
Ravendra gelisah menunggu hasil test pack yang diberikan pada istrinya, dimana laki-laki itu tidak tahu apa manfaat dan kegunaanya. Sedangkan Dokter Donny sahabatnya, malah terlihat memejamkan mata di atas kursi panjang di sofa ruang tengah. Johan yang juga tidak memahami maksud Dokter, terlihat gelisah menemani tuan mudanya. Beberapa saat kemudian, maid terlihat keluar dengan membawa test pack hasil pengecekan urine Alexa. Di belakang maid, perempuan muda itu berjalan mengikutinya.
"Kak Ravend.., what for..?" Alexa menunjuk test pack yang dibawa maid, dan diletakkannya di depan Dokter Donny. Ravendra mengangkat kedua bahunya ke atas, memberi isyarat jika diapun juga tidak tahu, maksud dari dicelupkannya test pack ke dalam urine istrinya.
"Donn..., Donny.. wake up guys.. Cepatlah kamu periksa test pack itu, kita penasaran nih, penyakit apa yang diidap istriku. Jika kamu tetap bertahan pada posisimu saat ini, aku tidak akan segan-segan menembak dirimu dengan timah panas." melihat Donny yang masih santai, Ravendra mengancam laki-laki itu.
"Perangai kasarmu itu memang tidak pernah berubah tuan muda Ravendra. Memang test pack sakit, sehingga aku harus melakukan pemeriksaan terhadapnya, Pinter sedikit kenapa, jangan hanya meniduri perempuan saja, tapi tidak pernah peduli dengan akibat yang ditimbulkan." dengan malas Dokter Donny mengangkat tubuhnya, kemudian laki-laki itu duduk dan bersandar pada sandaran sofa.
Tidak langsung melihat pada hasil test pack, laki-laki itu malah mengambil cangkir berisi Americano, kemudian menyesapnya perlahan. Dengan tatapan geram, Johan dan Ravendra menatap tingkah Dokter Donny. Setelah beberapa saat kemudian, barulah dokter itu melihat ke arah test pack yang ada di depannya. Dengan mata terbelalak, dokter itu melihat dua garis merah tercetak jelas di test pack tersebut.
"Miss Alexa.. kesinilah mendekat padaku..!" dengan mata berbinar, Dokter Donny melihat ke arah Alexa, dan meminta gadis itu mendekat kepadanya.
Tanpa menjawab, Alexa langsung mendekati laki-laki sahabat suaminya itu. Tetapi pancaran mata tidak suka diperlihatkan Ravendra dengan jelas. Laki-laki itu turut mendekat pada sahabatnya Donny, kemudian duduk di dekat laki-laki itu memberi batas pada istrinya.
"Miss.., kamu tidak sakit, kamu sehat. Coba julurkan lidahmu sebentar saja..!" Alexa menuruti perintah DOkter Donny, dan dokter itu menyinari lidah dan tenggorokan Alexa dengan menggunakan senter kedokteran. Selain itu, juga menyinari kedua mata Alexa.
__ADS_1
"Sakit apa bro,. istriku. Aku akan hajar kamu jika sikapmu semakin membuatku bingung.." melihat DOnny tidak segera memberi ketegasan jawabannya, Ravendra menarik krah baju yang dikenakan oleh laki-laki itu. Tatapan mata Ravendra seakan ingin membunuh laki-laki itu.
"Stop it... jangan gila dan anarkhi kamu. Istrimu tidak sakit, ada janin di dalam perutnya. You hear it..." dengan nada tinggi, suara Donny memenuhi ruangan.
Alexa menutup mulut dengan menggunakan telapak tangannya, gadis itu seperti tidak mempercayai pendengarannya. Matanya tiba-tiba terasa berkabut, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya. Dengan reflek, tangan Alexa mengusap pelan perutnya.
"Benarkah.., ada janin dalam perutku ini.." ucap Alexa dengan terbata-bata. Dokter Donny tersenyum dan menganggukkan kepala, meyakinkan perempuan muda itu.
Ravendra seperti tersengat setroom, laki-laki itu tidak mampu berkata-kata. Dengan hati-hati, ravendra memeluk istrinya, dan memberikan ciuman di bibir perempuan itu.
