
Dini Hari
Raveena keluar dari kamar yang digunakannya untuk beristirahat. Gadis itu menuju dapur, dan mengambil air mineral untuk mengisi perutnya. Begitu gadis itu meneguk beberapa teguk air mineral, rasa dingin membasahi kerongkongannya. Setelah berada di dapur beberapa saat, Raveena beranjak berjalan menuju ke ruang tengah. Melihat sebagian pengawal tertidur di sofa, dan sebagian di atas karpet, gadis itu tersenyum melihatnya. Terlihat di teras rumah, beberapa tampak berjaga dan ada pula yang tertidur di kursi teras.
"Sebenarnya ramai sekali tempat ini, tapi aku masih merasakan sepi dan sendiri." gadis itu bergumam sendirian.
Perlahan setelah menatap orang-orang yang masih tertidur, Raveena melirik pintu kamar yang masih tertutup. Kamar itu digunakan untuk Johan beristirahat, dan semalam mereka sempat bertatapan sebelum masing-masing bergegas menuju kamar mereka masing-masing.
"Huh.. apakah aku masih akan berharap pada rasa, pada hati seorang laki-laki yang telah mati. Berbagai cara dan upaya sudah aku tempuh, namun sedikitpun semua kata-kata dan sikapku tidak membuat kak Johan tertarik padaku. Padahal.. laki-laki itu juga tidak memiliki kedekatan pada perempuan manapun di dunia ini." Raveena mengangkat satu sudut bibirnya ke atas
"Untuk apa juga aku peduli dan bertahan di tempat ini. Seperti kata kak Ravend.. aku akan kembali ke Canada saja. Aku bisa menemani mama dengan segala hedonisme.. dan menghabiskan uang papa.. Ha.. ha.. ha..." dalam hati, Raveena tertawa sendiri.
Gadis itu kemudian berjalan kembali menuju kamarnya. Melihat ponselnya, Raveena bergegas mengambil ponsel dan dompet serta tas kecilnya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu membawa barang-barang tersebut dengan menyelempangkan di pundaknya, kemudian kembali bergegas keluar dari dalam kamarnya. Perlahan, dengan hati-hati, gadis itu membuka pintu kamar kemudian menutupnya kembali.
Tidak berapa lama, Raveena sudah memutar handle pintu menuju keluar dari dalam rumah. Satu orang pengawal mengangkat wajah, dan beradu pandang dengan gadis itu. Beberapa saat, pengawal yang masih tampak mengantuk itu terlihat seperti kebingungan, namun kemudian duduk tegak di atas kursinya.,
__ADS_1
"Nona muda Raveena mau pergi kemana, pagi buta begini?" dengan penuh selidik, laki-laki itu bertanya pada gadis itu. Tampak kecurigaan melintas dalam tatapan laki-laki itu, karena untuk waktu dini hari bukan waktu yang cocok untuk keluar. Apalagi Raveena adalah seorang gadis, yang tidak mungkin akan berani untuk keluar sendirian.
Raveena tersenyum, kemudian mengenakan sepatu sneaker di kakinya. Beberapa saat kemudian, setelah selesai memasang sneakernya.. gadis itu menatap pengawal yang mengajaknya berbicara itu.
"Mau jalan-jalan pagi.. sangat sayang jika pagi yang segar tidak dinikmati kesegarannya." Raveena akhirnya memberikan tanggapan atas pertanyaan laki-laki itu.
"Perlu ditemani tidak nona muda.. karena di pantai masih terlihat sepi. Biasanya orang-orang akan ramai datang mengunjungi pantai, jika sudah hampir mendekati jam enam pagi. mereka tertarik untuk melihat penampakan sun rise di pagi hari." pengawal menawarkan diri untuk memberikan pengawalan. Laki-laki itu terlihat menunjukkan rasa khawatir.
