Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Aku tidak dapat Menunggu Lagi


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Alexa menahan diri dengan menyibukkan diri untuk mengurusi Abhimana. Sudah satu minggu lebih satu hari, Ravendra belum mengirim kabar sedikitpun, begitu juga dengan Johan. Tetapi memahami jika emosi seorang ibu, sangat terkait dengan emosi putranya, maka Alexa mencoba mengalihkan kerinduan,  dan rasa penasaran akan keadaan suaminya dengan melakukan berbagai aktivitas.


"Nona muda.. nanti sore suster pemijat bayi sudah menyanggupi untuk memijat tuan muda kecil setelah habis Ashar. Jika nona muda berkenan, suster itu juga bisa memijat nona muda sekalian.." baby siitter yang dikerjakan untuk membantunya merawat Abhimana memberikan laporan pada Alexa.


"Okay.. tapi untuk memijatku lihat nanti sore saja ya. Jika Abhimana tidak  rewel, maka aku mau dipijat, tetapi jika Abhi masih rewel, lain waktu saja aku dipijatnya.." ucap Alexa, sambil menepuk-nepuk pantat Abhimana.


"Iya nona muda.. sepertinya tuan muda kecil sangat memahami keadaan nona muda. Jarang sekali tuan muda kecil menangis, jika tidak ada sebab." ucap perawat.


"Aku akan istirahat sebentar ya, Abhimana sudah tidur, pindahkan ke box bayi.." melihat putra pertamanya sudah tidur terlelap, Akexa menyerahkannya pada baby sitter. Dengan sigap baby sitter bernama Rita itu mengambil Abhimana dari tangan nona mudanya.


Sudah tidak ada lahi Abhimana lagi di sampingnya, Alexa melirik ponselnya yang berada di atas meja kecil samping ranjang. Gadis itu tersenyum masam, kemudian meraih ponsel tersebut dan membukanya perlahan. Guliran-guliran demi guliran dilakukan Alexa, dan akhirnya menatap nomor-nomor contact yang tersimpan di ponsel tersebut. Gadis itu ragu-ragu, ingin melakukan panggilan keluar pada Ravendra, namun kekhawatiran jika mengganggu aktivitas suaminya, akhirnya Alexa membatalkan niatnya.


"Sudah satu minggu lebih.. terakhir kali kak Ravendra melakukan video call dan memberi tahu keberadaannya ketika masih di kota  Burg Frankenstein, Frankfurt. Setelah kabarnya tidak terdengar lagi.." Alexa berbicara pelan pada dirinya.


"Abhimana melarangku untuk menyusul dan mencari tahu keberadaan papanya. Karena tidak mungkin, kak Ravendra bisa bertahan sampai berhari-hari untuk tidak bisa menanyakan kabarku dan putranya. Demikian juga dengan Johan, aku yakin sebentar lagi Raveena pasti akan datang kesini untuk menanyakan kakak dan suaminya." Alexa tersenyum kecut.

__ADS_1


Perempuan muda ini merasa tidak berdaya, usia bayinya saat ini belum bisa untuk ditinggalkan sendiri, dan juga belum bisa diajaknya untuk menempuh perjalanan jauh. Apalagi sembilan hari melahirkan, Alexa juga masih menjalani masa nifas, sehingga mengurangi kenyamanan untuk bepergian jauh.


"Tok.. tok.. tok..." tiba-tiba terdengar suara ketukan tiga kali di pintu kamarnya. Alexa melihat ke arah pintu, kemudian..


"Masuk.. pintu tidak terkunci.." sahut Alexa lirih, kemudian melanjutkan lagi menggulir ponsel untuk mengetahui celah-celah keberadaan suaminya.


Tiba-tiba pintu didorong dari luar, dan terlihat Raveena dengan wajah kusut masuk ke dalam kamar Alexa. Gadis itu seperti kehilangan senyum dan keceriaanya, tanpa menunggu di persilakan, Raveena duduk di sisi ranjang Alexa kemudian membaringkan tubuhnya di atas king size bed. Beberapa saat, Alexa membiarkan adik iparnya berada dalam posisi demikian.


"Kak Lexa... apakah kakak tidak merasa tersiksa seperti yang saat ini Veena alami kak.. Jika dibolehkan berteriak, Raveena pasti sudah berteriak kak.. ingin rasanya memanggil kak Johan.." tiba-tiba Raveena mengungkapkan isi hatinya.