*********
Untuk merayakan kebahagiaan dengan hamilnya Alexa, keesokan harinya Ravendra mengadakan syukuran. Laki-laki itu memerintahkan untuk memberikan santunan di semua panti asuhan yang ada di negara Rumania. Demikian pula dengan negara-negara lain, dimana banyak perusahaannya berdiri. Dengan sambungan telpon, laki-laki itu memberi perintah kepada anak buahnya.
Meskipun tidak mau istrinya kecapaian, seluruh kastil yang ditempatinya saat ini dihiasi dengan hiasan bernuansa pink dan biru. Karena mereka belum mengetahui jenis kelamin dari janin yang ada di perut Alexa, sehingga mengambil dua warna itu untuk mewakili kedua jenis kelamin itu. Wajah Ravendra terlihat segar dan cerah, sedikitpun tampang cool dan calm hilang seketika.
__ADS_1
"Akhirnya kamu memberi cucu untuk papa juga Ravendra.., aku pikir selama hidup aku tidak akan menimang cucu darimu.." wajah Tuan Besar Abraham tampak cerah. Begitu mendapatkan kabar tentang kehamilan Alexa menantunya, laki-laki paruh baya langsung pergi melarikan dari Barn Castle. Tidak ada kebahagiaan di usia tuanya, selain mendengar kabar yang menggembirakan ini.
"Papa saja yang sering under estimated dengan putra sendiri. Dari dulu Ravendra selalu mengatakan, pada saatnya nanti ketika Ravendra ketemu dengan gadis yang cocok dan match, akan lahir Ravendra Juniot. Papa yang selalu tidak percaya, malah memaksa Ravendra untuk menikah dengan Maria. Pilihan terbaik adalah kabur meninggalkan keluarga." seperti tidak mau disalahkan, ravendra mengungkit masa lalu. Ketika ratusan tahun lalu, keluarganya memaksa untuk menjodohkan Ravendra dengan putri dari mitra bisnis Abraham.
"Hush.. ada Alexa menantu papa, tidak baik untuk mengungkit masa lalu." melihat Alexa yang tersenyum melihat perdebatan suami dan mertuanya, Abraham merasa tidak enak hati.
"Inilah Alexa istri Ravendra pa.. Dia ini selalu pengertian, memahami semua yang ada pada diri ravendra. Apakah di masa lalu, masa sekarang atau di masa depan. Benarkah honey..?" ravendra memberi ciuman pada Alexa di depan papa dan semua yang hadir di kastil itu.
"Sudahlah Ravendra.., bawa istrimu ke kamar. Papa melihat sejak tadi Alexa sudah kecapaian menerima tamu yang datang. Nanti jika ada yang datang lagi, biar papa saja yang menemuinya dengan Johan. Kamu bawa istrimu istirahat." melihat Alexa yang tampak kelelahan, Abraham langsung memahami keadaan menantunya itu.
"Tidak apa-apa papa.., di kamar paling Alexa juga hanya tidur saja." Alexa merasa malu meninggalkan teman terdekat Ravendra dan mertuanya di ruang tengah itu. Tetapi tidak dengan suaminya, laki-laki itu merasa senang karena seperti mendapatkan kesempatan untuk berdua dengan istrinya.
"Benar yang dikatakan papa honey. Ayo kita istirahat saja, ada Johan dan di depan DOnny juga sudah berada di kastil ini." tanpa menunggu persetujuan dari Alexa, Ravendra mengangkat tubuh Alexa dengan bridal style, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Untuk menjaga keseimbangan, kedua tangan Alexa digantungkan di belakang leher suaminya. Tanpa merasa keberatan, Ravendra dengan postur tegap membawa Alexa.
Sesampainya di kamar, perlahan-lahan Ravendra membaringkan tubuh ALexa di atas ranjang. Sebuah ciuman dalam di bibir Alexa, kembali diberikan oleh laki-laki itu. Tidak lama kemudian, ciuman itu pindah ke perut gadis itu. Sebenarnya begitu kulit mereka bersentuhan, tubuh Ravendra sudah bereaksi. Tetapi mengingat pesan yang disampaikan Dokter Donny, laki-laki itu berusaha dengan sekuat tenaga mengendalikan perasaannya.
__ADS_1
*********