Mira, dan gadis itu mengangguk-anggukkan kepala tanda sudah memahami perkataan mereka. ..
"Okay.., bagaimana Mira?? Cukup mudah bukan tugasmu.." dengan tatapan licik, Anita bertanya pada Mira.
"No problem, sebuah tugas yang mudah dan tidak mencelakakan. Aku setuju, aku janji..., aku akan membantu kalian memperlancar tugas kalian berdua." ketiga gadis itu tersenyum, kemudian melakukan give me five secara bersama-sama.
"Hey... kenapa kalian malah menjadikan tempat ini untuk bergosip? Ayo kerja.., kerja.., kembali ke posisi tempat kerja masing-masing." tiba-tiba gadis itu dikejutkan oleh teguran security lobby.
"Halah.., ga usah sok kamu Tejo.. Urus saja perkerjaanmu sendiri, jangan suka nyinyir, ngusilin urusan orang lain!" tegur Sisi tidak suka kepada Tejo. Laki-laki itu mengusap dadanya.
"Ini orang diingatkan malah ngegass.., jika kalian masih menggunakan ruang kantor di saat kerja untuk membuat gosip dan rumpian, aku tidak segan melaporkan kalian pada atasan." Tejo membuat kalimat yang mengancam mereka. Mendengar hal itu, sambil melotot Sisi kembali ke posisi di tempat kerjanya.
*********
__ADS_1