
Wajah Robin tiba-tiba menjadi berbinar, dan dengan tatapan kesombongan laki-laki itu melihat ke arah Ravendra dan Johan. Tidak memahami apa yang dilakukan oleh Robin, kedua laki-laki itu mengarahkan pandangan matanya mengikuti pandangan mata Robin. Mereka terjenggirat melihat Alexa yang sedang dipegangi oleh beberapa orang di belakangnya. Hanya yang menjadikan keheranan bagi mereka, perempuan itu sama sekali tidak terlihat panik dan gugup. Alexa malah tersenyum melihat ke kanan, kiri dan menoleh ke belakangnya.
"Berani kamu menyentuh istriku Robin.., aku akan meluluh lantakkan kastil ini. Akan aku buat dirimu dan semua orang di castle ini menjadi daging panggang." melihat kenyataan itu. Ravendra membuat perkataan menegur laki-laki itu. Robin menolehkan wajahnya melihat ke arah Ravendra, kemudian tertawa lebar.. seakan meremehkan kedua laki-laki yang berdiri di depannya itu.
"Ha..., ha..., ha... seperti seorang majikan kehilangan kelinci putih mainannya. Ternyata perempuan itu menjadi titik kelemahanmu tuan muda... ha.. ha.., ha.., kita akan melihat apa yang terjadi dengan perempuan itu." ucap Robin sambil terus mentertawakan Ravendra.
"Berani orang-orangmu melukai istriku, bahkan hanya satu helai rambutnya terlepas saja, aku akan membunuhmu. Dimana kamu sendiri tidak pernah bisa membayangkan apa yang terjadi Robin.." dengan tatapan sengit, Ravendra memberi ancaman pada Robin,
Tetapi laki-laki itu tersenyum meremehkan Ravendra..
"Dor.., dor.., dor... blarr..." tiba-tiba rentetan tembakan terdengar membahana ke seluruh ball room. Banyak tubuh manusia vampire tergeletak, karena ternyata si pelaku tembakan sudah menyiapkan diri menggunakan peluru perak.
Ravendra terkejut, tetapi wajah Robin terlihat lebih pucat melihat pelaku penembakan. Ravendra langsung mengangkat tubuhnya, laki-laki itu terbang dan mencari Alexa di kerumunan manusia. Melihat seorang perempuan yang merapatkan tubuhnya ke dinding ball room, Ravendra langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Honey..., are you okay...?" dengan perasaan dilanda kekhawatiran, Ravendra bertanya pada Alexa yang menatap kekacauan dengan penuh tanda tanya. Melihat kemunculan suaminya di dekatnya, Alexa langsung berlari dan menubruk tubuh tegap laki-laki itu. Ravendra langsung memeluk tubuh Alexa, kemudian mengangkatnya dan membawanya ke tempat yang terlihat lebih sepi.
"Semuanya berdiam di tempat, jangan ada yang bergerak.." tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dan memenuhi ruangan ball room. Semua orang terdiam dan terkesima, mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk. Terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan gurat wajah ketampanan tampak berjalan memasuki ruangan tersebut. Melihat kedatangan laki-laki itu, Ravendra menjadi sedikit terkejut. Laki-laki itu mencoba menyembunyikan wajahnya, dan berusaha melindungi Alexa dari tatapan orang-orang yang terlihat sedang berjalan memasuki ball room.
"What happend kak..?" dengan tatapan polosnya, ALexa bertanya pada Ravendra.
"Bukan sesuatu hal yang penting honey.. Yang paling penting adalah bagaimana kita berdua bisa meninggalkan tempat ini. Aku akan membawamu, tenanglah.." seperti ada yang ditutupi dengan rombongan yang sedang memasuki ball room, Ravendra mengajak Alexa keluar dari dalam ruangan tersebut.
