
Lima belas menit perjalanan, shuttle yang membawa mereka sudah sampai di tempat parkir pinggiran hotel pinus. Mata Alexa melihat sebuah Rolls Royce Wraith terparkir di sebelah shuttle yang mereka naiki. Pikiran gadis itu mengarah pada Johan dan Ravendra yang membawa mobil itu kesini, tetapi dia tidak menemukan keberadaan mereka di sekitar mobil. Perlahan Alexa segera menuruni mobil setelah semua rekan-rekan lainnya mendahului turun.
"Brrrr.., dingin sekali disini ternyata.." Alana menarik tali di leher hoodie yang dia kenakan, kemudian mengikatnya dengan erat. Untungnya Ravendra sudah mengenakan long coat untuk melindungi tubuhnya dari hembusan angin, dan menutup kepalanya mengenakan topi base ball. Sebuah syal menutupi lehernya, dan sepatu sport dengan kaos kaki panjang melengkapi penampilannya pagi ini.
"Perlengkapanmu ternyata lengkap Na.., aku cuman bawa hoodie ini saja." Alana mengeluh, karena tidak menyiapkan perlengkapan sebelumnya.
"Halah kamu tuh biasa Lan.., perlengkapan kosmetik saja yang lengkap. Safety untuk tubuh kamu lupakan..." ucap Aniss mengomentari rekan kerjanya itu. Alana tersenyum nyengir, karena apa yang dikatakan oleh Aniss memang benar adanya. Dia tidak menyangka, acara weekend bonus dari perusahaan ini diisi dengan kegiatan outbound. Alexa menarik resleting tas selempang di pinggangnya, kemudian menarik scarf panjang keluar.
"Pakai scarf ini di lehermu. Lumayan untuk menutup angin yang menerobos masuk." Alexa menyerahkan scarf itu, dan langsung mengikatkannya di leher Alana. Gadis itu senyum-senyum melihat kelincahan Alexa memasangkan scarf di lehernya.
Ketiga gadis itu melakukan pemanasan untuk mengurangi rasa dingin. Mereka menggerak-gerakkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri. Irwan dan Ronny serta Rado yang sudah selesai menyiapkan peralatan, menghampiri mereka bertiga.
"Ayo kita langsung gabung di lapangan saja. Pembagian kelompok akan segera dilakukan." Irwan mengajak ketiga gadis itu untuk segera menuju ke lapangan. Ketiganya saling berpandangan, kemudian menganggukkan kepala. Ketiga pasangan laki-laki dan perempuan itu berjalan memasuki lapangan, dan bergabung dengan beberapa orang yang sudah berkumpul disitu. Orang lain yang melihat kedekatan mereka berenam, jika tidak mengerti pasti mereka akan mengira jika mereka adalah pasangan kekasih. Untungnya mereka menunjukkan keakraban juga di tempat kerja, sehingga tidak ada yang berpikiran seperti hal itu pada mereka.
__ADS_1
"Ayo menyebar..., jangan berkelompok. Acara akan segera kita mulai, semuanya segera menuju ke lapangan. Jika tidak, maka kalian akan jalan sendiri-sendiri memasuki hutan jika tidak tergabung dalam tim." terdengar suara laki-laki menggunakan microphone meminta semua yang ada di tempat parkir, untuk segera masuk dan bergabung di halaman. Mendengar himbauan itu, orang-orang segera menuju lapangan.
"Baiklah.., sebentar lagi kita akan mengawali pagi hari ini dengan mengikuti senam bersama. Dengarkan musik dan perhatikan instruktur yang akan memandu kalian semuanya," dua orang instruktur senam, satu laki-laki dan satu perempuan segera menempatkan diri di tengah lapangan. Begitu musik diperdengarkan, kedua instruktur itu mengajak semua yang ada di lapangan untuk mengikuti gerakan mereka.
"Ayo.., ayo..., gerakkan kaki kalian. Angkat setinggi paha, jangan kurang dan jangan lebih, Taruh kedua tangan di pinggang kalian. Satu.., dua..., tiga..., empat..., ya lanjutkan..!" teriak instruktur perempuan memandu jalannya senam bersama.
