Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Perlindungan Kastil


__ADS_3

Alexa tetap belum bisa menerima keadaan Ravendra yang terbaring lunglai di depannya. Laki-laki yang selalu melindungi dan menyelamatkannya, kali ini tergolek tidak berdaya. Air mata tanpa henti mengalir membasahi tangan dan pergelangan tangan laki-laki itu, dan..


"Bip.., bip..." Alexa tertegun, gadis itu merasakan ada reaksi pada gelang besi yang ada di tangan suaminya. Tiba-tiba gadis itu merasa ada pergerakan pada Ravendra.


"Kak.., kak Revend...is that you...?" Alexa meletakkan tangan Ravendra kembali ke bawah, gadis itu berdiri dan melihat ke arah wajah Ravendra dengan seksama. Perlahan bulu mata laki-laki itu bergetar, dan diikuti oleh matanya yang lama kelamaan terbuka lebar.


"Ho.., honey..., aku ada dimana?" melihat wajah Alexa berada di atas wajahnya, laki-laki itu bertanya dengan suara lirih. Ravendra berusaha mengangkat tangannya ke atas, untuk mengusap air mata yang membasahi wajah Alexa istrinya.


Alexa mendekatkan wajahnya  dan menyandarkan di dada laki-laki itu. Perlahan Ravendra mengusap rambut di kepala Alexa dengan lembut. Setelah beberapa saat, Alexa teringat gelang besi yang berada di pergelangan tangan suaminya. Gadis itu langsung mengangkat kembali wajahnya ke atas.


"Kak Ravend..., bagaimana aku bisa membantu kak Ravend.., gelang apakah ini?? Apakah aku bisa melepaskannya, agar kak Ravend sehat kembali.." Alexa memberondong Ravendra dengan pertanyaan, dan laki-laki itu mencoba untuk tersenyum. Wajah Ravendra masih terlihat lemah, kemudian menggeleng lemah,


"Alexa tidak percaya jika gelang besi ini tidak bisa dipatahkan, tidak percaya." Alexa menggelengkan kepalanya,


"Honey..., honey..., dengarkan aku.. Gelang ini merupakan salah satu alat yang disimpan dan dimiliki oleh kastil Santorini. Gelang ini digunakan untuk menyerap kemampuan manusia vampire yang dari hasil penyelidikan, dikatakan bersalah atau menyalahi peraturan manusia vampire. Dan aku salah satu yang dianggap telah melakukan sebuah kesalahan." ucap Ravendra dengan lirih berusaha untuk menjelaskan pada Alexa.


"Aku akan mencari alat, dan minta para pengawal untuk menyediakannya. Alexa tidak percaya jika gelang ini tidak bisa dilepaskan, bull ****. Alexa tidak percaya.." Alexa mengabaikan perkataan Ravendra. Gadis itu berpikir menurut pemikirannya sendiri. Ravendra hanya tersenyum kecut melihat ekspresi gadis cantik di depannya, yang sudah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Honey.., kemana Johan?" tiba-tiba terdengar suara letih Ravendra menanyakan keberadaan Johan. Alexa menggelengkan kepala, gadis itu memang tidak tahu keberadaan laki-laki itu. Setahunya, Johan berlari dan melompat ke atas helikopter yang digunakan untuk membawa Ravendra pergi. Kemudian gadis itu melihat helikopter itu meledak, dan setelah Alexa diajak untuk mendekati pesawat yang meledak itu, dia malah terbangun di kastil ini.


"Alexa tidak tahu kak.., sebentar aku akan mencarinya. Siapa tahu kak Johan tahu bagaimana cara untuk melepaskan gelang ini. Tunggu sebentar kak Ravend.., ALexa akan mencari kak Johan untuk datang ke sini." Alexa berpamitan untuk keluar kamar mencari keberadaan Johan. Ravendra hanya tersenyum getir melihat apa yang dilakukan gadis itu.


Alexa mendorong pintu kamar.., kemudian melihat maid yang masih setia menunggu di depan kamar Alexander.