Alexa tersenyum getir, sebenarnya apa yang dirasakannya juga tidak kalah gundah gulananya jika dibandingkan dengan perasaan Raveena. Namun perempuan muda ini tetap bertahan untuk menahannya.


"Sabar.. berdoa.. itu selalu yang kakak sampaikan kepadaku. Raveena sudah berpikir kak, jika sampai satu minggu lagi, kak Ravendr dan Kak Johan belum lagi terdengar kabarnya, Raveena akan menyusul ke Jerman. Jangan mencoba untuk meremehkanku kak.. aku sudah biasa berkeliling negara sendirian tanpa ada teman bersamaku." tidak diduga, Raveena menyampaikan keputusan gilanya.


Alexa terkesiap mendengar rencana nekat gadis itu, kemudian menatap tajam ke mata adik iparnya. tetapi sepertinya tekat dan pendirian Raveena sudah keukeuh dan kuat, terlihat dari tatapan matanya.


"Jangan gegabah Raveena.. jangan-jangan kamu berpikir jika aku sedikitpun tidak memiliki rasa peduli atas kejadian ini. Abhimana ... Veena.. bayiku ini merupakah amanah berat yang harus aku jaga. Darah kak Ravendra ada di dalam tubuh bayiku yang menggemaskan itu, dan beban terberatku adalah memmastikan dirinya selalu aman. " Alexa berbicara pelan,

__ADS_1


"Cobalah bicarakan situasi ini pada papa Abraham dan mama Nancy.. Mungkin mereka punya koneksi, atau bisa mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari informasi keberadaan kak Ravendra dan Johan." lanjut Alexa lagi.


"Kakak minta Veena mengutrakan hal ini pada papa...??? No... papa selalu membiarkan kak Ravendra sendiri, untuk menguji kekuatan katanya. hal itu sudah berlangsung semenjak kakak masih kecil, sehingga hubungan mereka memang tidak begitu akrab. Sudahlah kak... jangan halangi tekadku.. Veena akan mencari kabar kak Johan dan kak Ravend jika sampai satu minggu lagi, tidak ada kabar tentang keberadaannya." ucap gadis muda itu pelan.


Alexa tidak menanggapi perkataan Raveena, matanya saat ini tertarik melihat berita yang ada di depan matanya. Berita yang dipublikasi oleh pemerintah negara Jerman.


"Terjadi kecelakaan dengan adanya ledakan pesawat di pegunungan Alpen, sebuah pegunungan yang membentang di kawasan Eropa. Pihak penyelidik sudah turun untuk melakukan investigasi, namun korban belum berhasil ditemukan." membaca sepenggal berita itu, jantung ALexa berdetak kencang. Perempuan muda itu tidak bisa membohongi hati dan perasaannya.


"Ada apa kak Lexa... kenapa tiba-tiba wajah kakak mendadak pucat seperti ini.." menyadari perubahan wajah tiba-tiba pada kakak iparnya, Raveena langsung duduk dan bertanya pada perempuan itu.


Alexa tidak menjawab, tetapi melihat  reaksi Raveena yang tampak khawatir, akhirnya perempuan muda itu memberikan ponselnya pada adik iparnya itu. Dengan sigap, Raveena mengambil ponsel itu kemudian membacanya sekilas, kemudian..


"Kak Lexa... jangan katakan jika hanya aku yang memiliki rasa khawatir seperti ini kak.. Jangan-jangan.." Raveena tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis muda itu menatap tajam mata kakak iparnya..


"Tidak perlu kamu lanjutkan kata-katamu Veena.. kita berdua juga tidak akan dapat menemukan jawabannya. Kita hanya bisa menunggu.. semoga saja, kabar keberadaan kak Ravend dan Johan segera datang." sahut Alexa sambil tersenyum kecut.


"No.. aku tidak bisa menunggu lagi kakak." tetapi tidak dengan yang terjadi pada Raveena. Tiba-tiba gadis itu turun dari atas ranjang kemudian berdiri. Belum sampai Alexa mencegahnya, Raveena sudah bergegas berjalan keluar dari dalam kamar Alexa..

__ADS_1


**********


__ADS_2