"Tidak.. kembalilah beristirahat. Aku memang sengaja mencari suasana ketika masih sepi belum ada orang di pinggir pantai. Biar lebih meresap keindahan pagi ini." Raveena melarang laki-laki itu untuk memberinya pengawalan, kemudian gadis itu segera menuruni anak tangga menuju ke halaman rumah. Melihat tekad gadis itu, akhirnya pengawal itu mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Kenapa aku harus paranoid, bukankah keluarga tuan muda Ravendra bukan keluarga sembarangan. Tidak akan yang dapat mengganggu mereka dengan mudah." pengawal itu akhirnya menenangkan dirinya sendiri. Akhirnya hanya dengan sudut matanya, laki-laki itu melihat Raveena berjalan mendekati pintu gerbang.
"Terima kasih pak.." Raveena mengucapkan terima kasih.
Sesampainya di depan pintu gerbang, angin laut menerpa wajah dan tubuh Raveena. Gadis itu merentangkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Terasa hembusan udara pagi tampak memenuhi paru-parunya, kemudian mata jernih Raveena menembus pagi gelap yang ada di depannya. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya ke arah utara.
__ADS_1
*********
Beberapa Saat kemudian
"Sampai dimanakah aku..?" Raveena tersadar jika dirinya sudah terlalu lama berjalan. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu, tetapi Raveena seperti tersadarkan jika sudah berada jauh dari rumah Nyonya Sarah dan Uncle Thomas. Pemukiman rumah-rumah penduduk bahkan sudah tidak dapat terlihat jelas, ketika melihat ke bawah hanya hamparan laut biru yang tampak di hadapannya.
"Kenapa aku tiba-tiba saja sudah berada di atas bukit ini.. aku sama sekali tidak menyadarinya. Bahkan arah dari mana rumah Nyonya Sarah pun aku seperti kehilangan arah. Betul-betul aku seperti dibutakan arah dan tujuan.." Raveena kemudian mengambil ponsel untuk mengaktifkan fitur Google Map. Beberapa kali, gadis itu untuk mencoba menghidupkan, menon aktifkan lagi, kemudian memulainya kembali seperti untuk meyakinkan informasi.
"****.. lengkaplah sudah deritaku hari ini guys.." Raveena tersenyum kecut, karena ternyata di tempat itu, signal Map tidak jelas dapat terkoneksi. Signal ponsel menunjukkan tulisan E. Rupanya saat ini, gadis itu sudah berdiri tepat di puncak bukit Dangas. Sebagai manusia vampire, memang berjalan dalam jarak yang sangat jauh menjadikan Raveena seperti tidak merasa capai sedikitpun. Di atas bukit dekat tanah yang pernah dibebaskan Thomas untuk Alexa, gadis itu melihat ke kanan kiri.
"Kenapa tidak ada seorangpun yang jalan ke tempat ini ya... Mmmm.. tapi ya karena aku kepagian juga sih. Matahari juga belum tampak. sepertinya ini masih sekitar jam lima pagi. Baiklah aku akan tiduran saja disini, menunggu keindahan alam menyaksikan sun rise dari atas bukit sendiri." akhirnya Raveena mencari tempat untuk bersandar. Melihat ada batu datar, dengan pinggirnya merapat pada sebatang pohon besar, gadis itu tersenyum.
"Wush..." dengan menggelembungkan mulutnya, Raveena membuat angin dengan kekuatan vampirenya. Batu yang semula banyak tertutup debu itu akhirnya bersih dengan sendirinya. Batu hitam itu terlihat mengkilat dan sangat bersih, dan sudah layak untuk digunakan Raveena istirahat.
Tidak menunggu lagi, gadis itu kemudian duduk berselonjor dengan punggung bersandar di batang pohon besar tersebut. Hembusan angin pagi terkadang menerbangkan rambut-rambutnya, tetapi Raveena malah merasa menikmatinya.
__ADS_1
"Sangat jarang aku bisa merasakan kesegaran ini, sendiri lagi. Yah,.. anggap saja tempat ini sebagai tempatku untuk melakukan healing..." sambil melihat warna jingga yang sudah muncul di ufuk timur matahari, Raveena bergumam sendiri. Gadis itu menghirup nafas panjang.., kemudian perlahan menghembuskannya lagi secara perlahan. Aktivitas itu dilakukannya beberapa kali..., sampai akhirnya tanpa sadar Raveena tertidur dengan bersandar di batang pohon besar itu,
*********