"Apakah kalian melihat ada dimana kak Johan..?" Alexa langsung bertanya pada maid tentang keberadaan Johan.,


"Maaf Nona Muda.., Tuan Johan beberapa waktu lalu dengan beberapa pengawal sedang pergi menuju ke kastil Santorini untuk mencari keberadaan Rahib asli kastil tersebut." dengan wajah  cemas, maid menceritakan ada dimana Johan.


*********


Pengawal yang membawa Johan, Thomas dan ketiga Rahib Kastil Santorini akhirnya memasuki gerbang kastil Ravendra. Laki-laki itu memarkirkan mobil di depan kastil. Setelah mobil berhenti, Johan membuka pintu sendiri, dan segera meminta Rahib untuk segera keluar dari dalam mobil.


"Rahib.., mohon untuk keluar. Kita sudah sampai di kastil Tuan Muda Ravendra, kami membutuhkan bantuan para Rahib untuk melepaskan gelang besi di tangan Tuan Muda.." ucap Johan. Para Rahib segera keluar mengikuti apa yang dikatakan Johan. Thomas juga mengikuti ketiga rahib itu turun dari dalam mobil.


Ke tiga rahib itu tidak langsung masuk ke dalam kastil, tetapi mengamati bangunan kastil sambil tersenyum. Johan mengerenyitkan dahi, merasa bingung dengan perilaku yang ditunjukkan oleh kedua orang itu, Para Rahib mengangkat tangan ke atas kemudian menggerak-gerakkan sebentar.

__ADS_1


"Ada apa Rahib, sepertinya ada sesuatu yang Rahib amati dari bangunan kastil ini?" merasa penasaran dengan sikap Rahib, Johan memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak ada yang penting Johan.., hanya saja bangunan kastil ini memiliki perlindungan yang lebih bagus daripada dengan kastil tempat kami berpusat di Santorini. Sepertinya Ravendra memperhatikan detail-detail kecil untuk mengamankan posisi manusia vampire disini. Tidak akan ada yang bisa sembarangan masuk ke kastil ini, jika tidak mereka akan celaka," sambil tersenyum., Rahib menanggapi pertanyaan Johan.


Johan tersenyum dan menganggukkan kepala. Laki-laki itu teringat bagaimana dia harus menuruti keinginan Ravendra untuk mendapatkan bahan-bahan material sebagai pondasi untuk membangun kastil, Mereka harus mendaki gunung, bahkan mencari air di sungai Nil. Tetapi waktu itu, dia  dan beberapa pengawal menduga hal yang buruk pada Tuan Mudanya, ternyata baru saat ini Johan mendapatkan pencerahan dari kalimat yang diucapkan Rahib.,


"Iya Rahib..., Tuan Muda dulu memerintahkan kepada kami untuk mendapatkan material untuk keperluan bangunan ini. Dulu kami hanya menggerutu karena Tuan Muda tidak pernah menceritakan tujuan sebenarnya dari apa yang di perintahkan." Johan menanggapi Rahib dengan tersenyum pahit.


"Hmmm..., iya. Ravendra memang penuh dengan strategi, harusnya anak itu memang yang pantas untuk menjadi pemimpin manusia vampire di masa depan." ucap salah satu Rahib sambil mengalihkan pandangannya,


"Tapi sepertinya kita harus segera melihat pada kondisi Ravendra Rahib..., karena laki-laki itu tidak akan dapat bertahan lama, jika gelang besi masih melingkar di pergelangan tangannya. Kita tidak boleh membuang-buang waktu disini saja." untungnya Thomas segera mengingatkan tujuan awal mereka berkunjung ke kastil itu.


"Oh iya.., baiklah.. Kita harus segera menemui Ravendra." akhirnya mereka segera masuk ke dalam kastil dipandu oleh Johan yang berjalan di depan. Mata ketiga Rahib tampak berbinar begitu mereka memasuki kastil bagian dalam. Penataan furniture maupun ornamen yang ada di dalam kastil, betul-betul memperhatikan estetika dan memiliki fungsi perlindungan yang tinggi.


Para maid segera menyingkir ketika melihat Johan masuk dengan empat orang di belakangnya. Segera mereka kembali pada aktivitas di dapur untuk menyiapkan jamuan pada tamu-tamu yang dibawa oleh Johan.


*********

__ADS_1


__ADS_2