"Rado..., lihat pinggul instruktur senam yang perempuan. Wooww..." Ronny mengajak Rado untuk mengamati pinggul instruktur yang bergoyang mengikuti irama musik itu.
"Dasar mesum pikiranmu Ronn..., fokus ikuti gerakan. Jangan biarkan pikiran ngelantur kemana-mana." teriak Alana memprotes perkataan Ronny. Alexa hanya senyum sambil geleng-geleng kepala melihat kekonyolan mereka.
**********
"Lexa.., dapat nomor berapa kartumu..?" seru Aniss setelah melihat Alexa dari depan mengambil kartu undian.
__ADS_1
"Nomor lima, kamu berapa An.., kita satu kelompok juga kan?" Alexa menjawab pertanyaan Aniss, dan berharap gadis itu mendapatkan nomor kelompok yang sama dengan dirinya. Aniss menunjukkan kartu yang digenggamnya, melihat nomor itu Alexa sedikit kecewa, karena mereka ternyata terpisah dalam kelompok yang berbeda.
Satu persatu setiap orang sudah mendapatkan nomor undian yang menunjukkan pada kelompok berapa mereka akan bergabung. Ternyata kelompok yang ditempati Alexa.., mendapatkan satu kelompok dengan Pram dan Miss Kathleen. Merasa tidak begitu memiliki kedekatan emosional dengan mereka berdua, Alexa sedikit kehilangan mood. Tetapi berpikir jika ini hanya merupakan kelompok permainan, akhirnya Alexa mengesampingkan perasaannya. Dengan lesu, Alexa berjalan menghampiri kelompok yang memiliki nomor undian yang sama dengan dirinya.
"Alexa..., ternyata kita bisa berjodoh. Nomor undianmu sama nih dengan nomor undianku." Boss Ridwan tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alexa. Mood Alexa yang sudah mulai sedikit membaik, langsung kembali terbang meninggalkannya. Tujuh orang dalam kelompok yang sama, tiga di antaranya gadis itu sudah tidak memiliki kecocokan padanya.
Alexa tidak menjawab, gadis itu malah bergegas dan segera bergabung dengan kelompoknya. Kekesalannya semakin menjadi, karena dari 6 orang termasuk dirinya, terdapat tiga orang yang dirinya merasa tidak cocok. Boss Ridwan senyum-senyum berdiri di samping Alexa. Pram berjalan ke depan mengambil tata cara permainan, dan setelah beberapa saat laki-laki itu kembali ke kelompok mereka.
"Okay.., jadi kita diminta untuk berjalan melewati tiga pos di tengah hutan, dan berakhir di lapangan yang ada di dalam. Kita tidak perlu khawatir mengenai kepulangan kita, nanti pada pukul 12 siang, kita akan dijemput menggunakan mobil yang bekerja sama dengan pihak militer. Kita harus menjaga kohesivitas kita, jangan tinggalkan kelompok, dan usahakan jangan berjalan sendiri. Kita harus tetap bersama-sama." Pram menyampaikan arahan dari para pemandu. Semua anggota tim menganggukkan kepala.
"Alexa.., karena kamu paling junior bawa penunjuk arah ya. Ayuk kita segera mulai jalan, kelompok yang lain sudah mulai masuk ke dalam hutan." Miss Kathleen mengajak bicara Alexa. Karena menghormati orang yang lebih baik dari usia maupun masa kerja, Alexa menerima apa yang ditugaskan Miss Kathleen padanya. Untungnya ada Miss Kathleen, jika tidak.., Naura akan diganggu oleh Pram.
"Aku bawakan saja Lexa..., berat soalnya. Kamu jalan di sampingku saja." Boss Ridwan mengambil penunjuk arah dari tangan Alexa. Gadis itu membiarkannya, karena keberadaan penunjuk arah itu juga akan memberatkan langkahnya.
__ADS_1
Mereka mulai menapaki jalanan hutan yang untungnya tidak ada hujan di hari sebelumnya. Jalan setapak terbentuk di hutan tersebut, karena memang lokasi hutan lindung ini sering digunakan sebagai tempat untuk kegiatan out bound orang-orang yang datang berkunjung ke daerah itu. Semakin masuk ke dalam, jalan bukannya semakin mudah, tetapi semakin sulit.
**********