Alexa mengangkat wajahnya ke samping, perempuan itu bermaksud untuk mengintip dan melihat ada kejadian apa yang terjadi. Tetapi telapak tangan Ravendra dengan cepat menutup kedua mata Alexa, kemudian mengangkat tubuh perempuan itu. Tidak berapa lama kemudian, Ravendra sudah membawa Alexa pergi keluar meninggalkan ruangan tersebut. Tampak laki-laki paruh baya yang baru saja memasuki ball room, melihat ke arah mereka. Tetapi Ravendra sudah terbang melesat keluar, meninggalkan ball room.
*********
"Tuan Besar Abraham... ijin Johan memberikan salam atas kedatangan Tuan besar di Transylvania., Kita akan menyediakan semuanya, jika Tuan besar memberi kabar sebelumnya.." melihat laki-laki paruh baya itu, Johan dengan sigap langsung mengucapkan salam untuk menyambut laki-laki yang disebut dengan panggilan Abraham.
__ADS_1
"Johan.., ada Johan biasanya ada juga Ravendra. Anak sialan itu sudah kabur duluan, anak itu mengelabuiku dengan membawa lari seorang gadis. Apakah perempuan itu yang menurut kabar yang beredar, yang sudah melangsungkan pernikahan dengan putraku Ravendra.." ternyata laki-laki paruh baya itu adalah tuan besar Abraham, ayahnda dari Ravendra.
Mendengar perkataan tuan besarnya itu, Johan tersenyum malu. Terkait pernikahan tuan mudanya dengan Alexa, johan memiliki keterlibatan yang cukup besar, sehingga jika Tuan Abraham marah, maka diapun juga memiliki hak untuk mendapatkan amukan kemarahan dari laki-laki paruh baya itu, sedangkan Robin, laki-laki itu menundukkan wajah tidak berani mengangkat wajahnya melihat pada Tuan Abraham.
"Ijin untuk menyambut kedatangan tuan besar. Ijin melaporkan juga tuan besar, di depan saya ini adalah Tuan Robin, yang seharusnya tadi sudah melakukan pemberkatan untuk dilantik menjadi pemimpin manusia vampire di seluruh dunia. Hanya saja, Tuan muda dan beberapa manusia vampire lainnya sudah menggagalkan acara itu." Johan melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami.
"plak.. plak..." tiba-tiba tidak diduga, Tuan Besar Abraham memberi tamparan pada laki-laki itu.
"Pelantikan sampah. Berani-beraninya kamu mempermainkan koloni manusia vampire dengan permainan anak kecilmu itu. Kamu sudah membuat kekacauan di tempat ini, dan sudah bertahun-tahun di koloni kita tidak pernah ada pelantikan pengurus yang baru. Hal itu terjadi karena belum ditemukan figur yang cocok dan tepat yang membawahi kepemimpinan manusia vampire. Hingga aku mendapatkan kabar, tentang adanya pelantikan sampah, abal-abal seperti ini." berbagai perkataan sumpah serapah diberikan oleh tuan besar, dan Johan hanya menundukkan kepala mendengarnya.
Sudah sekian lama, sejak dia ditugaskan untuk mendampingi tuan muda Ravendra, laki-laki itu tidak mendengar kemarahan yang dilakukan oleh Tuan besar Abraham. Kali ini, Johan mendengarnya sendiri. Terlihat Robin juga tidak berani untuk mengangkat wajahnya, laki-laki itu menundukkan wajah, tidak berani menatap wajah tuan besar yang sedang marah,.
"Siapa yang memiliki ide untuk menyelenggarakan acara ini?? Apakah God Father Asia yang memberimu ijin Robin...?" sebagai salah satu tim penasehat yang juga merangkap sebagai pembina manusia vampire, Tuan Abraham bertanya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Ampuni saya tuan besar.., hal ini diluar kemauan hamba. Orang-orang di Transylvania ini yang sudah memaksa saya untuk mengambil alih kepemimpinan. Dan beberapa waktu lalu, saya juga sudah melakukan konfirmasi pada Tuan muda Ravendra, dan tuan muda sudah menjawab dengan tegas bahwa tidak menginginkan posisi ini. Jadilah.., saya mengikuti keinginan itu tuan besar.. mohon ampuni saya..." dengan meratap, Robin menghiba permohonan maaf pada tuan besar.
***********